Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, sebuah kebenaran atau ilmu yang sangat tinggi nilainya bisa menjadi dinding tebal yang menakutkan jika disampaikan oleh pengajar yang tidak memiliki metode pedagogi yang baik. Sebagai contoh nyata dalam dunia pendidikan Islam, kajian kitab kuning seperti materi Al-Af'al al-Mu'rabat (kata-kata kerja yang mengalami perubahan harakat akhir dalam tata bahasa Arab). Banyak penuntut ilmu mengalami kesulitan instrumentatif (alat bantu paham) dan epistemologis (akar konseptual) bukan karena materi itu mustahil dipahami, melainkan karena metode penyampaiannya terlalu rumit, kaku, dan kering dari pendekatan pedagogis yang modern.

Secara ilmiah, pedagogi adalah seni dan sains dalam mendidik. Pengajar yang menguasai materi tetapi buta pedagogi akan membuat ilmu alat yang harusnya menjadi "kunci pembuka" berubah menjadi "gembok pengunci" potensi siswa. Islam sangat menekankan bahwa seorang pendidik wajib memiliki keahlian pedagogis—yaitu kemampuan mengurai hal yang rumit menjadi mudah, serta menyampaikan ilmu sesuai tingkat intelektual penuntun ilmu agar jiwa mereka merasa sejuk dan termotivasi.

Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menggunakan metode pedagogi tutur kata yang tepat dan lembut, bahkan ketika menghadapi manusia sekaku Fir'aun:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

"Maka bicaralah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut." (QS. Thaha: 44)

Rasulullah SAW sebagai figur pendidik agung memberikan panduan pedagogis ilmiah agar para pengajar selalu menyesuaikan bobot materi dan metode penyampaian dengan kapasitas akal audiensnya:

كَلِّمُوا النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ

"Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka." (HR. Dailami)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita tengok potret seorang santri atau pelajar di sebuah ruang kelas. Ia datang dengan cita-cita mulia: ingin bisa membaca kitab suci, memahami sabda nabi, agar bisa menjadi ulama yang bermanfaat. Namun, di depan kelas, sang pengajar langsung memberondongnya dengan hafalan kaidah yang rumit, menggunakan bahasa penyampaian yang sulit dijangkau, tanpa ilustrasi, dan tanpa pendekatan pedagogi yang ramah.

Ketika santri ini bingung dan keliru membedakan mana fi'il yang marfu', manshub, atau majzum, sang guru memukul mejanya dan menyindirnya, "Materi mudah begini saja tidak paham, ke mana saja otakmu?!"

Anak itu menunduk dalam-dalam, air matanya menetes di atas lembaran kitab nahwu yang masih bersih. Di dalam hatinya, rasa cinta pada bahasa surga itu padam seketika digantikan trauma mendalam. Ia merasa dirinya bodoh dan akhirnya memutuskan berhenti belajar. Menyedihkan ketika sebuah metode yang buruk justru menjadi pembunuh karakter dan impian penuntut ilmu.

Ketiadaan metode pedagogi yang baik dari seorang pengajar ini laksana seorang "Pemilik Rumah yang Ingin Memberikan Kunci Gerbang Utama kepada Tamunya, tetapi Kunci itu Dilemparkan Begitu Saja dari Lantai Tiga hingga Mengenai Kepala sang Tamu". Kuncinya benar dan asli . Namun, karena cara memberikannya kasar, tidak beretika, dan tanpa metode yang benar, kunci itu bukannya membukakan pintu, melainkan justru melukai orang yang ingin masuk ke dalam rumah.

Menjadi guru yang kompeten bukan sekadar pamer seberapa banyak kitab yang telah kita lahap, melainkan seberapa lembut dan terstrukturnya kita meletakkan kunci-kunci ilmu itu ke dalam genggaman jemari murid-murid kita.

Fenomena pengajar tanpa pedagogi ini sering kali melahirkan momen yang menggelitik. Ada tipe ustadz atau guru yang kalau mengajar materi Nahwu-Sharaf tingkat lanjut, auranya tegang sekali seperti sedang memimpin sidang mahkamah militer. Baru masuk menit pertama, beliau sudah berkata dengan wajah sangar, "Hari ini kita bedah perubahan harakat fi'il, kalau ada yang salah harakat satu saja, besok tidak boleh ikut kelas saya lagi!"

Para siswa di kelas langsung gemetaran, menahan napas berjamaah, dan mendadak lupa cara mengeja nama sendiri. Jangankan mau paham materi mu'rabat, mau bertanya saja rasanya nyawa sudah di ujung tanduk! Ini adalah sentilan jenaka berhikmah: mengajar itu bukan ajang uji nyali atau menakut-nakuti siswa. Jika metode kita membuat kelas terasa seperti ruang interogasi, jangan heran kalau di akhir semester murid kita tidak bertambah pintar, tetapi malah bertambah daftar penyakit asam lambungnya karena stres!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, hambatan eksternal berupa pengajar yang miskin metode pedagogi adalah tantangan serius yang menuntut reformasi cara mengajar kita. Menguasai materi—seperti seluk-beluk tatabahasa Arab—adalah syarat mutlak, namun menguasai cara menyampaikan materi tersebut dengan pendekatan yang manusiawi, adaptif, dan sistematis adalah mahkota dari ilmu itu sendiri. Kesulitan instrumentatif dan epistemologis siswa harus dijembatani dengan inovasi mengajar, kesabaran, dan ketulusan hati.

Mari kita, para pendidik dan da'i, terus belajar memperbaiki tata cara pedagogi kita. Sebab, keindahan ilmu agama ini hanya akan terlihat memancar jika disampaikan dengan cara-cara yang indah pula.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie