Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, salah satu hambatan eksternal yang paling mendasar dalam dinamika sosial kita hari ini adalah pergeseran paradigma atau cara pandang masyarakat terhadap pendidikan agama. Secara sosiologis, ada kecenderungan kuat di mana ilmu agama sering kali diposisikan sebagai materi "tambahan", sekadar pelengkap kurikulum, atau dianggap tidak memiliki nilai strategis dalam masa depan finansial seseorang. Ilmu duniawi dikejar dengan pengerahan materi dan energi yang luar biasa, sementara ilmu agama ditempatkan di nomor sekian.
Secara epistemologi Islam, pemisahan atau kasta berpikir seperti ini adalah kekeliruan yang fatal. Ilmu agama bukanlah cabang pelengkap kehidupan, melainkan fondasi utama (the core foundation) yang mengarahkan untuk apa seluruh ilmu dunia itu digunakan. Tanpa ilmu agama, ilmu dunia yang tinggi berpotensi melahirkan kerusakan. Islam memandang bahwa mengenal syariat dan batasan Allah adalah kebutuhan primer bagi setiap jiwa agar selamat di dunia dan akhirat.
Allah SWT menyindir pergeseran orientasi berpikir manusia yang hanya fokus pada kulit luar dunia namun abai pada hakikat masa depan hakikinya:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (QS. Ar-Rum: 7)
Rasulullah SAW juga menegaskan secara ilmiah bahwa tanda utama kebaikan dan kebahagiaan hidup seorang hamba yang dikehendaki oleh Allah bukanlah kelimpahan materi semata, melainkan pemahaman yang mendalam tentang agamanya:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya." (HR. Bukhari)
2. Pelajaran dan Pesan Moral
Mari kita merenungkan sebuah potret yang sering terjadi di sekitar kita. Ada seorang anak remaja yang memiliki kecerdasan luar biasa dan hati yang condong pada kebaikan. Di waktu senggangnya, ia secara sembunyi-sembunyi membaca buku agama dan rindu untuk masuk ke sekolah agama atau pondok pesantren demi mendalami Al-Qur'an dan syariat.
Namun, ketika ia menyampaikan cita-cita mulia itu kepada orang tuanya, wajah orang tuanya langsung berubah kecewa dan marah. Orang tuanya berkata, "Mau jadi apa kamu masuk sekolah agama? Mau jadi marbot masjid? Mau makan apa nanti kalau sudah besar? Agama itu cukup belajar mengaji malam hari saja, yang penting kamu cari sekolah umum yang menjamin masa depanmu!"
Anak itu terdiam, melipat kembali impiannya, dan air matanya menetes di atas lantai. Sungguh menyedihkan melihat sebuah potensi generasi robbani harus dipadamkan justru oleh orang tua kandungnya sendiri, hanya karena ketakutan yang berlebihan terhadap urusan rizki duniawi dan menganggap ilmu agama tidak punya nilai jual.
Pemahaman masyarakat yang menganggap ilmu agama hanya sebagai "tambahan" ini laksana seorang "Arsitek yang Membangun Gedung Pencakar Langit Megah, tetapi Menganggap Pondasi Cakar Ayam di Dalam Tanah Hanyalah Komponen Tambahan yang Boleh Ada atau Boleh Tidak". Ia menghabiskan seluruh anggarannya untuk mempercantik kaca jendela, memasang marmer mewah, dan mengecat dinding luar (seperti mengejar ilmu dunia dan gelar akademik).
Seindah apa pun gedung itu di luar, jika pondasi bawah tanahnya rapuh atau dianggap tidak penting, maka begitu gempa kecil guncangan hidup datang—seperti krisis moral, broken home, atau ujian mental—gedung mewah itu akan langsung runtuh berkeping-keping. Ilmu agama adalah pondasi bawah tanah yang tak terlihat, namun ia yang menopang seluruh kemegahan hidup kita agar tidak roboh saat badai ujian menerpa.
Lucunya, masyarakat kita yang menganggap pendidikan agama itu cuma "tambahan", biasanya akan mendadak menempatkan ilmu agama di nomor satu kalau situasi darurat sudah terjadi. Pas anak masih sehat dan sekolah, kalau nilai matematikanya dapat merah, orang tuanya langsung panik luar biasa, dicarikan guru les privat paling mahal, anak dimarahi habis-habisan. Tapi kalau anaknya tidak bisa shalat atau tidak bisa baca Al-Qur'an, orang tuanya santai saja sambil bilang, "Ah tidak apa-apa, kan masih kecil, besok kalau sudah tua juga bisa sendiri."
Nah, giliran nanti orang tuanya sudah wafat, di dalam kubur mereka membutuhkan kiriman doa dari anak yang shalih. Sementara sang anak, jangankan mau memimpin shalat jenazah atau membaca doa kubur yang panjang, membaca surah Al-Ikhlas saja harakatnya masih tertukar karena dulu menganggap pelajaran agama cuma "tambahan"! Akhirnya sang anak di depan makam hanya bisa termenung sambil memegang ponsel, mencari di Google: "Doa untuk orang tua yang mudah dan singkat."
Ini adalah sentilan jenaka yang sangat perih: kita sering mengesampingkan ilmu agama saat hidup, padahal ilmu itulah satu-satunya yang kita butuhkan dari anak-anak kita saat kita sudah terbujur kaku di alam kubur.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, hambatan eksternal berupa cara pandang masyarakat yang meremehkan pendidikan agama adalah pekerjaan rumah budaya yang besar bagi kita semua. Kita harus membalikkan paradigma keliru ini. Ilmu agama bukanlah urusan sampingan, bukan sekadar pelajaran penutup di hari Jumat, melainkan ruh dari seluruh aktivitas kehidupan kita. Ilmu duniamu akan menjadi mulia dan berkah jika dituntun oleh ilmu agamamu.
Mari kita, sebagai orang tua, pendidik, dan anggota masyarakat, mulai memberikan porsi penghormatan dan fasilitas yang terbaik untuk pendidikan agama anak-anak kita. Jangan biarkan generasi masa depan kita menjadi raksasa dalam ilmu dunia, namun menjadi kurcaci yang buta dalam ilmu akhirat.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie