Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, mari sejenak kita tenangkan hati, menjauh dari hiruk-pikuk dunia untuk menyirami jiwa kita dengan hikmah.
Secara ilmiah spiritual, ilmu dalam Islam diturunkan sebagai sarana untuk menumbuhkan rasa khosyah—rasa takut, tunduk, dan khusyuk kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tujuan utama kita menuntut ilmu adalah agar kita tahu bagaimana cara menghamba dan beramal dengan benar, bukan agar kita memiliki "tongkat kekuasaan" untuk merendahkan sesama hamba.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dengan sangat indah mengenai tujuan ilmu ini:
اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
"Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu) Sesungguhnya , Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun." ( QS : Fathir : 28 )
Ketika niat belajar bergeser menjadi ajang untuk unjuk kekuatan atau mencari kedudukan ragawi di mata manusia, maka ilmu tersebut kehilangan berkahnya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengingatkan kita agar selalu meluruskan niat dalam menuntut ilmu melalui sabdanya:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnyanya ditujukan untuk mencari keridaan Allah 'Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mencium wangi surga pada hari kiamat."( HR : Abu Daud, Ibnu Majah ,Al- Hakim )
2. Pelajaran dan Pesan
Sahabat sekalian, mari kita bayangkan sebuah perumpamaan yang logis. Orang yang menuntut ilmu hanya untuk unjuk kuasa dan kesombongan, bagaikan seseorang yang diberi amanah memegang kunci gudang beras di tengah musim kelaparan.
Kunci itu seharusnya digunakan untuk membuka pintu gudang, lalu membagikan berasnya agar orang-orang bisa memasak dan menyambung hidup. Tapi, karena nafsu unjuk kuasa, dia malah berdiri di depan pintu gudang, mengacung-acungkan kuncinya dengan sombong sambil berteriak, "Lihat, cuma saya yang punya kunci ini! Kalian semua lemah tanpa saya!" Tindakan itu sangat konyol, bukan? Kuncinya dipamerkan, tapi tidak ada satu orang pun yang kenyang. Begitulah orang yang mengoleksi ilmu hanya untuk terlihat berkuasa; ilmunya menjadi pajangan ego, sementara jiwanya sendiri dan orang di sekitarnya kelaparan dari amal saleh.
Nah, fenomena "unjuk kuasa" lewat ilmu ini sering sekali kita lihat sekarang. Ada orang yang baru pulang dari pelatihan manajemen atau baru khatam membaca satu buku tebal, besoknya langsung berubah menjadi "mandor galak" di rumah atau di kantornya.
Setiap sudut rumah diperiksa pakai teori terbaru. Istri memasak dikritik kurang efisien, anak bermain dibilang tidak produktif, sampai urusan melipat pakaian pun harus pakai standar operasional prosedur (SOP) internasional. Semua orang di rumah jadi stres. Ini namanya "belajar ilmu bukan untuk mempermudah hidup, tapi untuk menjajah orang rumah." Ingat, ilmu itu diturunkan untuk memperbaiki amalan kita sendiri terlebih dahulu, bukan untuk mengaudit kesalahan orang lain dari pagi sampai malam!
Mari kita tundukkan kepala dan membawa hati kita pada sebuah kisah nyata yang sangat menyentuh dari masa lalu. Ada seorang murid dari ulama besar yang sangat cerdas. Di majelis ilmu, ia selalu menjadi yang paling cepat menghafal dan paling fasih berbicara. Lambat laun, pujian manusia membuatnya terbuai. Ia mulai belajar bukan lagi untuk mengamalkan ilmunya, melainkan agar bisa berdebat, menjatuhkan argumen kawan-kawannya, dan memperlihatkan kuasanya di depan sang guru.
Hingga suatu hari, sang guru memanggilnya secara pribadi ke sebuah ruangan yang sepi. Sang guru tidak memarahinya, melainkan menatap murid cerdas itu dengan mata yang berkaca-kaca, penuh rasa sedih yang mendalam.
Sang guru berkata dengan suara bergetar, "Wahai anakku... hatiku teriris melihatmu beberapa bulan ini. Setiap kali engkau berbicara, aku tidak lagi melihat pancaran cahaya di wajahmu. Engkau menghafal ratusan hadis tentang kasih sayang, tapi engkau gunakan itu untuk menusuk hati saudaramu dalam perdebatan. Engkau tahu teori khusyuk, tapi sujudmu semakin cepat karena engkau terburu-buru ingin dipuji manusia. Aku menangis, bukan karena engkau tidak pintar, tapi karena aku takut ilmu yang aku ajarkan ini justru menjadi jembatan yang membawamu ke dalam api neraka..."
Mendengar kalimat tulus dari gurunya, runtuhlah seluruh keangkuhan murid tersebut. Ia menangis tersedu-sedu di pangkuan gurunya, menyadari bahwa selama ini ia telah menukar kesucian ilmu demi sebuah panggung kekuasaan semu yang hampir saja mematikan hatinya.
3. Kesimpulan & Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , pesan moral tertinggi bagi kita hari ini adalah: Tujuan akhir dari proses belajar adalah terbentuknya akhlak yang mulia dan bertambahnya amal saleh, bukan bertambahnya daftar orang yang kita rendahkan.
Mari kita luruskan kembali niat kita. Setiap kali kita mendapat pengetahuan baru, langsung tanyakan pada diri sendiri: "Amal apa yang bisa aku lakukan dengan ilmu ini?" dan bukannya "Siapa yang bisa aku kalahkan dengan ilmu ini?" Jadikan ilmu kita sebagai lentera yang menerangi jalan kepasrahan kita kepada Allah, bukan sebagai cemeti untuk menguasai sesama.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjauhkan kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan mengaruniakan kita hati yang selalu rindu untuk beramal dengan ikhlas.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie