Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Teman-teman media sosial yang dirahmati Allah, pernahkah kita mengeluh karena terjebak macet saat mau berangkat kuliah atau kerja? Mari sejenak kita tengok saudara-saudara kita di pedalaman. Bagi mereka, hambatan eksternal bukan sekadar macet, melainkan jembatan gantung yang putus, sungai berarus deras yang harus diarungi tanpa alas kaki, atau ongkos angkutan yang menghabiskan upah harian orang tua mereka.
Secara ilmiah, keterbatasan akses fisik dan mahalnya biaya transportasi ini sering kali memicu academic burnout atau keputusasaan dini pada anak. Namun, secara spiritual, setiap peluh, langkah kaki, dan putaran roda di jalan yang rusak itu adalah investasi abadi. Allah SWT tidak pernah menutup mata bagi mereka yang berjuang.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
Artinya: "Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."( QS : Al-Mujadalah : 11 )
Setiap langkah kaki yang berat di medan yang sulit itu pun dihitung sebagai jalan pintas menuju surga oleh Rasulullah SAW :
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.( Abu Daud )
2. Pelajaran dan Pesan
Bayangkan seorang anak bernama Ihsan di pelosok sebuah daerah. Setiap jam 4 pagi, saat kita mungkin masih menarik selimut, Ihsan sudah berjalan kaki menembus hutan sejauh 7 kilometer. Sepatunya yang bolong sengaja dilepas dan ditenteng agar tidak basah oleh embun dan lumpur. Suatu hari, Ihsan tiba di sekolah dengan baju basah kuyup karena jembatan bambu yang ia seberangi licin dan membuatnya tergelincir ke sungai. Bukannya pulang, ia duduk di pojok kelas sambil menggigil, memeluk buku tulisnya yang untungnya ia bungkus plastik rapat-rapat. Dia menangis bukan karena badannya dingin, tapi karena takut tinta di bukunya luntur dan ia tidak bisa belajar.
Anak-anak yang menghadapi hambatan eksternal ini mirip seperti biji mahoni. Biji mahoni itu punya sayap tipis, ia harus jatuh dari pohon yang tinggi, diombang-ambingkan oleh angin kencang, dan terhempas di tanah yang keras. Kelihatannya menderita, bukan? Tapi justru karena proses diombang-ambingkan angin itulah, ia bisa terbang jauh dan tumbuh menjadi pohon raksasa yang kayunya sangat kuat dan dihargai mahal. Hambatan jalan dan biaya bukanlah dinding penghenti, melainkan "angin kencang" yang sedang menerbangkan mental mereka menuju kedewasaan yang tangguh.
Tapi ya, kalau kita lihat anak zaman sekarang yang fasilitasnya serba ada, beda cerita. Kadang di kota besar, mau ke sekolah yang jaraknya cuma 5 menit saja mintanya diantar mobil ber-AC. Begitu di jalan ada genangan air sedikit, langsung update status: "Duh, mager parah, jalannya banjir, fix bolos aja demi keselamatan jiwa." Padahal banjirnya cuma semata kaki, itu pun genangan air bekas cucian motor tetangga! Kita yang fasilitasnya mudah ini kadang kalah mental sama mereka yang harus "baku hantam" dengan alam demi bisa membaca buku.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, hambatan eksternal seperti infrastruktur yang buruk dan biaya transportasi yang tinggi memang ujian fisik yang berat. Namun, pesan moralnya jelas: Kemudahan fasilitas sering kali memanjakan mental, sementara hambatan eksternal justru menempuh karakter.
Bagi kita yang diberi kemudahan akses, tugas kita ada dua: bersyukur dengan cara belajar lebih serius, dan mengulurkan tangan (zakat, sedekah, atau bantuan fasilitas) untuk mempermudah jalan mereka. Karena boleh jadi, pahala surga kita justru didapat dari bensin yang kita isikan ke motor guru honorer, atau dari semen yang kita sumbangkan untuk membangun jembatan sekolah mereka.
Mari kita tutup dengan doa agar anak-anak bangsa di pelosok negeri selalu dijaga oleh Allah, dikuatkan fisiknya, dan diangkat derajatnya menjadi pemimpin masa depan yang amanah.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie