Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita ikut suatu kajian kitab yang tinggi, atau mencoba membaca tafsir yang mendalam, tapi di tengah jalan kita pusing, bingung, dan akhirnya menyerah? Lalu muncul bisikan halus di dalam hati: "Ilmu agama ini terlalu rumit, saya menyerah saja."

Hambatan internal ini sering kali bukan karena kita tidak cerdas, melainkan karena kita kurang pemahaman dasar atau ada materi prasyarat yang belum kita kuasai. Kita ingin langsung melompat ke atap rumah, padahal pondasi dan tangganya belum kita bangun.

Secara metodologi pendidikan (scientific pedagogy), ilmu pengetahuan bersifat akumulatif dan bertahap (gradual). Seseorang tidak akan bisa memahami kalimat yang kompleks sebelum ia menguasai kosakata dasar.

Secara spiritual, Islam mengajarkan konsep Rabbani, yaitu mendidik dan belajar secara bertahap, mulai dari perkara yang paling mendasar sebelum melangkah ke perkara yang besar. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an tentang karakter pendidik dan penuntut ilmu yang ideal:

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادًا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

"Tidak sepatutnya seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: 'Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.' Akan tetapi (dia berkata): 'Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.'" (QS. Ali 'Imran: 79)

Para ulama, seperti Imam Al-Bukhari, menjelaskan bahwa seorang Rabbani adalah mereka yang mendidik manusia atau belajar dengan mendahului ilmu-ilmu yang kecil (dasar) sebelum ilmu-ilmu yang besar.

Rasulullah SAW juga mengingatkan agar kita menyampaikan dan mempelajari sesuatu sesuai dengan kapasitas pemahaman dasar yang dimiliki, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman:

حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

"Berbicaralah (dan belajarlah) kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui (pahami). Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?" (HR. Bukhari )

2. Pelajaran dan Pesan

Tidak ada kata terlambat untuk turun ke bawah dan mengulang pelajaran dasar. Menurunkan ego dan gengsi untuk belajar "alif, ba, ta" kembali, atau menghafal kaidah-kaidah dasar, jauh lebih mulia di hadapan Allah daripada memaksakan diri terlihat hebat di tingkat atas padahal rapuh di tingkat bawah.

Bayangkan kisah seorang paruh baya yang baru mendapat hidayah di usia senja. Dengan penuh semangat, ia langsung membeli kitab-kitab hukum fikih yang tebal dan rumit. Ia membacanya siang dan malam tanpa guru, tanpa mengerti kaidah dasar bersuci (thaharah) dan rukun shalat yang benar.

Suatu hari, ia dengan percaya diri berfatwa dan menyalahkan cara shalat orang lain di masjid. Ketika ditegur dengan lembut oleh seorang ustaz bahwa pemahamannya keliru karena melompati ilmu dasar, orang tua ini menangis tersedu-sedu di pojok masjid. Ia meratapi nasibnya, merasa malu, dan berkata, "Saya kira saya sudah paham, ternyata saya tersesat di dalam bacaan saya sendiri." Sungguh menyedihkan ketika semangat yang menggebu-gebu berujung pada kekeliruan hanya karena enggan melewati anak tangga pertama.

Belajar ilmu tinggi tanpa menguasai materi prasyarat itu ibarat kita nekat mau bikin martabak telur spesial, tapi kita sama sekali tidak tahu cara memecahkan telur dan menyalakan kompor gas!

Baru mulai, kulit martabaknya sudah gosong, kompornya meledak, gasnya bocor, dan telurnya malah menggelinding ke selokan. Pas hasilnya amburadul, kita malah menyalahkan resep martabaknya: "Ah, resep martabak ini sesat dan susah banget!" Padahal yang salah siapa? Ya kita sendiri! Mengapa gaya-gayaan mau bikin martabak kelas restoran kalau menyalakan kompor saja tangan kita masih gemetaran?

Maka dari itu, jangan malu untuk belajar memecahkan telur dulu. Jangan malu belajar nahwu sharaf dari tingkat pemula, jangan malu belajar tajwid dari dasar, sebelum kita melompat membaca kitab-kitab para ulama besar.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saaudara dan saudari yang berbahagia , hambatan karena kurangnya kemampuan dasar ini obatnya hanya satu: bersabar dalam bertahap. Ilmu itu tidak bisa direnggut sekaligus. Barangsiapa yang ingin mengambil ilmu langsung semuanya secara instan, maka ilmu itu juga akan hilang darinya sekaligus.

Mari kita petakan kembali proses belajar kita. Jika di tingkat atas kita bingung, mundurlah satu langkah ke tingkat bawah dengan penuh tawadhu. Kokohkan pondasinya, kuasai materi prasyaratnya, karena bangunan ilmu yang berdiri di atas pondasi yang kuat tidak akan pernah roboh oleh badai ujian apa pun.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie