Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللّٰهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Saudaraku yang berbahagia,
Pernahkah kita membayangkan hidup ini sebagai sebuah perjalanan menuju satu dari dua terminal akhir? Tidak ada terminal ketiga. Pilihannya hanya satu: Resort Syurga VIP Bintang Tak Terhingga atau Kawah Neraka yang Membara.
Banyak orang berkata, "Saya ibadah ikhlas saja, tidak usah mengharap Syurga atau takut Neraka." Kedengarannya sangat suci, tapi tahukah Anda? Berharap Syurga dan takut Neraka justru adalah fitrah yang Allah tanamkan. Ibadah adalah tiket VIP kita untuk pulang ke rumah asli kita, yaitu Syurga, dan sekaligus menjadi baju pelindung (bunker) dari panasnya api neraka.
1. Syurga: Lebih dari Sekadar Fasilitas, Ia adalah Ridha-Nya
Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri yang menggunakan Syurga sebagai "brosur" motivasi agar kita semangat beribadah. Namun, puncak dari segala fasilitas mewah itu bukanlah sungai susu atau bidadari, melainkan Ridha Allah dan kesempatan memandang Wajah-Nya.
Allah berfirman dalam Al-Qur an :
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ۞ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat." (QS. Al-Qiyamah ayat 22-23)
Dan Allah juga menegaskan:
وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللّٰهِ أَكْبَرُ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai... Dan keridhaan Allah adalah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah ayat 72)
Ibadah kita adalah upaya mengetuk pintu rahmat-Nya. Kita mengejar Syurga karena di sanalah Ridha Allah berada.
2. Mencontoh "Rasa Takut & Harap" Para Nabi
Bahkan manusia-manusia terbaik, para Nabi, tidak pernah merasa bosa dan merasa "terlalu hebat" untuk meminta Syurga. Mereka beribadah dengan dua sayap: Harap (Raja') dan Takut (Khauf).
Allah memuji semua para Nabi 'alaihimus salam dalam firman-Nya :
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (melakukan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya ayat 90)
Bahkan Rasulullah ﷺ mengingatkan kita bahwa amal kita bukanlah "alat tukar" yang setara dengan harga Syurga, melainkan kunci pembuka Rahmat:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ. قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللّٰهِ؟ قَالَ: لَا، وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللّٰهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
"Amal seseorang tidak akan memasukkannya ke surga." Sahabat bertanya: "Termasuk Anda, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Termasuk aku, hanya saja Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku." (HR. Bukhari & Muslim)
3. Tamsilan : Bus Eksklusif Menuju Resort Abadi
Bayangkan kita berada di terminal dunia. Ada Bus Eksklusif bernama "Bus Ibadah".
- Si Penakut: Dia naik bus sambil gemetaran, "Aduh, aku takut sekali tertinggal bus, nanti aku terjebak di padang pasir yang penuh api!" (Ini adalah orang yang ibadah karena takut Neraka).
- Si Pengharap: Dia naik bus dengan senyum lebar, membawa kamera, "Aku tidak sabar ingin melihat keindahan resort dan bertemu Pemiliknya!" (Ini adalah orang yang ibadah karena rindu Surga).
Keduanya benar! Allah menyukai keduanya.
Tapi ada satu lagi, Si Sok Tahu. Dia duduk santai di pinggir jalan tanpa tiket, tanpa naik bus, sambil berkata: "Ah, Allah kan Maha Pengasih. Tidak perlu capek-capek ibadah, nanti juga pasti dimaafkan. Ibadah itu buat orang yang tidak ikhlas saja."
Kira-kira, sampai tidak dia ke tujuan? Tentu tidak. Dia kehilangan kendaraan, kehilangan pelindung, dan kehilangan kesempatan.
Penutup: Puncak Keindahan
Saudaraku, ketika para penumpang Bus Ibadah sampai di Syurga, mereka mencicipi segala kenikmatan. Namun tiba-tiba, langit tersingkap. Allah menampakkan kemuliaan-Nya. Saat itulah, semua rasa lelah saat shalat malam di dunia, semua rasa haus saat puasa, dan semua rasa takut akan neraka sirna seketika.
Ternyata, ibadah yang kita lakukan di dunia—sesederhana apa pun itu—adalah investasi untuk momen paling mengharukan tersebut: Melihat Dzat yang selama ini kita sembah dalam sujud-sujud kita.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah dalam ibadah, rindu akan Syurga-Nya, dan terjaga dan terlindung dari api Neraka.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie