Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Secara sosiologis dan psikologis, konflik abadi dalam hubungan manusia berakar dari ketimpangan persepsi keadilan. Ketika seseorang—baik dalam lingkup rumah tangga maupun politik global—mengadopsi standar ganda, maka akan tercipta disonansi relasional. Jiwa manusia secara fitrah merindukan keseimbangan (equilibrium). Jika satu pihak merasa memiliki hak istimewa sementara pihak lain dibebani kewajiban tanpa penghargaan, maka sistem saraf kolektif akan mengalami stres kronis. Kedamaian hanya bisa dicapai melalui Timbal Balik Emosional, di mana setiap individu diakui kedaulatan haknya secara adil dan setara.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis :
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf." (QS. Al-Baqarah [2]: 228)
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Rasisme bukan hanya soal warna kulit, tapi soal mentalitas merasa lebih tinggi. Dalam rumah tangga, rasisme muncul saat suami merasa punya "Hak Veto" untuk mengatur segalanya tanpa mau mendengar, atau menuntut kesempurnaan istri sementara ia sendiri abai pada kewajibannya. Ingatlah, selama ada rasa "paling berhak" tanpa rasa "paling berkewajiban", masalah tidak akan pernah berakhir. Keadilan di rumah tangga adalah miniatur kedamaian dunia.
Ada seorang suami yang selalu menuntut istrinya untuk menghormati ibunya secara luar biasa. Suatu hari, ia melihat istrinya menangis karena ibunya (ibu sang istri) sedang sakit namun sang suami sering melarang istrinya berkunjung karena alasan sibuk. Tiba-tiba sang suami tersadar; ia ingin istrinya berbakti pada ibunya, namun ia menghalangi istrinya berbakti pada ibu mertuanya sendiri. Ia kemudian memeluk istrinya dan berkata, "Maafkan aku, aku telah rasis padamu. Hakmu mencintai ibumu sama besarnya dengan hakku mencintai ibuku." Sejak hari itu, rumah tangga mereka jauh lebih tenang karena keadilan telah tegak.
Pernikahan tanpa keadilan hak ibarat Dewan Keamanan PBB yang timpang. Jika suami memegang "Hak Veto" untuk semua urusan namun tidak mau menanggung kewajiban secara adil, maka rumah tangga itu akan penuh dengan resolusi yang gagal dan konflik yang terpendam. Rumah tangga seharusnya menjadi Majelis Syura, di mana suara setiap anggota dihargai, hak setiap jiwa dipenuhi, dan tidak ada satu pun yang merasa menjadi warga negara kelas dua di dalam rumahnya sendiri.
Seorang suami berkata dengan sombong, "Di rumah ini, aku adalah Raja yang punya Hak Veto!" Istrinya menjawab pelan, "Oh begitu ya, Paduka Raja? Kebetulan hari ini Permaisuri juga pakai 'Hak Veto' untuk tidak memasak, tidak mencuci baju, dan tidak menyalakan WiFi. Silakan Paduka gunakan Hak Veto Paduka untuk kenyang tanpa makan." Sang suami langsung pucat dan sadar bahwa Hak Veto tidak ada gunanya jika perut keroncongan karena rasisme rumah tangga. Hikmahnya: Jangan pakai standar ganda kalau tidak mau kena imbasnya sendiri!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, Masalah dunia—bahkan hingga tingkat PBB—bermula dari hati yang rasis, yang merasa punya hak lebih namun kewajiban kurang. Begitu juga dalam pernikahan. Suami harus memberi hak istri sebagaimana ia ingin haknya ditunaikan. Mari kita hapus mentalitas "Veto" dalam rumah tangga dan ganti dengan "Mu'asyarah bil Ma'ruf". Jika rumah tangga sudah adil, maka kedamaian dunia akan lebih mudah dicapai.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie