Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Pernahkah Anda melihat seseorang tertimpa musibah yang sangat tragis, lalu dalam hati Anda berbisik, "Ya Allah, kasihan sekali dia, kenapa nasibnya begitu malang?"

Hati-hati. Jangan terburu-buru menilai. Apa yang kita lihat hari ini sering kali hanyalah "Bab Terakhir" dari sebuah buku kehidupan yang panjang. Kita tidak pernah tahu dosa tersembunyi apa yang dia tulis di "Bab Pertama". Di dunia ini, keadilan Allah bergerak dalam diam, sangat presisi, dan tidak pernah salah alamat.

Secara ilmiah dalam hukum sebab-akibat (kausalitas), setiap tindakan di alam semesta ini pasti menghasilkan reaksi yang setara. Dalam syariat Islam, konsep ilmiah ini disebut dengan Al-Jaza' min Jinsil 'Amal (balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan). Allah tidak pernah tidur, dan setiap kezaliman yang dilakukan manusia, kuitansi pembayarannya pasti akan ditagih—baik cepat atau lambat.

Mari tenangkan jiwa kita dan renungkan firman Allah SWT berikut ini:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

"Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi penangguhan kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak." (QS. Ibrahim: 42)

Rasulullah SAW juga mengingatkan dengan sangat tegas tentang bagaimana Allah mempercepat hukuman bagi orang yang berbuat zalim dan memutus silaturahmi:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

"Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi pelakunya di dunia ini—di samping dosa yang disimpan untuknya di akhirat nanti—daripada dosa kezaliman dan memutus silaturahmi." (HR. Tirmidzi)

2. Pelajaran dan Pesan

Sahabat, mari kita buka tabir "Bab Pertama" dari tiga kejadian nyata yang sempat membuat orang terheran-heran, namun di ujungnya menyisakan tangis penyesalan yang mengharukan sekaligus tamsilan yang penuh hikmah.

A. Kisah Pemilik Toko di Midhat Pasha

Bab Terakhir (Tragedi): Seorang pemilik toko kain di pasar mendadak lumpuh total akibat terkena peluru nyasar saat sedang duduk bekerja di tokonya. Orang-orang kasihan dan menganggapnya nasib sial.

Bab Pertama (Dosa Masa Lalu): Siapa yang sangka, bertahun-tahun lalu, pria ini secara kejam merampas seluruh harta anak-anak yatim dari saudara kandungnya sendiri. Jumlah yang dirampas sangat besar, setara dengan harga satu rumah mewah. Peluru nyasar itu bukanlah kebetulan, melainkan "utusan" keadilan Allah yang datang menjemput hak anak yatim yang dia telan.

B. Kisah Ibu Pengacara yang Kejam

Bab Terakhir (Tragedi): Seorang ibu yang berprofesi sebagai pengacara sukses mati dengan sangat mengenaskan akibat kanker usus yang menggerogoti tubuhnya, setelah sebelumnya hidup menderita.

Bab Pertama (Dosa Masa Lalu): Dunia melihatnya sebagai wanita karier yang hebat, namun Allah melihatnya sebagai penjahat. Dahulu, ia menggunakan kelicikan hukumnya untuk merebut rumah saudaranya sendiri hanya karena status nama di akta, padahal saudaranya sudah membayar setengah harga rumah tersebut. Tragisnya, setelah rumah dikuasai, ia mengusir saudaranya yang memiliki 14 anak telantar di jalanan. Rasa sakit kanker usus di akhir hayatnya adalah tamsilan nyata dari busuknya hati yang tega memakan hak saudaranya sendiri.

C. Kisah Pria yang Diusir Istri Kedua

Bab Terakhir (Tragedi & Jenaka Berhikmah): Ada seorang pria tua yang menangis di jalanan. Pabrik dan rumah megahnya dikuasai habis oleh istri keduanya yang masih muda. Sialnya lagi, setelah jatuh miskin, ia diusir dari rumahnya sendiri karena ternyata sang istri kedua berselingkuh dan mencintai pria lain. Netizen mungkin akan mengutuk si istri kedua. Tapi tunggu dulu!

Bab Pertama (Dosa Masa Lalu): Pria tua ini adalah anak tertua di keluarganya. Dahulu, ketika ayahnya meninggal, dengan serakahnya dia memonopoli dan merampas seluruh harta warisan untuk dirinya sendiri, membiarkan adik-adik kandungnya hidup melarat.

Kejadian ini ibarat seseorang yang bangga mencuri sebuah mobil mewah, lalu dia memarkirkannya di pinggir jalan dengan kunci yang masih menggantung. Tiba-tiba, datang pencuri lain yang lebih lihai membawa kabur mobil itu di depan matanya sendiri! Dia mau melapor ke polisi, tapi dia sendiri adalah buronan. Pria ini diusir oleh istri keduanya dengan cara yang sama persis saat dia mengusir adik-adiknya dari rumah warisan sang ayah. Gaya merampasnya berkelas, tapi cara Allah membalasnya jauh lebih berkelas dan bikin geleng-geleng kepala!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahgia , tiga kisah di atas adalah bukti nyata bahwa hukum tabur tuai itu mutlak. Keadilan Allah itu luar biasa presisi. Jika hari ini kita menanam air mata bagi orang lain, maka esok atau lusa, kita akan memanen badai air mata untuk diri kita sendiri. Terutama, berhati-hatilah terhadap harta warisan, harta anak yatim, dan hak-hak saudara kandung.

Jangan pernah silau dengan "Bab Pertama" yang terlihat menang dan bahagia di atas penderitaan orang lain, karena "Bab Terakhir" yang Allah siapkan bisa jadi sangat menyakitkan. Mari bersihkan hati, kembalikan hak orang lain jika pernah kita ambil, dan bertaubatlah sebelum skenario balasan Allah mendatangi kita tanpa diduga.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie