Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang hatinya selalu merindukan ketenangan, jika kita merenungkan perjalanan hidup ini, kita akan menyadari satu hal yang pasti: dunia ini tidak pernah didesain untuk menjadi tempat bersenang-senang tanpa jeda. Dunia adalah sebuah panggung ujian (darul ibtila’) yang sengaja didesain rumit oleh Allah SWT. Kerumitan ini diciptakan bukan untuk menyengsarakan kita, melainkan untuk menguji sejauh mana kita berani menggunakan kompas iman dalam mengambil setiap keputusan.
Kebijaksanaan tertinggi (al-hikmah) seorang manusia tidak diukur saat ia berada di zona nyaman, melainkan diletakkan pada keberaniannya untuk selalu memilih hal yang benar meskipun jalan itu terasa sulit, tampak sederhana, atau menghasilkan pendapatan materi yang rendah. Di saat yang sama, ia memiliki keteguhan untuk menjauhi segala hal yang berpotensi menggelincirkan imannya, meskipun hal tersebut sangat mudah dilakukan dan menjanjikan gelimang harta. Mengapa? Karena ia tahu bahwa dunia ini hanyalah perhentian sejenak, sedangkan akhirat adalah rumah masa depan yang sejati.
Mari kita tadaburi firman Allah SWT yang membongkar ilusi manusia terhadap kilau dunia:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
"Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-A'la: 16-17)
Untuk bisa selamat di panggung ujian yang rumit ini, Rasulullah SAW memberikan resep ilmiah yang sangat menyejukkan jiwa. Beliau mengajarkan agar kita memotong segala keraguan dengan memilih opsi yang paling aman bagi agama kita. Beliau bersabda:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
"Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan dan kedustaan (kemaksiatan) itu adalah keraguan." (HR. Tirmidzi)
2. Pelajara dan Pesan
Pesan moral yang sangat tinggi dari sunnatullah ini adalah: Kesuksesan hakiki adalah ketepatan kita dalam memilih instrumen kehidupan. Di panggung ujian ini, ada tiga pilar utama yang menentukan keselamatan iman kita:
Pilihlah pasangan yang saleh/salehah, karena mereka adalah teman perjalanan menuju Surga.
Pilihlah profesi yang jujur, karena dari sana mengalir darah dan daging yang berkah untuk keluarga.
Pilihlah lingkungan yang mendekatkan diri kepada Allah, karena lingkungan adalah benteng perlindungan akidah kita.
Jangan pernah menukar salah satu dari ketiga pilar ini dengan kemewahan fasilitas duniawi yang fana.
Ada sebuah kisah nyata yang menggetarkan jiwa tentang seorang pemuda di sebuah kota besar. Ia dihadapkan pada dilema hidup yang luar biasa. Ia mendapatkan tawaran kerja dengan posisi mentereng dan gaji puluhan juta rupiah di sebuah perusahaan besar. Namun, syaratnya sangat berat bagi imannya: ia harus mengondisikan laporan keuangan, ikut menjamu klien dengan minuman keras, dan tidak boleh izin untuk shalat Jumat karena alasan efisiensi kerja.
Di sisi lain, ia hanya memiliki opsi bekerja sebagai kurir pengantar barang sederhana dengan motor tua miliknya, yang pendapatannya pas-pasan dan tidak menentu. Malam hari sebelum mengambil keputusan, pemuda ini bersujud di atas sajadah usangnya. Ia menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi kain sujud tersebut. Ia berbisik lirih, "Ya Allah, aku ingin sekali membahagiakan ibuku dengan uang yang banyak. Tapi aku lebih takut jika uang itu justru menjauhkanku dari ridha-Mu. Aku memilih-Mu, ya Allah, maka tolonglah aku."
Keesokan harinya, ia menolak pekerjaan mewah itu dan memilih tetap menjadi kurir pengantar barang. Teman-temannya mencibirnya, menyebutnya bodoh dan tidak punya masa depan. Namun, beberapa bulan kemudian, perusahaan mewah yang sempat menawarinya kerja itu digerebek polisi karena terlibat sindikat penipuan besar, dan seluruh stafnya dijebloskan ke penjara.
Pemuda kurir itu terhenyak di atas motor tuanya, air matanya menetes deras karena haru. Sambil memeluk ibunya, ia berkata, "Ibu, penghasilanku mungkin rendah, tapi Allah menyelamatkan nama baik dan iman kita." Sebuah bukti nyata bahwa memilih jalan yang sulit demi Allah selalu berujung pada keselamatan.
Bayangkan Anda adalah seorang calon pilot yang sedang menjalani ujian di dalam mesin simulator penerbangan (flight simulator). Instruktur sengaja mendesain simulasi itu dengan sangat rumit: cuaca dibuat badai besar, angin sakal berhembus kencang, layar radar penuh dengan distorsi, dan sirine tanda bahaya berbunyi berisik di dalam kokpit.
Pilot yang bodoh akan panik, mengabaikan petunjuk di buku panduan, dan memutar kemudi ke arah celah awan yang tampak terang padahal di baliknya ada gunung batu. Namun, pilot yang bijaksana akan tetap tenang. Ia tidak melihat badai di luar kaca; ia hanya fokus melihat ke arah jarum kompas dan indikator syariat penerbangan di depannya. Walaupun jalurnya terasa berat dan berguncang, ia tetap mengikuti rute panduan hingga akhirnya pesawat simulasi itu mendarat dengan selamat di landasan pacu.
Dunia ini adalah mesin simulator itu. Kerumitannya sengaja dibuat untuk melihat siapa pilot jiwa yang paling patuh pada buku panduan Al-Qur'an dan Sunnah.
Kita ini memang sering kali menjadi makhluk yang penuh paradoks. Kalau kita masuk ke dalam wahana rumah hantu di taman bermain, lalu suasananya gelap, jalannya berkelok-kelok, dan tiba-tiba muncul hantu buatan yang mengagetkan, kita tidak pernah protes kepada pemilik taman bermain. Kita tidak pernah marah-marah: "Ini gimana sih manajemennya? Masuk ke sini kok rumit banget, gelap, bikin sport jantung lagi!" Tidak. Kita justru tersenyum dan menikmati kerumitannya, karena kita tahu dari awal bahwa esensi dari rumah hantu memang dirancang untuk menguji nyali kita, dan pintunya pasti ada di ujung jalan.
Tapi anehnya, begitu kita hidup di panggung dunia yang luas ini, saat Allah berikan sedikit saja jalan yang berkelok, ujian ekonomi yang agak gelap, atau kerumitan birokrasi hidup, kita langsung protes dan ngamuk kepada Allah: "Ya Allah, mengapa hidupku serumit ini? Mengapa tetanggaku yang gak pernah shalat jalannya mulus-mulus saja?"
Lho, kita ini lupa atau pingsan ingatan? Dunia ini kan memang judul wahana ujiannya "Darul Ibtila'" (Rumah Ujian), bukan "Darul Jannah" (Rumah Surga)! Kalau mau jalannya mulus tanpa hambatan, tidak ada AC mati, dan tidak ada masalah, itu tempatnya di Surga nanti, bukan di dunia. Dunia ini sengaja dibuat rumit supaya kita tidak betah berlama-lama pacaran dengan dunia, dan rindu untuk segera pulang ke kampung halaman akhirat. Jadi, kalau hidup lagi terasa rumit, jangan cari "jalan pintas" yang haram. Nikmati saja proses simulasinya, ikuti petunjuk rambu-rambu dari langit, dan senyum saja sambil bilang dalam hati: "Tenang... ini cuma wahana ujian, sebentar lagi juga sampai ke pintu keluar!"
3. Kesimpulan dan Penutup
Sahabat sekalian, sebagai penutup dari rangkaian perisai hikmah kita, mari kita bawa pulang satu keyakinan yang menghunjam kuat di dalam dada: hidup ini adalah tentang keberanian memilih kualitas akhirat di atas kuantitas dunia. Jangan pernah silau oleh mereka yang bergelimang harta namun fondasi imannya keropos.
Mulailah hari ini dengan menata ulang pilihan-pilihan kita. Pastikan pasangan hidup kita adalah orang yang mengajak kita sujud, profesi kita adalah pekerjaan yang berani menolak suap, dan lingkungan kita adalah tempat di mana nama Allah sering disebut. Ingatlah selalu garansi dari Surah Al-A'la bahwa "Akhirat itu jauh lebih baik dan lebih kekal."
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita ketajaman mata hati untuk melihat kebenaran sebagai sebuah kebenaran, dan memberikan kita kekuatan untuk memilihnya walau harus mendaki jalan yang terjal.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie