Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, di zaman digital ini, informasi begitu mudah didapat. Cukup ketik satu kata kunci, jutaan artikel keluar. Namun, mengapa rasanya ketenangan jiwa dan keberkahan hidup makin sulit diraih? Jawabannya ada pada satu kata yang mulai langka: Adab kepada guru dan sumber ilmu.

Ilmu itu bukan sekadar tumpukan data di kepala, melainkan cahaya (nuur) yang menuntun jiwa. Dan cahaya itu hanya akan mengalir lewat ridha seorang guru.

Secara psikologi dan spiritual, ilmu yang berkah didapatkan dari proses menyimak yang penuh rasa hormat. Ketika kita merendahkan hati di hadapan guru, ego kita mengecil, dan di situlah wadah jiwa kita siap menerima mutiara hikmah.

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur'an tentang pentingnya mendengarkan dan memperhatikan dengan baik ketika ilmu (Al-Qur'an/nasihat) disampaikan:

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat."

Jika mendengar kalam Allah saja mendatangkan rahmat, maka mendengarkan penjelasan dari para pewaris nabi (para guru) dengan adab yang sama juga akan mengalirkan keberkahan yang luar biasa.

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita dalam sebuah hadis:

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَتَعَلَّمُوا لِلْعِلْمِ السَّكِينَةَ وَالْوَقَارَ وَتَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ

"Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah untuk ilmu tersebut ketenangan dan kewibawaan, serta merendah-hatilah kepada orang yang kamu menuntut ilmu darinya."

2. Pelajaran dan Pesan

Bayangkan air terjun. Air tidak akan pernah mengalir ke puncak gunung yang tinggi dan sombong. Air selalu mengalir ke lembah yang rendah. Begitulah ilmu. Ilmu tidak akan sudi masuk ke dalam hati yang tinggi, sombong, dan merasa sudah tahu segalanya. Ilmu hanya akan mengalir dan menetap di dalam hati yang merendah, yang mau duduk mendengarkan dengan takzim.

Mari kita tengok kisah Imam Syafi’i, salah satu ulama terbesar sepanjang sejarah. Beliau adalah orang yang sangat cerdas, namun adabnya kepada guru luar biasa indah. Imam Syafi’i pernah berkata: "Aku membuka lembaran buku di hadapan guruku, Imam Malik, dengan sangat perlahan dan lembut, karena aku takut beliau mendengar bunyi gesekan kertas itu dan merasa terganggu." Masya Allah. Gerakan tangan membalik kertas saja dijaga demi ketenangan sang guru. Bandingkan dengan kita hari ini yang sering kali sibuk main gadget saat guru atau dosen sedang mengajar di depan kelas.

Zaman sekarang, banyak orang merasa sudah jadi "ulama" hanya karena berlangganan kuota internet dan rajin baca kutipan di media sosial. Baru baca satu artikel, debatnya sudah berani menyalahkan ulama yang belajar puluhan tahun. Ini namanya fenomena “Google-Syaikh”. Berguru pada mesin pencari tanpa sanad. Ingat sahabat, Google itu bisa memberi kita informasi, tapi Google tidak bisa memberikan kita keberkahan, doa tulus, dan rida. Kalau kita debat sama Google, laptop kita tidak akan mendoakan kita, yang ada malah baterainya habis! Maka, tetap datangilah guru, dengarkan suaranya, hormati sosoknya.

3. Kesimpulan dan Penutup

Sauadara dan saudari yang berbahagia, kepintaran tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang berkah—yang didapat dengan menghormati guru dan mendengarkan dengan baik—akan melahirkan kebijaksanaan dan ketenteraman jiwa.

Mari kita perbaiki adab kita. Ketika guru berbicara, letakkan ponselmu, tatap wajahnya, dengarkan penjelasannya, dan resapi maknanya. Karena boleh jadi, satu doa tulus yang keluar dari lisan gurumu yang rida, itulah yang akan membuka pintu-pintu kesuksesanmu di masa depan.

Muliakanlah orang yang memberimu ilmu, maka Allah akan meninggikan derajatmu di dunia dan akhirat

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie