Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang dirahmati Allah,

Di dunia modern yang serbacepat ini, banyak orang yang mengorbankan waktu ibadahnya demi mengejar target omzet dan transaksi bisnis. Alasan klasik yang sering terdengar adalah, "Maaf, saya sedang sibuk, sedang ada meeting besar, sedang mengejar pelanggan." Mereka mengira bahwa untuk menjadi kaya, mereka harus melupakan sejenak urusan akhirat.

Namun, tahukah Anda bahwa Al-Qur'an justru memberikan pujian tertinggi kepada para pebisnis besar dan pedagang raksasa yang tangguh? Mereka adalah orang-orang yang super sibuk, namun seluruh aktivitas jual beli dan transaksi bernilai jutaan bahkan miliaran rupiah sama sekali tidak mampu mengalihkan perhatian mereka dari mengingat Allah, mendirikan salat tepat waktu, dan menunaikan zakat. Bagi mereka, omzet terbesar adalah rida Allah SWT.

Secara psikologis dan ilmiah, pebisnis yang menyertakan Allah dalam setiap transaksinya akan memiliki tingkat stres yang jauh lebih rendah (high resilience). Mereka tidak mudah panik saat pasar bergejolak, karena mereka sadar bahwa rezeki sudah diatur dan pasar berada di bawah kendali Allah SWT. Ketika azan berkumandang, mereka berani menutup tokonya atau menjeda rapatnya, karena mereka tahu siapa "Maha Direktur" yang sesungguhnya.

Allah SWT memuji karakter para pebisnis tangguh ini dalam Al-Qur'an:

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ

"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat." (QS. An-Nur: 37)

Pedagang yang jujur dan mengutamakan Allah ini bukan hanya akan sukses di dunia, tetapi juga memiliki kedudukan yang sangat mulia di akhirat kelak. Rasulullah SAW menegaskan hal tersebut melalui sabdanya:

اَلتَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

"Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada." (HR. Tirmidzi)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita menengok sebuah kisah nyata dari dunia perdagangan. Ada seorang pedagang kain tua di sebuah pasar. Suatu hari, di saat tokonya sedang sangat ramai dikunjungi pembeli dan uang mengalir deras ke laci kasirnya, suara azan zuhur berkumandang dari pengeras suara masjid. Tanpa ragu, si bapak tua langsung mengambil selembar kain penutup, membentangkannya di depan toko sebagai tanda tokonya ditutup sementara, lalu mengajak para pembelinya, "Maaf semuanya, kita istirahat dulu, mari kita penuhi panggilan Allah."

Seorang pembeli yang terburu-buru marah dan berkata, "Pak, saya ini mau beli banyak! Kalau Bapak tinggal ke masjid, saya pindah ke toko sebelah!" Dengan mata yang teduh namun berkaca-kaca menahan haru, si bapak tua tersenyum dan menjawab lirih, "Silakan, Nak. Toko sebelah juga milik saudara saya sesama muslim. Rezeki saya tidak akan tertukar ke sana, tapi jika saya terlambat salat, saya takut Allah mencabut berkah dari rezeki yang saya bawa pulang untuk anak istri saya." Menyedihkan melihat betapa kerasnya hati si pembeli, namun sangat mengharukan melihat kokohnya integritas iman sang pedagang di atas tarikan materi.

Supaya kita bisa merenungkan cara kita berbisnis selama ini dengan cara yang agak menggelitik, mari kita buat analogi sederhana.

Bayangkan ada seorang pria bernama Tittuet yang sedang mengendarai mobil di jalan tol menuju sebuah kesepakatan bisnis bernilai Rp10 miliar. Di tengah jalan, indikator bensin di dashboard mobilnya berkedip merah dan berbunyi: Biiip... Biiip... Tanda bensinnya sudah kritis dan hampir habis total!

Di depan ada Rest Area dengan pom bensin yang besar. Tapi si Tittuet malah ngamuk ke mobilnya dan teriak, "Gak bisa! Saya gak ada waktu buat belok ke pom bensin! Saya lagi sibuk ngejar proyek Rp10 miliar ini! Ngapain buang-buang waktu 5 menit buat isi bensin!" Dia pun ngegas mobilnya sekencang mungkin.

Kira-kira apa yang terjadi 2 kilometer kemudian? Mobilnya mogok total di tengah jalan tol, proyeknya melayang, dan dia harus bayar mobil derek. Sial dua kali lipat!

Lucu dan ajaib, bukan? Itulah tamsilan orang yang ngakunya "sibuk bisnis" sampai berani ninggalin salat wajib. Salat 5 waktu itu adalah "pom bensin" spiritual kita! Energi, berkah, kesehatan, dan ketenangan jiwa kita diisi ulang di sana.

Bagaimana mungkin Anda berharap "mobil bisnis" Anda bisa berjalan mulus sampai ke tujuan sukses, kalau Anda sendiri pelit meluangkan waktu 5 menit untuk mengisi ulang "bensin berkah" dari Zat Yang Maha Memiliki rezeki? Jangan sampai bisnis kita mogok di tengah jalan hanya karena kita lupa berbelok ke sajadah!

3. Kesimpulan & Penutup

Sahabat sekalian, pesan moral yang tinggi dari karakter pedagang sukses ini sangat jelas: jangan pernah menjadikan kesibukan dunia sebagai alasan untuk melalaikan akhirat. Menjadi kaya dan sukses adalah hal yang sangat baik, bahkan Islam membutuhkan banyak konglomerat muslim yang bertakwa untuk menggerakkan roda ekonomi umat.

Mari kita tata kembali niat bisnis kita hari ini. Genggamlah transaksi raksasa itu di tangan Anda, jadilah pebisnis yang profesional dan tangguh. Namun, pastikan hati Anda tidak pernah lepas dari zikir kepada Allah SWT. Ingatlah selalu, omzet sejati bukanlah seberapa banyak angka digital yang masuk ke rekening bank kita, melainkan seberapa berkah harta tersebut mengantarkan kita dan keluarga menuju surga-Nya.

Semoga Allah SWT menjadikan bisnis kita maju, berkah, dan menggolongkan kita ke dalam hamba-hamba-Nya yang tidak pernah lalai dari mengingat-Nya

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie