Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita berniat untuk membaca buku agama atau menyimak video kajian? Baru berjalan lima menit, tiba-tiba ada notifikasi masuk di handphone kita. Kita buka, lalu tanpa sadar kita sudah scrolling video pendek selama dua jam. Hambatan internal berupa kurangnya konsentrasi dan mudah teralihkan adalah salah satu penyakit mental terbesar di zaman modern ini. Pikiran kita hadir di majelis ilmu, tetapi hati dan fokus kita berserak kemana-mana.

Secara psikologis dan neurosains, otak manusia yang terus-menerus disuapi perubahan informasi yang cepat (seperti media sosial) akan kehilangan kemampuan untuk fokus mendalam (deep work). Secara spiritual, ilmu itu adalah buruan yang liar, dan tali pengikatnya adalah fokus serta catatan.

Allah SWT telah mengingatkan kita dengan sangat tegas bahwa Dia tidak menciptakan manusia dengan hati yang bisa mendua fokusnya dalam satu waktu:

مَّا جَعَلَ ٱللَّهُ لِرَجُلٍ مِّن قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِۦ

"Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongga dadanya." (QS. Al-Ahzab: 4)

Ayat ini menyejukkan sekaligus memperingatkan kita: kita tidak bisa mengumpulkan cahaya ilmu ke dalam hati, jika pada saat yang sama hati kita juga sibuk memikirkan reka nilai duniawi yang remeh.

Rasulullah SAW juga mengajarkan kita untuk totalitas dan khusyuk ketika berhadapan dengan kebaikan, melalui sabdanya:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ

"Bersungguh-sungguhlah (fokuslah) terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah." (HR. Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Fokus adalah mata uang spiritual kita. Ke mana kita mengarahkan fokus, ke sanalah energi hidup kita mengalir. Menuntut ilmu menuntut penghormatan. Menghormati ilmu berarti memberikan waktu terbaik dan konsentrasi penuh kita, bukan sisa-sisa waktu di saat otak kita sudah kelelahan.

Mari kita renungkan kisah sedih seorang penuntut ilmu di masa kini. Dia menghadiri sebuah majelis ulama besar yang datang jauh-jauh dari Timur Tengah. Namun, sepanjang kajian, jemarinya sibuk mengetik pesan, matanya sibuk memotret suasana demi konten, dan pikirannya melayang memikirkan komentar netizen.

Kajian selesai, sang ulama pulang, dan pemuda itu pun pulang. Ketika ditanya oleh ibunya di rumah, "Nak, apa pesan ulama tadi untuk kehidupan kita?" Pemuda itu tertegun, lidahnya kelu, dia tidak ingat satu ayat pun karena fokusnya telah tercuri oleh layar kaca di tangannya. Dia kehilangan mutiara hikmah yang mungkin bisa mengubah jalan hidupnya, hanya demi kilatan kesenangan semu yang fana. Sungguh sebuah kerugian waktu yang menyedihkan.

Pikiran kita yang mudah teralihkan saat belajar itu ibarat kita sedang merebus air di atas kompor. Biar airnya matang dan mendidih, kompornya harus dinyalakan terus-menerus di bawah panci itu, kan?

Nah, orang yang tidak fokus itu ibarat menyalakan kompor dua menit bawah panci air, terus kompornya dipindah di bawah penggorengan semenit karena melihat ada minyak, terus dipindah lagi ke bawah teko karena pengen bikin kopi. Kompornya dipindah-pindah terus tiap dua menit karena lapar mata. Hasilnya apa? Sampai jenggotan dan dinosaurus hidup lagi pun, itu air di dalam panci gak bakal pernah mendidih! Begitulah orang yang belajar sambil sebentar-sebentar cek handphone, sebentar-sebentar melamun. Otaknya panas kagak, ilmunya menguap iya!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, konsentrasi bukanlah bakat bawaan lahir, melainkan otot spiritual yang harus dilatih. Ketika kita berniat menuntut ilmu, singkirkan dulu hal-hal yang bisa memalingkan pandangan kita. Matikan notifikasi, kunci pintu kamar, dan katakan pada dunia: "Tunggu sebentar, aku sedang menjemput warisan para nabi."

Ingatlah selalu kata bijak para ulama: "Ilmu tidak akan memberikan sebahagian dirinya kepadamu, sampai kamu menyerahkan seluruh dirimu kepadanya." Semoga Allah mengaruniakan kita hati yang khusyuk dan pikiran yang tajam dalam menyerap setiap bait kebaikan.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie