Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan.
Sahabat yang kokoh imannya,salah satu ujian terberat dalam hidup ini adalah ketika kita harus mempertahankan sebuah keputusan yang benar di tengah kepungan situasi yang sulit dan badai opini publik yang menyudutkan. Sering kali, saat kita memilih untuk berhijrah, jujur, atau teguh memegang prinsip syariat, lingkungan di sekitar kita justru menghujani kita dengan cibiran, tekanan, bahkan ancaman yang menggoyang kestabilan jiwa.
Namun, di sinilah letak kepahlawanan iman seorang mukmin yang sejati. Ketika ia mengambil keputusan demi Allah, pandangannya langsung terkunci pada rida Allah, sehingga ia tidak lagi memedulikan seberapa besar badai yang sedang mengamuk di sekelilingnya. Iman yang sejati bertindak sebagai pasak bumi yang menancap kuat di dalam dada, membuat jiwa tetap tenang meski dunia di luarnya sedang berguncang.
Mari kita tadaburi bagaimana Al-Qur'an mengabadikan keteguhan iman yang luar biasa dari para penyihir Firaun yang baru saja bertaubat. Ketika mereka diancam dengan hukuman yang amat keji oleh Firaun yang arogan, mereka menjawab dengan penuh ketenangan:
قَالُوا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِي هَٰذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
"Mereka (para penyihir) berkata: 'Kami tidak akan memilih engkau daripada bukti-bukti nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami dan daripada (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan! Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan dunia ini saja'." (QS. Taha: 72)
إِنَّا آمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطَايَانَا وَمَا أَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِ ۗ وَاللَّهُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
"Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah adalah yang terbaik (pahala-Nya) dan yang paling kekal (siksaan-Nya)'." (QS. Taha: 73)
Keteguhan seperti inilah yang selalu dipinta oleh Rasulullah SAW dalam doa-doanya yang basah. Beliau mengajarkan kita sebuah hadis yang menjadi pegangan utama di kala situasi tidak menentu:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Dari Anas bin Malik ia berkata: "Rasulullah SAW memperbanyak membaca doa: 'Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu'." (HR. Tirmidzi)
2. Pelajaran dan Pesan
Pesan moral yang sangat tinggi dari peristiwa bersejarah ini adalah: Kekuasaan makhluk itu ada batasnya, sedangkan kekuasaan Allah tidak bertepi. Orang yang bijaksana tidak akan mengorbankan keyakinan jangka panjangnya demi menghindari tekanan jangka pendek dari manusia. Mengapa para penyihir itu mendadak menjadi begitu berani? Karena kacamata batin mereka telah terbuka. Mereka menyadari bahwa Firaun, dengan segala bala tentara dan ancamannya, hanyalah seorang manusia lemah yang hanya bisa menyentuh jasad fisik mereka di dunia yang fana, namun tidak akan pernah bisa menyentuh kebahagiaan ruhani mereka di akhirat yang abadi.
Bayangkan suasana pagi itu di alun-alun kota Mesir kuno. Beberapa jam sebelumnya, para penyihir itu adalah orang-orang yang sujud menyembah berhala, berlutut meminta upah dan kedudukan di dekat takhta Firaun. Namun begitu cahaya kebenaran menyentuh hati mereka, segalanya berubah dalam sekejap mata.
Firaun berteriak dengan wajah memerah menahan murka yang luar biasa: "Akan kupotong tangan dan kakimu secara silang, lalu akan kusalib kalian semua di batang pohon kurma!" Itu bukan ancaman kosong; itu adalah hukuman mati yang paling menyiksa dan menghinakan pada zaman itu.
Suasana menjadi mencekam, rakyat banyak terdiam ketakutan. Namun, lihatlah para lelaki yang baru saja beriman itu. Tidak ada satu pun yang menangis meminta ampun, tidak ada yang berlutut memohon belas kasihan Firaun agar nyawa mereka diselamatkan. Tubuh mereka mungkin gemetar menahan perih saat algojo mulai menjalankan tugasnya, darah mereka mengalir membasahi batang-batang pohon kurma, namun wajah mereka menatap ke langit dengan senyuman yang teduh.
Mereka gugur sebagai syuhada di hari yang sama saat mereka pertama kali mengenal iman. Sebuah drama kesetiaan yang menguras air mata, membuktikan bahwa jika Allah sudah bertahta di dalam hati, kematian ragawi hanyalah sebuah jembatan kecil menuju pelukan kasih sayang-Nya.
Pernahkah Anda berdiri di tepi pantai dan melihat sebuah batu karang yang besar? Setiap hari, siang dan malam, batu karang itu dihantam oleh ombak yang menggulung keras. Angin topan bertiup menerpanya, dan air laut yang asin terus mencoreng permukaannya.
Apakah batu karang itu bergeser atau menangis mengikuti arah arus ombak? Tidak. Ia tetap tegak berdiri karena akarnya tertanam jauh di dasar bumi.
Di era digital ini, opini publik, cyberbullying, komentar negatif, dan tekanan tren lingkungan adalah seperti ombak laut tersebut. Manusia yang tidak memiliki pasak iman di hatinya akan bertindak seperti buih di lautan—terombang-ambing ke sana kemari mengikuti ke mana arah angin netizen bertiup. Namun, seorang mukmin sejati adalah batu karang itu; ia tidak akan bergeser satu milimeter pun dari syariat, walau dihantam jutaan komentar negatif.
Zaman sekarang ini, tingkat keteguhan iman sebagian kita memang agak unik dan "tipis-tipis". Jangankan diancam mau disalib di pohon kurma seperti para penyihir Firaun; baru diancam tidak diajak ikut kumpul arisan atau di-unfollow oleh teman-teman di media sosial saja, prinsip agamanya langsung goyah!
Ada orang yang sudah mantap berhijrah untuk menutup aurat dengan sempurna atau meninggalkan transaksi yang subhat. Begitu datang ke acara reuni, teman-temannya menyindir halus: "Aduh, kamu sekarang kok penampilannya jadi kaku banget sih? Kayak orang tua aja, gak asyik ah!"
Pulang dari reuni, mukanya langsung ditekuk, merenung di depan cermin, lalu besoknya jilbabnya langsung dilepas lagi karena takut dibilang "nggak gaul".
Ini kan lucu. Kita ini mau mencari rida Allah atau mau mencari rida "panitia reuni"? Kita sering kali takut dikucilkan oleh manusia yang kalau kita sakit pun belum tentu mereka mau menjenguk, tapi kita santai saja saat dikucilkan oleh penduduk langit karena melanggar aturan Allah. Ingat, jempol netizen atau pandangan sinis tetangga itu tidak akan bisa menolong kita saat malaikat Munkar dan Nakir mulai bertanya di dalam kubur. Jadi, kalau ditertawakan karena kita memilih jalan yang benar, senyumin saja sambil bilang dalam hati: "Maaf, casing saya memang kuno di mata kalian, tapi sistem operasi hati saya terkoneksi langsung dengan langit!"
3. Kesimpulan dan Penutup
Sahabat sekalian,keteguhan iman di tengah tekanan situasi adalah mahkota tertinggi seorang hamba Allah. Ketika Anda dihadapkan pada pilihan untuk mempertahankan kebenaran namun risikonya Anda harus kehilangan jabatan, kehilangan teman, atau menderita secara materi, ingatlah ucapan agung para penyihir Firaun: "Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan dunia ini saja."
Dunia ini terlalu singkat untuk diisi dengan ketakutan pada penilaian manusia. Tetaplah melangkah di atas jalan rida Allah, biarkan badai opini bertiup sekencang apa pun, karena badai pasti akan berlalu, namun pahala dari keteguhan hati Anda di hadapan Allah SWT akan abadi selamanya.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie