Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar.

Sahabat yang dirahmati Allah, sering kali sebuah ilmu gagal tersampaikan bukan karena materi tersebut buruk, melainkan karena dibungkus dengan bahasa yang terlalu tinggi, contoh yang asing, dan ketiadaan aplikasi dalam dunia nyata. Secara ilmiah dalam psikologi kognitif, otak manusia memiliki batas beban kerja memori (cognitive load theory). Jika materi pelajaran disampaikan dengan istilah-istilah ilmiah yang rumit tanpa penyederhanaan, otak siswa akan mengalami kemacetan (overload) sehingga mereka berhenti mendengarkan.

Islam mengajarkan kita seni berkomunikasi yang penuh kelembutan dan kebijaksanaan. Solusi dari hambatan eksternal ini adalah penyesuaian materi. Seorang pendidik, baik guru, orang tua, maupun pemimpin, harus mampu menerjemahkan istilah yang rumit ke dalam bahasa yang akrab di telinga siswa, mengambil contoh dari benda-benda yang ada di sekitar mereka, dan langsung menunjukkan bagaimana ilmu itu diaplikasikan dalam kehidupan harian.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang perintah untuk menyampaikan kebenaran dengan perkataan yang mudah dimengerti, menyentuh, dan membekas pada jiwa:

وَقُل لَّهُمْ فِىٓ أَنفُسِهِمْ قَوْلًۢا بَلِيغًا

"Dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka." (QS. An-Nisa': 63)

Keteladanan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam menyesuaikan contoh materi agar mudah dipahami oleh para sahabat tergambar jelas dalam hadis berikut:

إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمًا فَقَالَ: يَا قَوْمِ إِنِّي رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَيَّ، وَإِنِّي أَنَا النَّذِيرُ الْعُرْيَانُ، فَالنَّجَاءَ النَّجَاءَ!

"Sesungguhnya tamsilan diriku dan tamsilan apa yang Allah utus aku dengannya adalah seperti seorang lelaki yang mendatangi kaumnya lalu berkata: 'Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah melihat pasukan musuh dengan kedua mataku sendiri, dan sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang bertelanjang dada (tanda kesungguhan), maka selamatkanlah diri kalian, selamatkanlah diri kalian!'" (HR. Bukhari)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita bayangkan seorang anak dari keluarga petani miskin yang baru saja kehilangan rumahnya akibat ujian bencana alam. Ia duduk di pojok kelas darurat, memegang pensil pendeknya dengan tangan bergetar. Hari itu, seorang guru baru masuk dan langsung menjelaskan rumus-rumus fisika kuantum atau teori ekonomi makro global dengan bahasa asing yang dipenuhi istilah akademis yang rumit.

Anak itu menunduk dalam-dalam. Air matanya menetes di atas meja kayu yang lapuk. Ia merasa dirinya teramat bodoh, merasa ilmu bukan diciptakan untuk anak miskin seperti dirinya. Rasa percaya dirinya hancur seketika hanya karena bahasa pengantar yang egois.

Namun, betapa indahnya ketika sang guru menyadari hal itu, lalu mengubah materinya. Guru itu mendekat, memegang pundak sang anak, dan berkata, "Nak, mari kita hitung berapa gaya tekan air yang merusak jembatan desa kita kemarin dengan rumus sederhana ini." Seketika, anak itu menghapus air matanya. Ia kembali menegakkan pundaknya karena merasa materi pelajaran hari itu mengerti akan kesedihan dan realitas hidupnya.

Sahabat, analoginya seperti seorang ibu yang ingin memberi makan bayinya yang baru tumbuh gigi. Meskipun ibu memiliki daging sapi kualitas terbaik yang sangat mahal dan penuh gizi, sang ibu tidak akan pernah menyodorkan sebongkah daging mentah yang keras itu langsung ke mulut bayinya. Jika dipaksakan, sang bayi akan tersedak, kesakitan, dan trauma melihat makanan.

Ibu yang bijak akan mencincang daging itu, merebusnya hingga lembut, lalu menyajikannya dalam bentuk bubur yang lezat agar mudah ditelan dan dicerna oleh sang bayi.

Penyesuaian materi dengan bahasa yang sederhana dan contoh yang konkrit adalah proses "mengunyah dan melembutkan" makanan bergizi bernama ilmu. Tugas pendidik adalah menjadi ibu yang penyayang, yang memastikan nutrisi ilmu bisa diserap tanpa membuat akal siswa kita tersedak oleh kesombongan istilah.

Ada seorang mahasiswa baru yang pulang ke kampung halamannya di pelosok daerah. Saat berkumpul di pos ronda, ia ingin memamerkan ilmu sosiologinya kepada para tokoh masyarakat setempat yang bekerja sebagai petani sugar palm (aren).

Dengan gaya perlente ia berkata, "Bapak-bapak sekalian, berdasarkan analisis sosiologis dan diferensiasi struktural modern, problematika fluktuasi ekonomi makro di daerah ini dipengaruhi oleh distorsi distribusi pasar modal!"

Para petani terdiam, saling berpandangan dengan bingung. Salah seorang bapak tua mematikan rokok daunnya, tersenyum simpul, lalu berkata, "Wahai anak muda, kalau bahasamu setinggi langit begitu, air nira di pohon aren kami pun tidak akan paham. Intinya begini saja: harga gula merah kita sedang anjlok karena tengkulak nakal, atau modal kita yang kurang? Gunakan bahasa bumi, Nak, agar kopimu malam ini disuguhkan dengan ikhlas!"

Seluruh warga tertawa terpingkal-pingkal. Jenaka ini membawa hikmah mendalam: ilmu yang tinggi tidak diukur dari seberapa rumit istilah yang kita obral, melainkan dari seberapa mampu ilmu itu menyelesaikan masalah nyata masyarakat dengan bahasa yang membumi.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, metode pengajaran akan kembali efektif dan menyejukkan jiwa jika kita memiliki kerendahan hati untuk menyesuaikan materi. Solusinya sangat jelas: mari sederhanakan bahasa kita, pilihlah contoh-contoh yang dekat dengan bola mata siswa, dan tunjukkan aplikasi praktisnya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sebuah materi ilmu disampaikan dengan bahasa kasih sayang yang membumi, ia tidak hanya akan mampir di telinga sebagai hafalan, melainkan akan meresap ke dalam hati dan bertransformasi menjadi amal shalih yang nyata.

Mari kita bangun jembatan kata yang kokoh, agar cahaya ilmu dapat menyeberang dengan selamat ke dalam dada setiap penuntut ilmu.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie