Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, dalam kajian neurosains dan psikologi positif, proses belajar atau menuntut ilmu terbukti dapat menjaga fleksibilitas otak (neuroplasticity) dan memberikan kepuasan batin yang mendalam. Namun dalam Islam, menuntut ilmu bukan sekadar investasi kecerdasan otak, melainkan sebuah ibadah agung yang bertabur garansi kemuliaan langsung dari Allah dan rasul-Nya.
Ketika seseorang melangkah keluar rumah untuk menghadiri majelis ilmu atau membuka buku dengan niat belajar, saat itu juga seluruh alam semesta memberikan apresiasi tertinggi. Makhluk-makhluk suci di langit dan di bumi, bahkan hingga ikan-ikan di lautan dalam, ikut sibuk memohonkan ampunan untuk sang penuntut ilmu.
Allah SWT menegaskan keutamaan kedudukan mereka:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima Pelajaran( QS. Az-Zumar: 9 )
Tidak hanya itu, menuntut ilmu juga dinilai sebagai investasi abadi yang tidak akan terputus oleh kematian. Ketika tabungan materi kita ditinggalkan di dunia, tabungan ilmu justru menjadi aset yang terus mengalirkan pahala di alam kubur.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya." HR. Muslim
2. Pelajaran dan Pesan
Keutamaan menuntut ilmu mengajarkan kita pesan moral tentang pentingnya menjadi manusia yang visioner. Kita diajak untuk tidak menjadi hamba yang kerdil, yang hanya memikirkan urusan perut dan kesenangan sesaat. Menuntut ilmu mendidik kita untuk memiliki mentalitas pemberi manfaat, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain melalui bekal ilmu yang dimilikinya.
Mari kita kenang kisah perjuangan seorang tabi'in besar, Jabir bin Abdullah. Suatu hari, beliau mendengar ada sebuah hadis tentang hari kiamat yang dikuasai oleh seseorang di kota Syam (Damaskus), sementara beliau berada di Madinah. Demi memverifikasi kebenaran satu hadis saja, Jabir rela membeli seekor unta dan menempuh perjalanan membelah gurun pasir yang panas dan berbahaya selama satu bulan penuh.
Bayangkan, sebulan perjalanan, menembus badai gurun, menahan haus dan lapar, hanya demi memetik satu kalimat dari lisan Rasulullah SAW. Bandingkan dengan kita hari ini: ilmu berada dalam genggaman layar ponsel, tapi kita sering kali terlalu malas bahkan hanya untuk membaca satu artikel yang bermanfaat atau menyimak video edukasi sampai habis. Sungguh sebuah realitas yang menyedihkan atas hilangnya rasa syukur kita terhadap kemudahan akses ilmu.
Keutamaan menuntut ilmu itu ibarat seseorang yang menanam pohon kurma di tengah padang pasir. Menuntut ilmu di awal waktu terasa berat, melelahkan, dan butuh kesabaran ekstra saat menyiramnya dengan ketekunan. Namun, ketika pohon itu tumbuh besar, akarnya akan mengikat air di dalam tanah sehingga tanah di sekitarnya menjadi subur (mengangkat derajat keluarga dan lingkungan). Pada akhirnya, pohon itu akan terus berbuah manis, memberikan keteduhan bagi orang yang kepanasan, dan buahnya tetap bisa dinikmati bahkan setelah sang penanam sudah tiada.
Ada cerita tentang seorang pemuda malas yang datang ke sebuah majelis ilmu hanya untuk numpang tidur di barisan paling belakang karena ruangan utamanya ber-AC sejuk. Saat pengajian selesai, sang ustaz membagikan kotak makanan kepada semua jamaah yang hadir. Si pemuda terbangun, langsung menyambar kotaknya, dan berkata dengan bangga, "Wah, benar kata ustaz tadi sebelum saya tidur, menuntut ilmu itu memang benar-benar meluangkan rezeki dan membawa berkah yang instan!" Temannya di sebelah menyahut, "Berkah matamu! Kamu tadi tidak menuntut ilmu, kamu cuma menuntut hak makan siang lewat jalur tidur!"
Hikmahnya: Memang benar menuntut ilmu itu membawa berkah dan mempermudah rezeki, tapi jangan sampai kita hanya mencari "fasilitas" atau hasil instannya saja tanpa mau merasakan lelahnya proses belajar. Keberkahan ilmu itu hadir mengiringi tetesan keringat dan kesungguhan kita dalam memahami kebenaran.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saaaudara dan saudari yang berbahagia, , keutamaan menuntut ilmu dalam Islam bukanlah sebuah janji kosong. Ia adalah ketetapan ilahi yang memuliakan manusia dari makhluk lainnya. Ilmu adalah mahkota spiritual yang tidak akan bisa dicuri oleh siapa pun, dan ia akan terus menjaga pemiliknya di kala harta justru harus dijaga oleh pemiliknya. Jangan pernah merasa tua atau terlambat untuk belajar, sebab kemuliaan hidup ini hanya dianugerahkan kepada mereka yang tiada henti menghidupkan rindu pada ilmu.
Semoga Allah SWT menguatkan langkah kaki kita, meluangkan waktu kita, dan mengistiomahkan hati kita dalam barisan para penuntut ilmu yang dicintai-Nya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie