Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, dalam kajian psikologi pendidikan dan neurologi, niat atau motivasi intrinsik (dari dalam diri) adalah bahan bakar utama yang menentukan daya tahan seseorang dalam belajar. Ketika seseorang belajar hanya demi pujian, ijazah, atau validasi manusia (motivasi ekstrinsik), jiwanya akan mudah lelah, stres, dan rapuh saat ekspektasi itu tidak terpenuhi.
Islam melangkah jauh lebih dalam. Islam memosisikan menuntut ilmu sebagai ibadah agung yang porosnya wajib disandarkan hanya kepada Allah Swt. Keikhlasan niat inilah yang mengubah lelahnya belajar, pusingnya menghafal, dan mahalnya biaya pendidikan menjadi detak-detak pahala yang menggugurkan dosa. Allah Swt. berfirman mengenai perintah memurnikan ketaatan:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..." <--- (QS. Al-Bayyinah 5)
Ketika niat menuntut ilmu itu ikhlas untuk mengangkat kebodohan diri dan memberi manfaat, Allah akan mempermudah segala urusannya, bahkan hingga ke akhirat.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Ikhlas dalam menuntut ilmu mengajarkan kita nilai rendah hati. Ilmu yang berkah tidak akan membuat pemiliknya merasa lebih tinggi dari orang lain. Sebaliknya, semakin banyak ilmu yang diserap dengan niat karena Allah, ia akan semakin merasa kerdil di hadapan keagungan Sang Maha Pemilik Ilmu.
Mari kita kenang kisah keikhlasan Imam Malik ketika menyusun kitab monumentalnya, Al-Muwatta'. Saat itu, banyak orang lain yang juga menyusun kitab-kitab serupa dengan nama yang sama. Seseorang bertanya kepada Imam Malik, "Mengapa engkau repot-repot menulis kitab ini padahal orang lain sudah banyak menulis yang serupa?" Imam Malik dengan tenang menjawab sebaris kalimat yang menggetarkan sejarah: "Maa kaana lillahi baqiya"—Apa yang diniatkan ikhlas karena Allah, ia akan tetap abadi dan bertahan. Terbukti, berabad-abad kemudian, kitab Al-Muwatta' milik Imam Malik tetap dibaca umat manusia hingga hari ini, sementara kitab saingannya tenggelam ditelan zaman.
Menuntut ilmu tanpa niat yang ikhlas itu ibarat kita membeli smartphone flagship terbaru seharga puluhan juta rupiah, tetapi kita membelinya hanya untuk dijadikan ganjal pintu rumah. Fungsinya dapat, tetapi nilainya rusak dan sia-sia. Ilmu itu barang mewah dari langit. Jangan turunkan nilainya yang berharga miliaran pahala hanya untuk ditukar dengan recehan pujian manusia atau pamer gelar di bio media sosial.
Fenomena zaman sekarang ini memang unik. Banyak dari kita yang belajar atau kuliah semalaman bukan karena takut tidak berkah ilmunya, tapi takut besok paginya tidak bisa pamer foto estetis berlatar belakang tumpukan buku dengan takarir (caption) kutipan bijak di Instagram Story. Niatnya menuntut ilmu, tapi pas ujian metodenya pakai "ilmu gaib" alias menyontek atau pakai bantuan Artificial Intelligence secara ilegal. Begitu lulus, bingung kenapa ilmunya menguap begitu saja seperti kenangan mantan. Ingat, Sahabat, Allah melihat proses dan ketulusan hati kita, bukan seberapa estetik foto kita saat memegang buku!
3. Kesimpulan dan Penutup
Niat adalah kemudi dari kapal ilmu kita. Jika kemudinya salah arah sejak awal, maka semakin jauh kita berlayar, semakin jauh pula kita tersesat dari rida Allah. Luruskan niat sebelum belajar: mintalah ilmu yang bermanfaat, bukan ilmu yang sekadar membuat kita terlihat hebat di depan manusia.
Saudara dan saudari yang berbahgia, mari kita perbarui niat belajar kita hari ini. Semoga setiap lembar buku yang kita buka, setiap video edukasi yang kita tonton, dan setiap ruang kelas yang kita masuki, dicatat oleh Allah sebagai langkah kaki yang menuntun kita menuju surga-Nya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie