Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, dalam tradisi pendidikan Islam, ilmu dan adab adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan. Secara psikologi pendidikan, adab adalah kesiapan mental dan kebersihan jiwa (tazkiyatun nafs) seorang murid untuk menerima informasi baru. Tanpa adab, ego manusia akan mengunci pintu hatinya dari kebenaran. Oleh karena itu, para ulama terdahulu selalu mempelajari adab puluhan tahun sebelum mereka mulai mempelajari inti dari sebuah ilmu.

Ilmu itu sifatnya suci, dan ia hanya akan bersemayam di tempat yang suci pula. Adab yang paling utama adalah ikhlas karena Allah dan menghormati guru yang menjadi wasilah (perantara) sampainya ilmu tersebut kepada kita.

Allah SWT berfirman tentang bagaimana seorang murid (Nabi Musa) meminta izin dengan penuh ketundukan dan sopan santun kepada gurunya (Nabi Khidir):

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

"Musa berkata kepada Khidir: 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?'" QS. Al-Kahfi: 66

Ketika adab telah ditegakkan, maka Allah akan mengalirkan keberkahan ilmu ke dalam dada kita. Sebaliknya, kesombongan akan menutup jalan ilmu itu sendiri.

Rasulullah SAW bersabda:

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَتَعَلَّمُوا لِلْعِلْمِ السَّكِينَةَ وَالْوَقَارَ وَتَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ

"Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah untuk ilmu tersebut ketenangan dan kewibawaan, serta merendahdirilah (bertawadulah) kepada orang yang kamu menuntut ilmu darinya. (. Al-Thabarani)

2. Pelajaran dan Pesan

Kepintaran tanpa adab hanya akan melahirkan keangkuhan, sedangkan keterbatasan yang disertai adab akan melahirkan kemuliaan. Nilai seorang penuntut ilmu tercermin dari bagaimana dia memperlakukan bukunya, bagaimana dia mendengarkan gurunya, dan bagaimana dia menghargai perbedaan pendapat di antara sesama penuntut ilmu.

Mari kita tengok kisah Ibnu Abbas RA, seorang sepupu Rasulullah SAW yang juga ulama besar di kalangan sahabat. Meskipun beliau memiliki nasab yang sangat mulia (keluarga Nabi), beliau tidak pernah sombong. Suatu hari, beliau ingin belajar kepada Zaid bin Thabit RA. Ibnu Abbas mendatangi rumah Zaid, namun mendapati Zaid sedang tidur siang.

Apakah Ibnu Abbas mengetuk pintu dengan keras atau memanggil-manggilnya? Tidak. Beliau memilih duduk di depan pintu rumah Zaid di atas padang pasir yang panas, membiarkan angin menyemburkan debu ke wajahnya, demi menunggu sang guru terbangun karena tidak ingin mengganggu istirahatnya.

Saat Zaid keluar dan terkejut melihat sepupu Nabi kepanasan di depan pintunya, Ibnu Abbas dengan lembut berkata, "Beginilah kita diperintahkan untuk memperlakukan ulama-ulama kita." Sungguh mengharukan. Bandingkan dengan potret menyedihkan hari ini, di mana ada murid yang berani membentak gurunya, menyindirnya di media sosial, atau bahkan melaporkannya ke polisi hanya karena ditegur saat berbuat salah.

Adab dalam menuntut ilmu itu ibarat wadah atau cangkir kosong yang diletakkan di bawah kucuran mata air. Air yang jernih dan segar (ilmu) hanya akan tertampung dengan baik jika cangkirnya bersih dan posisinya berada di bawah pancuran (tawadu/merendah diri di hadapan guru).

Jika cangkir itu kotor (hati yang penuh maksiat) atau posisinya diletakkan lebih tinggi daripada pancuran airnya (merasa lebih pintar dari guru), maka sampai kapan pun air ilmu itu tidak akan pernah bisa masuk dan menetap di dalamnya. Ia hanya akan tumpah sia-sia.

Ada kisah tentang seorang pemuda yang baru belajar satu semester di perkuliahan agama. Ketika pulang kampung saat liburan, dia merasa sudah menjadi ulama besar. Saat shalat berjamaah di masjid desa, sang imam tua membaca ayat yang menggunakan pilihan qira'ah (cara baca) yang sah namun jarang didengar si pemuda.

Selesai shalat, dengan nada menggurui dan suara keras di depan jamaah lain, si pemuda menegur, "Pak Imam, bacaan Anda tadi keliru dan tidak sesuai tajwid modern yang saya pelajari di kota!"

Sang imam tua tersenyum, lalu menyodorkan mushaf Al-Qur'an besar dan kitab tafsir padanya seraya berkata, "Oh begitu ya Nak? Tolong tunjukkan di halaman berapa letak kelirunya, mata Bapak sudah agak rabun."

Si pemuda langsung gelagapan, membolak-balik halaman kitab dengan tangan gemetar karena dia sendiri sebenarnya belum hafal posisi ayatnya. Akhirnya dia berbisik, "Waduh Kek, kayaknya halaman bab itu ketinggalan di kos-kosan saya di kota."

Hikmahnya: Jangan sampai baru belajar satu-dua lembar halaman ilmu, kita sudah kehilangan adab dan merasa berhak menghakimi orang-orang yang telah berjuang menghidupkan ilmu puluhan tahun sebelum kita lahir. Adab mengajarkan kita untuk tahu diri dan tahu menempatkan diri.

3. Kesimpulan dan Penutup

Sahabat sekalian, adab adalah perhiasan bagi orang yang berilmu. Tanpa adab, ilmu yang banyak hanya akan menjadi bumerang yang mencelakai diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Sebelum kita sibuk memperbanyak hafalan dan wawasan, mari kita sibuk membenahi adab di dalam dada kita. Hormatilah para guru, muliakanlah majelis ilmu, dan jagalah kebersihan hati agar cahaya ilahi sudi mampir dan menetap menjadi penuntun hidup kita.

Semoga Allah SWT senantiasa menghiasi diri kita dengan akhlak yang mulia, serta mengaruniakan kita ilmu yang berkah dan bermanfaat dunia hingga akhirat.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie