Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, salah satu hambatan eksternal yang paling berat dalam membangun peradaban ilmu adalah lingkungan sosial yang dihinggapi budaya malas membaca dan rendahnya kebiasaan belajar. Secara psikologi sosial dan neurosains, otak manusia dibentuk oleh kebiasaan lingkungannya (environmental conditioning). Ketika seseorang hidup di tengah ekosistem budaya yang lebih menyukai hiburan instan, gosip, atau tontonan tanpa tuntunan, maka dorongan internal untuk membaca buku dan mendalami ilmu akan pelan-pelan meredup, tergilas oleh arus kemalasan kolektif.

Islam adalah agama yang lahir dengan mendobrak kegelapan peradaban melalui perintah membaca. Wahyu pertama yang turun di Gua Hira bukanlah perintah untuk shalat, puasa, atau berperang, melainkan sebuah revolusi literasi: Iqra' (Bacalah!). Membaca adalah instrumen ilmiah yang menyejukkan jiwa, memperluas cakrawala, dan menjadi syarat mutlak untuk mengenal pencipta serta hukum-hukum-Nya di alam semesta.

Allah SWT menegaskan perintah membaca dan menulis sebagai fondasi ilmu pengetahuan dalam wahyu yang paling awal:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmula Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena." (QS. Al-'Alaq: 1-4)

Rasulullah SAW juga selalu mendidik para sahabat untuk aktif belajar dan memohon perlindungan dari sifat malas—termasuk malas membaca dan menuntut ilmu—karena kemalasan adalah rantai yang membelenggu kemajuan umat:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan." (HR. Bukhari)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita merenungkan sebuah potret nyata yang jamak kita temui di sudut-sudut lingkungan kita. Di sebuah perpustakaan desa atau pojok baca sekolah yang sepi, beratus-ratus buku bermutu berjejer rapi di rak kayu. Buku-buku itu menyimpan sejarah peradaban, tafsir-tafsir Al-Qur'an yang mendalam, dan sains yang menakjubkan. Namun, lembaran-lembaran buku itu tampak kusam, berdebu, dan sebagian mulai menguning dimakan rayap tanpa pernah ada jemari yang menyentuhnya.

Di luar ruangan itu, anak-anak muda kita berkumpul di pos ronda atau sudut jalan hingga larut malam. Mata mereka menatap kosong ke layar gadget, jari-jari mereka lincah menggeser video-video pendek yang melalaikan, sementara batin mereka kosong dari ilmu. Menyedihkan sekali melihat sebuah bangsa yang merdeka fisiknya, namun jiwanya terjajah oleh kabut kemalasan membaca. Mereka kehilangan minat pada warisan intelektual ulama terdahulu, membiarkan otak mereka tumpul, dan pelan-pelan kehilangan arah masa depan karena enggan membaca.

Budaya malas membaca di tengah masyarakat ini laksana sebuah "Pasukan Perang yang Berjalan Menuju Medan Tempur yang Sangat Luas, tetapi Mereka Memilih untuk Mengunci Semua Senjata dan Amunisi Canggih Mereka di Dalam Peti Besi, Lalu Membuang Kuncinya ke Dalam Laut". Peti besi itu penuh dengan pedang, perisai, dan peta strategi (seperti tumpukan buku, kitab, dan perpustakaan).

Pesan Moral: Tanpa membuka peti tersebut (tanpa membaca), pasukan itu akan masuk ke medan kehidupan dalam keadaan buta, lemah, dan sangat mudah dihancurkan oleh musuh hanya dengan sekali serang. Membaca adalah kunci pembuka peti senjata bernama "akal". Jangan biarkan dirimu maju ke medan kehidupan tanpa membawa senjata ilmu yang tajam.

Lucunya masyarakat kita di era digital ini, minat bacanya itu sebenarnya tidak rendah-rendah amat, tapi yang dibaca salah alamat! Kalau disuruh membaca buku sejarah Islam, kitab fiqih, atau artikel ilmiah setebal tiga halaman, mata langsung otomatis terasa berat, menguap berjamaah, dan mendadak terserang kantuk stadium akhir.

Tapi coba kalau ada teks berjalan di media sosial berupa caption gosip artis atau berita miring tentang tetangga sebelah, oh... jangankan tiga halaman, tulisan sepanjang jalur kereta api pun bakal dibaca sampai tuntas dari atas sampai bawah, bahkan kolom komentarnya pun ikut dianalisis mendalam bagai profesor jeli!

Ini adalah sentilan jenaka yang pahit bagi kita. Kita bukan tidak bisa membaca, kita hanya salah memilih nutrisi untuk otak kita. Kita sibuk memberi makan pikiran kita dengan "sampah visual", sementara ruhani kita kelaparan karena kekurangan gizi dari buku-buku yang bermanfaat.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, hambatan eksternal berupa budaya malas membaca dan kurangnya kebiasaan belajar di tengah masyarakat adalah tantangan budaya yang harus kita lawan bersama dengan gerakan yang masif. Pesan moral tertingginya adalah: peradaban Islam dahulu memimpin dunia karena para ulamanya adalah pembaca dan penulis yang gila ilmu. Jika kita ingin mengembalikan kejayaan itu, kita harus memulai dari diri kita sendiri dan lingkungan terkecil kita.

Mari kita hidupkan kembali tradisi Iqra' di rumah-rumah kita. Matikan layar gadget sejenak, buka lembaran kitab, bicarakan isi buku di meja makan bersama keluarga, dan jadikan aktivitas belajar sebagai gaya hidup yang membanggakan. Matinya sebuah bangsa dimulai ketika warganya berhenti membaca.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie