Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, hambatan eksternal yang tidak kalah berat dalam dunia pendidikan adalah akses geografis yang sulit. Banyak saudara kita yang terisolasi di daerah terpencil, di balik perbukitan, atau di seberang sungai yang rawan, tanpa adanya akses jalan yang layak menuju pusat ilmu. Secara sosiologi dan antropologi pendidikan, keterisolasian wilayah sering kali memicu ketertinggalan peradaban.

Namun, esensi dakwah dan pendidikan Islam tidak pernah bersifat pasif menanti di dalam gedung mewah. Solusi nyata dari hambatan ini adalah dengan menjemput bola—yaitu mengadakan kelas mobile atau menggerakkan pengajar keliling yang rela mendatangi daerah-daerah terpencil tersebut. Ketika jarak geografi mempersulit para pencari ilmu, maka para pemilik ilmulah yang harus melipat jarak itu dengan langkah kaki mereka.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai pentingnya sebagian kaum untuk bergerak memperdalam agama dan kembali untuk mengajarkannya kepada kaum mereka:

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Tubah: 122)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga menegaskan betapa besarnya kemuliaan bagi mereka yang menjadi pelopor kebaikan dan mengajarkannya kepada orang lain:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

"Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam sarangnya dan ikan paus di lautan, benar-benar bershalawat (memohonkan ampunan) bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR. Tirmidzi)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita bayangkan sejenak sekelompok anak di sebuah desa terpencil yang terputus aksesnya akibat bencana alam atau ketiadaan infrastruktur. Setiap hari mereka memandang ke arah jalan setapak yang rusak, berharap ada guru yang datang membawa buku cerita atau mengajarkan mereka mengeja huruf-huruf Al-Qur'an.

Hingga suatu sore yang basah oleh sisa hujan, terdengar suara mesin motor tua yang menderu payah, mendaki jalanan berlumpur. Di atas motor itu, tampak seorang pengajar keliling dengan pakaian yang terciprat lumpur, menggendong tas besar berisi buku dan papan tulis portabel. Begitu motor itu berhenti, anak-anak berlarian menyambutnya dengan tawa riang, seolah-olah melihat malaikat penolong yang turun dari langit. Sang guru menyeka peluh dan lumpur di wajahnya, lalu tersenyum tipis sembari menahan haru melihat binar mata anak-anak yang haus akan ilmu. Di sana, di atas tanah yang basah dan beratap langit, sebuah kelas darurat dimulai dengan penuh khidmat.

Sahabat, analoginya seperti setetes air di musim kemarau. Jika air itu hanya diam di dalam sumur yang dalam di tengah kota, maka tanaman-tanaman yang berada di lereng bukit yang gersang akan mati kekeringan karena akarnya tidak mampu menjangkau sumur tersebut.

Tetapi, jika ada seorang petani yang dengan sabar membawa tangki air, mendaki perbukitan yang terjal, lalu mengalirkan air itu ke setiap jengkal tanaman yang layu, maka lereng bukit yang semula mati akan berubah menjadi hamparan hijau yang subur dan menghasilkan buah yang manis.

Pengajar keliling atau kelas mobile adalah "pembawa tangki air kehidupan" itu. Mereka melintasi batas-batas geografi demi memastikan bahwa tunas-tunas peradaban di daerah terpencil tidak mati layu oleh kebodohan.

Ada kisah nyata yang menggelitik dari seorang pengajar keliling yang menggunakan sepeda motor untuk membawa perpustakaan portabel ke pelosok desa. Karena jalannya sangat rusak dan penuh lubang batu, sepanjang perjalanan kotak buku di belakang motornya terus berguncang keras.

Sesampainya di tempat belajar, salah seorang murid bertanya dengan heran, "Pak Guru, kenapa wajah Pak Guru terlihat sangat pucat dan gemetaran begitu?" Sang guru menjawab sambil memegangi pinggangnya, "Oh, ini bukan karena Pak Guru takut, Nak. Tapi sepanjang jalan tadi, motor Pak Guru melewati ratusan lubang, jadi sebelum kalian belajar membaca buku, seluruh organ tubuh Pak Guru di dalam sudah lebih dulu 'belajar menari' tanpa musik!"

Kita tersenyum mendengar ketabahan sang guru, namun di balik candaan itu tersimpan hikmah yang mendalam: jalan menuju ilmu memang tidak pernah bertabur karpet merah, melainkan penuh batu ujian yang justru menguatkan mental para pejuangnya.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, Akses yang sulit dan jarak yang jauh bukanlah alasan untuk membiarkan saudara-saudara kita di daerah terpencil tenggelam dalam keterbatasan. Solusi terbaik dari hambatan eksternal ini adalah menumbuhkan jiwa kepedulian melalui program Kelas Mobile dan Pengajar Keliling. Jika kita memiliki ilmu, kelapangan rezeki, atau fasilitas kendaraan, mari kita gerakkan program ini demi menjangkau mereka yang tak terjangkau. Karena sejatinya, sepotong ilmu yang kita bawa ke ujung negeri, kelak akan menjadi saksi yang meringankan langkah kita di padang mahsyar menuju surga-Nya.

Mari kita bentangkan sayap-sayap ilmu hingga ke pelosok yang paling sunyi.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie