Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Secara komunikasi persuasif, dakwah adalah seni menyentuh hati tanpa merusak harga diri. Jika dakwah dilakukan dengan Keras & Kasar, secara psikologis audiens akan mengaktifkan mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism), sehingga pesan kebenaran justru tertolak. Namun, jika dakwah terlalu Lembek & Menjual Prinsip, ia kehilangan kewibawaannya dan tidak lagi menjadi kompas kebenaran. Wasathiyah dalam dakwah adalah "Ketegasan yang Berkasih Sayang"—menyampaikan kebenaran yang mutlak dengan cara yang bijak agar jiwa yang mendengarnya merasa dirangkul, bukan dipukul.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
ادْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik..." (QS. An-Nahl: 125)
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
"Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Jadilah pendakwah yang seperti matahari; ia menerangi bumi tanpa harus membakarnya. Kebenaran tidak butuh suara yang berteriak kasar untuk terdengar, ia hanya butuh ketulusan untuk dirasakan. Jangan sampai kebencianmu pada kemaksiatan membuatmu kehilangan rasa sayang kepada pelakunya sebagai sesama makhluk Tuhan yang butuh bimbingan.
Pernah ada seorang pemuda datang kepada Nabi SAW dan dengan lancangnya meminta izin untuk berzina. Para sahabat marah dan ingin memukulnya. Namun, Rasulullah SAW dengan tenang menyuruh pemuda itu mendekat. Beliau tidak menghardik, tapi bertanya dengan lembut, "Maukah hal itu terjadi pada ibumu? Putrimu? Saudarimu?" Pemuda itu menjawab, "Tidak, demi Allah." Rasulullah lalu meletakkan tangannya di dada pemuda itu sambil mendoakannya. Pemuda itu keluar dengan perasaan benci pada zina. Inilah dakwah: merangkul logika, menyentuh rasa, dan menjaga prinsip tanpa caci maki.
Dakwah itu ibarat Seorang Dokter. Jika dokter mencabut gigi pasien dengan kasar tanpa bius (dakwah kasar), pasien akan trauma meski giginya memang harus dicabut. Namun, jika dokter membiarkan gigi yang busuk tetap ada karena takut pasien sakit (dakwah lembek/menjual prinsip), maka penyakitnya akan menyebar. Dokter yang Wasath akan memberikan bius kasih sayang, lalu melakukan tindakan medis yang diperlukan dengan presisi dan penuh tanggung jawab.
Ada seorang penceramah yang sangat keras, setiap khutbah selalu mengancam jamaah dengan neraka. Suatu hari dia bertanya pada seorang kakek di barisan depan, "Kenapa kakek tidak takut neraka? Saya ceramah keras begini kakek malah ngantuk!" Si kakek menjawab santai, "Habisnya Ustadz kalau ceramah seolah-olah neraka itu milik pribadi Ustadz dan kuncinya Ustadz pegang sendiri. Saya sih tenang saja, karena saya yakin kunci surga tetap di tangan Allah yang Maha Pengasih, bukan di tangan Ustadz yang lagi marah-marah!" Hikmahnya: Dakwah itu mengajak orang ke surga, bukan mendorong orang ke neraka dengan kata-kata kita.
3. Kesimpulan dan Penutup
Sauadara dan saudari yang berbahagia , lawan dari Wasathiyah dakwah adalah lisan yang tajam menyakiti atau prinsip yang gadai demi popularitas. Mari kita sampaikan yang haq dengan cara yang ahsan. Tetaplah kokoh pada akidah, namun luaslah dalam akhlak dan kasih sayang. Semoga Allah menjadikan lisan kita sebagai penyambung hidayah, bukan pemutus ukhuwah.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie