Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Secara biologis, tubuh kita hanyalah susunan atom dan mineral yang diambil dari tanah—kalsium, zat besi, dan karbon. Namun, mengapa manusia memiliki kesadaran, imajinasi, dan rasa cinta yang tak terbatas? Sains menyebutnya consciousness, namun iman menyebutnya Ruh.
Ruh adalah "unsur langit" yang dipinjamkan ke bumi. Ia tidak menua meski kulit mengeriput. Ruhlah yang membuat mata kita bisa melihat keindahan, bukan sekadar menangkap cahaya. Menyadari bahwa ada percikan rahasia Allah di dalam diri kita seharusnya membuat kita berhenti merasa rendah diri (insecure), karena setiap kita membawa "tanda tangan" Sang Pencipti yang menjadikannya sangat berharga.
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا لَهُۥ سَٰجِدِينَ
"Maka apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh-Ku ke dalamnya; maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (QS. Shad: 72)
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ
"Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut bentuk-Nya (sifat-sifat-Nya seperti mendengar, melihat, dan berkehendak)." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Kemuliaanmu bukan terletak pada merek pakaian yang kamu kenakan atau jumlah saldo di rekeningmu. Kemuliaanmu ada pada Ruh yang Allah titipkan. Maka, jangan biarkan ruh yang suci itu dikotori oleh kebencian, kesombongan, atau keputusasaan. Perlakukan dirimu dan orang lain dengan rasa hormat yang tinggi, karena di setiap dada manusia, ada nafas yang berasal dari Tuhan yang sama.
Seorang ulama pernah menangis ketika melihat seorang pemuda yang sedang mabuk terkapar di pinggir jalan. Ketika muridnya bertanya mengapa beliau menangis untuk orang seperti itu, beliau menjawab: "Aku tidak menangis karena perbuatannya, tapi aku menangis karena membayangkan mutiara (ruh) yang begitu indah dari Allah, saat ini sedang terkubur di bawah lumpur kemaksiatan. Aku ingin mencuci mutiara itu agar ia kembali bersinar dihadapan Tuhannya."
Bayangkan tubuh kita ini adalah sebuah lampu gantung kristal yang megah, dan Ruh adalah listriknya. Seberapa mahal pun kristalnya, ia tetap dingin dan gelap tanpa listrik. Namun, seberapa kuat pun listriknya, ia tidak akan terlihat keindahannya jika kristalnya pecah atau berdebu pekat. Untuk bersinar, kita butuh keduanya: raga yang terjaga (sehat dan bersih) serta ruh yang terkoneksi dengan sumber "Arus Utama" (Allah).
Seringkali kita ini lucu. Kita menghabiskan jutaan rupiah untuk merawat "casing" (tubuh) yang suatu saat akan dimakan cacing, tapi pelit luar biasa untuk memberi asupan bagi "pengendara" di dalamnya (ruh). Itu ibarat membeli bensin paling mahal untuk mobil, tapi sopirnya dibiarkan kelaparan sampai pingsan. Jangan heran kalau hidup kita sering "mogok" di tengah jalan meskipun penampilan sudah glowing!
3. Kesimpulan dan Penutup
Kita bukan sekadar makhluk tanah, kita adalah makhluk langit yang sedang bertamu di bumi. Ingatlah, bahwa di dalam dirimu ada sesuatu yang membuat Malaikat pun bersujud. Jangan hinakan dirimu dengan kemaksiatan, dan jangan rendahkan orang lain dengan kesombongan. Kembalilah pada kesucian ruhmu.
Semoga Allah senantiasa menjaga cahaya-Nya di dalam hati kita semua. Amin.