Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Secara psikologi pendidikan, rasa ingin tahu (curiosity) yang diwujudkan melalui pertanyaan adalah motor penggerak utama perkembangan kognitif manusia. Orang yang tidak pernah bertanya, pikirannya akan stagnan (jalan di tempat). Dalam pandangan Islam, bertanya bukan tanda kebodohan, melainkan obat dan penyembuh dari ketidaktahuan. Ilmu itu laksana harta karun yang terkunci, dan anak kuncinya adalah pertanyaan yang baik.
Allah SWT secara tegas memerintahkan kita untuk bertanya kepada yang ahli jika kita menghadapi ketidaktahuan, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an:
فَاسْئَلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui ( QS – An-Nahl : 43 )
Jiwa kita akan merasa sejuk dan damai ketika keraguan di dalam hati terjawab dengan ilmu yang valid. Rasulullah SAW juga pernah menegur keras sebagian sahabat yang memberikan fatwa tanpa ilmu hingga mencelakai orang lain. Beliau bersabda:
أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
"Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak mengetahui? Karena sesungguhnya obat dari kebodohan (ketidaktahuan) itu adalah bertanya."( HR : Abu Daud dan Ahmad )
2. Pelajaran dan Pesan
Orang yang malu bertanya karena takut dianggap bodoh itu ibarat seorang musafir yang tersesat di tengah hutan belantara yang gelap. Dia memegang peta, tapi tidak bisa membacanya. Di dekatnya ada penduduk lokal, namun karena gengsi dan takut ditertawakan, dia memilih diam dan terus berjalan masuk ke dalam hutan. Akhirnya? Dia bukan selamat, malah tersesat semakin jauh dan binasa. Rasa malu yang keliru adalah jerat yang mengunci kita dalam lingkaran ketidaktahuan selamanya.
Mari kita kenang kisah Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, sepupu Rasulullah SAW yang mendapat gelar Habrul Ummah (tintanya umat Islam) karena kedalaman ilmunya. Ketika Rasulullah wafat, Ibnu Abbas masih sangat muda. Beliau tidak malu mendatangi rumah para sahabat senior, duduk di depan pintu rumah mereka hingga wajahnya berdebu tertiup angin padang pasir, hanya demi menunggu mereka keluar dan bertanya tentang satu hadis. Ketika ditanya, "Bagaimana engkah bisa mendapatkan ilmu sebanyak ini?" Ibnu Abbas menjawab dengan kalimat yang menggetarkan jiwa: "Dengan lisan yang gemar bertanya dan hati yang cerdas berpikir." Beliau menurunkan egonya demi menjemput cahaya ilmu.
Zaman sekarang, banyak netizen yang punya prinsip terbalik: Malu bertanya, sesat di jalan. Malu bertanya kepada guru, akhirnya tanya ke netizen di kolom komentar. Lucunya, yang ditanya sama-sama tidak tahu! Ada orang gengsi bertanya di kelas atau di majelis ilmu karena takut dikira tidak pintar. Tapi giliran di media sosial, dia paling depan berkomentar "Suhu, minta tutor!" atau debat kusir di kolom komentar sampai jarinya keriting. Gengsi bertanya pada ahlinya, tapi tidak malu berdebat dengan orang yang tidak tahu. Ini kan skenario komedi yang nyata di dunia maya kita. Ingat, bertanya itu menurunkan ego selama lima menit, tapi bodoh karena gengsi itu memelihara kegelapan seumur hidup!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahgia , tidak ada kata terlambat dan tidak ada kata memalukan dalam belajar. Orang yang mulia bukanlah orang yang tahu segalanya, melainkan orang yang jiwanya lapang untuk terus bertanya dan berdiskusi demi mencari kebenaran, bukan mencari pembenaran.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan bahwa ilmu itu terhalang oleh dua hal: kesombongan dan rasa malu yang salah. Maka, buang gengsimu, siapkan pertanyaannmu, dan datangilah para guru.
Bertanya karena belum tahu adalah tanda awal kecerdasan; sedangkan diam dalam ketidaktahuan karena gengsi adalah awal dari kerugian yang nyata."
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie