Cinta adalah bahan bakar jiwa. Tanpa cinta, ibadah terasa hambar, dan hidup terasa gersang. Namun, di atas segala jenis cinta, ada satu poros yang menentukan nasib kebahagiaan kita di dunia dan akhirat: Mahabbatullah.
1. Cinta Sebagai Magnet Semesta
Secara filosofis dan teologis, cinta Allah bukanlah sekadar perasaan subjektif, melainkan sebuah Hukum Ketetapan. Ketika frekuensi hati seorang hamba selaras dengan rida Pencipta, maka seluruh alam semesta—yang berada di bawah kendali-Nya—akan beresonansi positif terhadap hamba tersebut.
Dalam literatur Tazkiyatun Nafs, para ulama menyebutkan bahwa cinta kepada Allah adalah "Raja" dari segala amal. Anggota tubuh adalah prajuritnya. Jika rajanya bijak dan kuat, maka seluruh prajurit akan bergerak dalam harmoni.
2. Dalil Al-Qur'an dan Sunnah
Berikut adalah landasan utama mengapa mencintai Allah adalah kunci dari segala pintu:
A. Dalil Al-Qur'an
Allah SWT berfirman tentang tingkatan cinta orang beriman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
"Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah." (QS: Al-Baqarah: 165)
B. Dalil As-Sunnah (Hadits Qudsi tentang Resonansi Langit)
Inilah hadits yang menjelaskan bagaimana dukungan makhluk datang setelah dukungan Sang Pencipta:
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ
"Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril: 'Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.' Lalu Jibril mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penduduk langit: 'Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.' Maka penduduk langit mencintainya, kemudian diletakkan baginya penerimaan (cinta) di bumi." (HR. Bukhari & Muslim)
3. Saat Lelah Menjadi Lillah
Bayangkan Anda sedang berjalan di tengah badai, namun Anda tahu bahwa Sang Pemilik Badai sedang memeluk Anda dengan kasih sayang-Nya. Itulah Mahabbatullah. Ia tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tapi ia menjanjikan ketenangan di tengah masalah.
Ketika Allah mencintai Anda, "penerimaan di bumi" (al-qabul) bukan berarti semua orang akan memuji Anda, melainkan Allah akan melembutkan hati orang-orang saleh untuk mendukung Anda, dan Allah akan memberi Anda kekuatan untuk tidak hancur oleh cacian orang yang benci.
4. Amalan Salafussalih
Para pendahulu kita yang saleh tidak hanya berzikir dengan lisan, tapi dengan seluruh eksistensi mereka. Salah satu amalan mereka adalah Al-Khulwah (menyepi sejenak bersama Allah).
Ibnul Qayyim menyarankan amalan: "Membaca Al-Qur'an dengan tadabbur seolah-olah Allah sedang berbicara langsung kepadamu." Inilah cara tercepat mengundang cinta-Nya
5. Tamsilan Yang Indah
- seekor ikan yang mencoba mencari kebahagiaan di daratan. Ia mungkin menemukan emas, permata, atau makanan lezat, tapi ia tetap akan mati karena ia keluar dari habitat aslinya: air. Manusia pun demikian. Habitat asli jiwa manusia adalah "Kedekatan dengan Allah". Sejauh apa pun kita mencari harta, tanpa cinta Allah, jiwa kita akan tetap merasa "sesak napas" dan kering.
- Seringkali kita ini lucu (dan agak tidak tahu diri). Kita menghabiskan waktu berjam-jam berdandan di depan cermin agar disukai orang lain, padahal yang memegang "remote kontrol" hati orang tersebut adalah Allah. Itu ibarat kita merayu seorang satpam agar bisa masuk ke dalam istana, sementara kita mengabaikan Sang Raja yang sedang berdiri di depan pintu sambil memegang kunci. Capek, kan? Padahal kalau kita baik-baikin Rajanya, satpamnya bukan cuma buka pintu, tapi mungkin juga bikinin kita kopi.
6. Pesan Penting
Jangan mengejar bayangan. Jika Anda mengejar cinta makhluk, Anda seperti mengejar bayangan sendiri; ia akan terus lari. Namun, jika Anda berjalan menuju Cahaya (Allah), maka bayangan (dunia dan makhluk) akan otomatis mengikuti Anda dari belakang. Carilah rida-Nya, maka dunia akan datang dalam keadaan tunduk.
Abu Sultan Al-Qadrie