Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, salah satu ujian eksternal yang paling menguras energi emosional seorang penuntut ilmu adalah ketika ia berada di dalam lingkungan sosial dan budaya yang tidak mendukung. Secara sosiologis dan psikologi perkembangan, manusia adalah makhluk tiruan yang sangat membutuhkan afirmasi (pengakuan) dari lingkar terdekatnya—seperti keluarga, teman sejawat, atau masyarakat. Ketika seseorang mulai mengalokasikan waktunya untuk mendalami ilmu agama, namun justru dihadapi dengan sikap dingin, pengabaian, atau bahkan penolakan dari lingkungan asalnya, ia akan mengalami benturan psikologis yang hebat.

Namun, ketahuilah secara ilmiah-spiritual bahwa keterasingan ini adalah sunnatullah dalam proses pemurnian jiwa (tazkiyatun nafs). Sering kali, Allah sengaja memutus ketergantungan seorang hamba kepada dukungan manusia agar ia belajar untuk bersandar secara mutlak hanya kepada kekuatan Allah SWT.

Allah SWT menghibur hati hamba-Nya yang berjuang dalam kesendirian lingkungan melalui firman-Nya:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلاللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. At-Talaq: 3)

Rasulullah SAW juga memberikan penguatan mental yang sangat ilmiah bagi siapa saja yang memegang teguh komitmen belajar agama di tengah lingkungan yang abai atau sinis melalui sabdanya:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

"Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya (termasuk menuntut ilmu agamanya) di antara mereka bagai orang yang menggenggam bara api." (HR. Tirmidzi)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita tengok potret seorang pemuda yang hatinya baru saja diketuk oleh hidayah Allah. Ia sangat rindu ingin memperbaiki bacaan Al-Qur'annya, ingin paham ilmu syariat, dan ingin hadir di majelis-majelis taklim. Namun, ketika ia meminta izin atau dukungan dari keluarganya, ia justru disambut dengan tatapan sinis. Orang tuanya berkata dengan ketus, "Mau jadi apa kamu belajar agama terus? Mau jadi miskin? Urus saja duniamu dulu!" Saat ia mencoba mengajak teman-teman lamanya untuk sekadar berdiskusi kebaikan, ia langsung dikucilkan dari pergaulan dan dicap sebagai orang yang "aneh" dan "sok suci".

Pemuda itu pulang ke kamarnya yang sunyi, duduk di sudut tempat tidur sambil menatap mushaf Al-Qur'an yang baru dibelinya. Air matanya menetes perlahan, membasahi lembaran suci itu. Ada rasa perih yang teramat dalam ketika orang-orang yang paling ia cintai di dunia ini, justru menjadi batu sandungan terbesar yang menertawakan niat mulianya untuk kembali ke jalan Allah. Ia terasing di rumahnya sendiri, menanggung rindu akan ilmu dalam sepi.

Seseorang yang berjuang menuntut ilmu di tengah lingkungan yang tidak mendukung ini laksana sebuah "Kapal Selam yang Sedang Menyelam di Kedalaman Samudra". Kapal selam itu dikelilingi oleh tekanan air yang luar biasa besar dari segala arah—atas, bawah, kanan, dan kiri (seperti tekanan sosial, cibiran, dan ketiadaan dukungan dari lingkungan luar).

Mengapa kapal selam itu tidak hancur atau tenggelam oleh tekanan samudra yang begitu dahsyat? Jawabannya: karena kapal selam itu memiliki tekanan internal (dalam) yang sama kuat atau bahkan lebih besar daripada tekanan luarnya. Begitu pula dengan penuntut ilmu; ketika lingkungan luarmu menekan dan tidak mendukung, carilah "tekanan internal" berupa keyakinan yang menghunjam, niat yang tulus, serta doa-doa di sepertiga malam. Selama dinding iman di dalam dadamu kokoh, tekanan sosial seberat apa pun di luarmu tidak akan pernah mampu meremukkan jiwamu.

Fenomena kurangnya dukungan lingkungan ini kadang memicu situasi yang menggelitik akibat kesalahpahaman. Ada seorang anak yang baru beberapa minggu belajar ilmu fiqih dan akhlak di sebuah halaqah. Karena saking semangatnya ingin menerapkan ilmu baru di rumah, penampilannya langsung berubah drastis dan bicaranya penuh dengan istilah-istilah Arab tingkat tinggi yang tidak dipahami keluarganya.

Suatu pagi di meja makan, saat sang ibu menyuguhkan sarapan, anak ini melihat ke arah meja lalu berkata dengan wajah serius, "Wahai ummi, sesungguhnya masakan ini subhat jika tidak jelas asal-usul bumbunya." Ibunya yang sedang memegang sudit seketika melotot dan menjawab, "Subhat-subhat apa?! Itu sayur ditumis pakai bawang merah yang kamu minta beli di pasar kemarin! Gara-gara ikut pengajian, sekarang kamu malah jadi pengamat kuliner syariah ya? Sini, tidak usah makan sekalian!"

Ini adalah sentilan jenaka yang berhikmah bagi kita: kadang lingkungan tidak mendukung bukan karena mereka benci agama, melainkan karena cara kita membawa ilmu ke dalam lingkungan tersebut kurang luwes dan kurang bijaksana. Belajar agama itu harusnya membuat kita semakin berbakti dan pandai mengambil hati keluarga, bukan malah membuat kita terlihat seperti "hakim baru" yang siap mengadili isi dapur orang tua sendiri.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia , hambatan eksternal berupa lingkungan sosial dan budaya yang tidak mendukung bukanlah alasan untuk memadamkan api pencarian ilmu. Pesan moral tertingginya adalah: ujian lingkungan ini hadir untuk menguji seberapa besar kadar kejujuran kita dalam mencintai ilmu agama. Jika kita menuntut ilmu hanya demi pujian manusia, kita akan langsung berhenti saat dicibir. Namun, jika kita menuntut ilmu demi rida Allah, maka sunyinya dukungan manusia tidak akan pernah menyurutkan langkah kita.

Mari kita hadapi lingkungan yang belum mendukung itu dengan senjata terbaik yang diajarkan Islam: yaitu keindahan akhlak mulia (al-akhlak al-karimah). Buktikan kepada keluarga dan teman-teman kita bahwa ilmu agama yang kita pelajari tidak membuat kita menjadi manusia yang kaku dan menjauh, melainkan membuat kita menjadi pribadi yang jauh lebih menyayangi, berbakti, dan membawa manfaat bagi sesame

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie