Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Secara ilmiah, dalam psikologi massa di media sosial, ada fenomena yang disebut Illusory Truth Effect—kecenderungan manusia untuk mempercayai suatu informasi sebagai kebenaran hanya karena informasi itu sering lewat di berandanya (viral), tanpa peduli itu fakta atau hoaks.

Islam sejak 14 abad lalu telah memberikan formula ilmiah yang dahsyat untuk menjaga kesehatan mental dan sosial kita dari racun kabar bohong, yaitu sistem Tabayyun (Verifikasi).

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. ( QS – Al- Hujurat : 6 )

Meneliti sumber ilmu bukan sekadar formalitas akademik, melainkan pelindung jiwa agar hati kita tidak keruh oleh kebencian yang lahir dari berita palsu.

Rasulullah SAW juga memberikan peringatan yang sangat tegas dalam sebuah hadis:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

"Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan (menyebarkan) setiap apa yang didengarnya (tanpa disaring).( HR : Muslim )

2. Pelajaran dan Pesan

Menelan informasi tanpa meneliti sumbernya itu ibarat kita mengambil air minum langsung dari genangan air di pinggir jalan raya. Airnya mungkin terlihat jernih sekilas, tapi kita tidak pernah tahu kuman, bakteri, atau racun apa yang mengendap di dalamnya. Orang yang cerdas pasti hanya akan meminum air yang jelas sumber mata airnya, higienis, dan teruji. Begitu pula dengan ilmu dan informasi; jangan biarkan pikiran kita menjadi tempat penampungan "sampah digital" yang tidak jelas asalnya.

Mari kita bayangkan perjuangan salah satu ulama hadis terbesar, Imam Bukhari. Demi memeriksa keotentikan satu buah hadis saja, beliau rela menempuh perjalanan berbulan-bulan, melintasi padang pasir yang terik dari Bukhara ke Madinah, Mesir, hingga Baghdad. Beliau mengorbankan harta, air mata, dan fisiknya hanya untuk memastikan: "Apakah orang yang menyampaikan hadis ini jujur dan tepercaya?" Pengorbanan air mata para ulama terdahulu bertolak belakang dengan kemudahan kita hari ini. Mereka berjalan ribuan kilometer demi satu kalimat yang sahih; kita hari ini hanya butuh waktu satu detik untuk menyebarkan berita yang belum tentu sahih. Sungguh sebuah tamparan bagi adab literasi kita.

Zaman sekarang ini lucu, sahabat. Ada orang yang kirim pesan di grup WhatsApp keluarga dengan kalimat pembuka: "Tolong sebarkan, dari sumber tepercaya!" Tapi begitu ditanya, "Siapa sumber tepeçayanya, Om?", jawabannya, "Ya pokoknya dari grup sebelah!" Jalur sanad (sumber) ilmu kita sekarang sudah berubah menjadi: dari Grup Sebelah, turun ke Grup Alumni, lalu masuk ke Grup Keluarga, berakhir di Status Instastory. Kalau ditanya di akhirat nanti, "Dari mana kamu dapat ilmu ini?", masa kita mau jawab, "Dari akun anonim di TikTok yang pakai backsound sedih, Ya Allah"? Kan tidak lucu! Internet itu luas, tapi ingat, kuota internetmu tidak otomatis membeli kebenaran.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahgia, kecerdasan digital yang sesungguhnya bukan terletak pada seberapa cepat jempol kita membagikan berita hangat, melainkan seberapa bijak kita menahan diri untuk memeriksa kebenaran sumbernya. Sebelum menekan tombol Share, bertanyalah pada diri sendiri: "Apakah ini benar? Apakah ini bersumber dari ahlinya? Dan apakah ini membawa manfaat?"

Jika tidak jelas sumbernya, jadikan smartphone kita sebagai tempat "pemakaman" terakhir bagi berita hoaks tersebut. Cukup berhenti di kita, jangan diteruskan.

"Memastikan kebenaran sumber ilmu adalah bukti keimanan, sedangkan tergesa-gesa menyebarkannya adalah celah bagi penyesalan."

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie