Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, ilmu adalah makanan bagi ruhani dan akal kita. Namun, di era digital ini, kita sering menyaksikan ketimpangan yang nyata: tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap media belajar—baik itu buku, perpustakaan yang lengkap, maupun jaringan internet dan materi digital. Secara sosiologi pendidikan, keterbatasan ini bisa memutus rantai generasi emas.
Namun, Islam tidak pernah membiarkan umatnya menyerah pada keadaan. Solusi terbaik dari hambatan eksternal ini adalah kolaborasi dan berbagi. Ketika kita menyediakan alat bantu ilmu atau membentuk kelompok belajar (majelis ilmu) di rumah atau komunitas, kita sedang mengubah keterbatasan menjadi keberkahan yang dinikmati bersama.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai indahnya saling tolong-menolong dalam kebaikan:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga menegaskan bahwa ilmu yang diajarkan dan dimanfaatkan bersama akan menjadi investasi abadi:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُاو لَهُ
"Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita renungkan sebuah kisah nyata yang kerap terjadi di pelosok negeri. Bayangkan seorang anak yang setiap sore berdiri di pinggir jalan raya, memegang sebuah gawai usang yang layarnya retak, demi mencari sisa sinyal internet yang timbul tenggelam. Dia ingin mengunduh materi sekolahnya, namun kuotanya habis dan ia tidak punya buku cetak.
Betapa sedihnya melihat air mata seorang anak yang rindu membaca, namun terhalang oleh dinding kemiskinan. Di sisi lain, betapa indahnya ketika ada seorang tetangga yang membuka pintu rumahnya, menyalakan Wi-Fi-nya, menggelar tikar, lalu berkata, "Nak, masuklah. Belajarlah di sini bersama anak-anakku." Seketika, rumah sederhana itu berubah menjadi surga ilmu yang penuh berkah.
Sahabat, analoginya seperti sebatang lilin di dalam kegelapan. Jika sebatang lilin itu hanya menerangi sudutnya sendiri, cahayanya terbatas dan ia akan habis sendirian. Tetapi, jika lilin yang menyala itu membagikan apinya kepada lilin-lilin lain yang mati di sekitarnya, ruangan yang gelap gulita itu akan menjadi terang benderang.
Menyediakan satu buku untuk dibaca bersama, atau membuka rumah kita menjadi majelis ilmu kecil-kecilan, tidak akan mengurangi milik kita. Justru, itu seperti menyalakan ratusan lilin kehidupan yang akan menerangi masa depan umat.
Ada cerita tentang sekelompok pemuda yang patungan membeli satu buku paket yang mahal karena mereka tidak punya perpustakaan. Karena bukunya cuma satu sedangkan mereka ada berlima, mereka membuat aturan unik.
Senin dipegang si A, Selasa si B, dan seterusnya. Masalahnya, si E mendapat giliran hari Jumat malam. Ketika ditanya gurunya, "E, kenapa tugasmu belum selesai?" Si E menjawab dengan wajah polos, "Maaf Guru, hari Jumat malam saya ketiduran saat memeluk buku itu, jadi ilmunya baru meresap ke baju saya lewat mimpi, belum sampai ke otak!"
Kita tersenyum mendengarnya, tapi lihatlah hikmahnya: keterbatasan alat bantu justru melahirkan kreativitas, kerja sama, dan rasa kebersamaan yang tidak akan ditemukan pada orang-orang yang egois dengan fasilitas mewahnya.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, hambatan berupa kurangnya media dan alat bantu belajar tidak akan mampu menghentikan laju ilmu selama ruh gotong royong masih hidup di dalam dada kita. Solusinya ada di tangan kita: mari sisihkan sedikit rezeki untuk menyediakan media belajar, kumpulkan buku-buku yang menganggur, dan bukalah rumah kita untuk membentuk kelompok belajar atau majelis ilmu di komunitas. Fasilitas yang terbatas, jika digunakan bersama dengan ketulusan, akan mendatangkan rida Allah yang tanpa batas.
Mari kita menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari mereka yang hanya bisa merutuki keadaan.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie