Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang berakal sehat dan berhati jernih,

Kita hari ini hidup di zaman di mana kecerdasan intelektual sangat dipuja-puja. Gelar akademis yang berderet, kelincahan berargumen, dan kepiawaian dalam mengolah data sering kali dianggap sebagai puncak pencapaian seorang manusia. Namun, tahukah kita ada sebuah tragedi besar yang sering melanda orang-orang pintar? Tragedi itu bernama Kelicikan Intelektual.

Kelicikan intelektual terjadi ketika seseorang menggunakan karunia otaknya yang cerdas untuk memanipulasi aturan, memalsukan fakta, atau mencari celah hukum demi keuntungan pribadi, namun ia benar-benar buta (jahalah) terhadap pengawasan Allah SWT. Kecerdasan tanpa iman dan hikmah tidak akan membawa pemiliknya menuju kemuliaan, melainkan justru mengutuknya ke dalam penderitaan yang mengerikan, baik di dunia maupun di akhirat.

Mari kita tadaburi firman Allah SWT mengenai akhir tragis orang-orang yang menggunakan tipu daya dan kelicikan, mengira mereka bisa bersembunyi dari tatapan Sang Pencipta:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

"Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak." (QS. Ibrahim: 42)

Rasulullah SAW juga memberikan peringatan yang sangat tegas dalam sebuah hadis tentang bahaya orang-orang pintar yang pandai bersilat lidah untuk memakan hak sesamanya secara zalim:

إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ، فَأَقْضِيَ لَهُ عَلَى نَحْوِ مَا أَسْمَعُ مِنْهُ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِشَيْءٍ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ فَلَا يَأْخُذْهُ، فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ

"Sesungguhnya kalian mengadukan persengketaan kepadaku, dan bisa jadi sebagian kalian lebih pandai bersilat lidah dalam mengemukakan alasannya daripada yang lain, lalu aku memutuskan perkara untuknya berdasarkan apa yang aku dengar darinya. Maka barangsiapa yang aku putuskan untuknya sesuatu yang merupakan hak saudaranya, janganlah ia mengambilnya, karena sesungguhnya (dengan demikian) aku hanyalah memotongkan untuknya sebongkah api neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan moral yang sangat tinggi dari sunnatullah ini adalah: Kecerdasan tanpa integritas adalah senjata makan tuan. Orang yang bijaksana (shahibul hikmah) memahami bahwa sekecil apa pun kelicikan yang dilakukan menggunakan pena, dokumen, atau jabatan, semuanya tercatat rapi di mahkamah langit. Menggunakan kepintaran untuk memeras, menipu, atau menindas orang lain demi meraup harta duniawi adalah bentuk kebodohan paling hakiki, karena ia sedang menukar ketenangan hidupnya dengan kutukan dan kehancuran.

Mari kita renungkan sebuah kisah nyata yang memilukan sekaligus menjadi pelajaran berharga. Ada seorang oknum aparat atau oknum intelektual yang memiliki otak sangat encer. Ia sangat paham hukum dan detail dokumen-dokumen perdagangan. Namun, alih-alih menggunakan ilmunya untuk membantu masyarakat, ia justru memanfaatkan kecerdasannya untuk berburu kesalahan orang lain.

Suatu hari, ia mendatangi seorang pengusaha paruh baya yang memiliki gudang penyimpanan barang. Dengan kelicikan intelektualnya, oknum ini merekayasa dokumen, membuat berkas palsu, dan menyusun narasi sedemikian rupa sehingga sang pengusaha tua itu tampak bersalah secara hukum dan terancam usahanya ditutup.

Sambil tersenyum sinis, oknum cerdas ini memeras sang pengusaha, meminta uang damai sebesar satu juta lira atau ratusan juta rupiah. Pengusaha tua itu menangis, berlutut, dan memohon agar tidak dihancurkan mata pencahariannya karena uang itu adalah modal sirkulasi untuk menggaji para pekerjanya. Namun, hati oknum tersebut sudah membatu oleh keserakahan. Harta haram itu akhirnya berpindah tangan.

Apakah oknum cerdas itu hidup bahagia? Sama sekali tidak. Hanya beberapa pekan setelah peristiwa pemerasan itu, Allah SWT membongkar kelicikannya melalui jalan yang tidak terduga. Skandal dokumen palsunya tercium, ia dipecat secara tidak hormat, seluruh hartanya disita, dan ia dijebloskan ke penjara yang dingin.

Tragedi tidak berhenti di sana. Karena stres dan dihantui rasa bersalah serta sumpah serapah dari orang-orang yang dizaliminya, ia terserang penyakit saraf yang parah di dalam sel hingga tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Di akhir hayatnya, ia sering menangis menjerit-jerit ketakutan di sudut sel, membayangkan wajah-wajah korban yang pernah diperasnya. Ia mati dalam kondisi yang sangat mengenaskan—sebuah akhir yang membuktikan bahwa uang satu juta lira hasil kelicikan tidak akan pernah bisa membeli seons kesehatan dan kedamaian jiwa.

Bayangkan Anda melihat seekor tikus yang sangat cerdas di dalam sebuah rumah. Tikus ini tahu persis cara menghindari sapu, tahu cara melompati jebakan lem, dan bisa membaca rute pelarian yang paling aman di langit-langit rumah. Pemilik rumah sampai geleng-geleng kepala melihat kepintaran tikus ini.

Suatu malam, pemilik rumah memasang sebuah perangkap besi yang di dalamnya diletakkan sepotong keju yang sangat harum. Tikus cerdas ini datang, ia tersenyum meremehkan perangkap tersebut. Dengan kalkulasi fisika dan anatomi tubuhnya yang hebat, ia mencoba meraih keju itu dari celah samping yang dikiranya aman.

Namun, begitu giginya menyentuh keju, KREK! Pintu besi perangkap itu menutup dengan kecepatan tinggi, mematahkan leher sang tikus seketika. Kepintaran tikus itu menguap begitu saja karena ia melupakan satu hal: esensi dari sebuah perangkap adalah menjebak, bukan untuk dironce. Begitulah kelicikan manusia; secerdas apa pun kita membuat perangkap palsu untuk orang lain, sejatinya kita sedang memasukkan leher kita sendiri ke dalam perangkap neraka Allah.

Zaman sekarang ini, tipe-tipe orang yang memiliki kelicikan intelektual ini memang bikin kita geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecut. Kalau urusan membuat laporan pertanggungjawaban (LPJ) palsu, atau merekayasa nota belanja, aduh... pintarnya minta ampun! Nota beli sapu yang harganya sepuluh ribu, di tangan orang kreatif ini bisa disulap di komputer menjadi seratus ribu lengkap dengan stempel toko fiktif hasil editan digital yang sangat rapi.

Pas ditegur, "Eh, kamu nggak takut ketahuan sama audit internal atau KPK?"

Dia jawab sambil tertawa sombong, "Tenang, bro! Analisis sistemnya sudah saya pelajari. Ini namanya seni memotong kompas. Audit manusia gak akan bisa mendeteksi celah ini!"

Ini namanya "sarjana tipu-tipu". Dia lupa, sekreatif apa pun dia mengedit nota di aplikasi komputer, Allah SWT tidak pakai sistem operasi Windows atau Mac yang bisa di-hack atau terkena virus! Di akhirat nanti, tidak ada tombol delete atau clear history untuk menghapus jejak digital kelicikan kita.

Lagipula, buat apa kepala kita dipakai pusing-pusing setiap hari memikirkan strategi memalsukan dokumen demi uang satu juta, kalau setelah dapat uangnya kita tidak bisa tidur nyenyak karena takut diciduk polisi? Mendingan otak kita dipakai untuk mikir bagaimana cara memajukan umat, atau minimal mikir bagaimana cara khatam Al-Qur'an bulan ini. Jadi, kalau punya otak cerdas, pakailah di jalan yang lurus. Jangan sampai gelar kita sarjana, tapi kelakuan kita kalah terhormat dari tikus dapur!

3. Kesimpulan dan Penutup

Sahabat sekalian, kecerdasan adalah pisau bermata dua. Jika ia dibimbing oleh hikmah dan ketakwaan, ia akan melahirkan kemaslahatan yang agung seperti yang dicontohkan oleh para ulama. Namun, jika kecerdasan itu disetir oleh hawa nafsu dan kelicikan, ia akan berubah menjadi kutukan yang menghancurkan pemiliknya sendiri. Jangan pernah silau oleh keuntungan instan yang didapatkan dari hasil memanipulasi hak orang lain.

Mari kita berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari kelicikan hati yang menipu diri sendiri. Ingatlah, lebih baik hidup sebagai orang sederhana yang tidur pulas di atas kasur tipis karena jujur, daripada menjadi orang jenius yang gemetar ketakutan di dalam benteng kemewahan yang dibangun dari fondasi kelicikan.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie