Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita berniat untuk belajar atau menghafal Al-Qur'an, namun situasi di sekitar kita sama sekali tidak mendukung? Ruangan terasa pengap dan panas, lampu redup atau bahkan mati, ditambah suara bising kendaraan atau obrolan tetangga yang memecah konsentrasi. Hambatan eksternal berupa fasilitas yang kurang memadai dan ruang belajar yang tidak nyaman ini sering kali meruntuhkan mood dan membuat kita mengeluh, "Bagaimana saya bisa fokus belajar kalau kondisinya sesulit ini?"

Secara psikologi lingkungan, kenyamanan ruang memang memengaruhi kecepatan otak dalam menyerap informasi. Namun secara spiritual, Allah SWT tidak pernah membatasi turunnya berkah ilmu hanya di tempat-tempat yang mewah, ber-AC, dan sunyi. Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam terbesar justru lahir dari emperan masjid yang terik dan kamar-kamar sempit yang diterangi sebatang lilin.

Mari kita sejukkan jiwa kita dengan firman Allah SWT yang menegaskan bahwa di balik setiap kesulitan materi, selalu ada jalan kemudahan yang menyertainya:

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا • إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh: 5-6)

Bagi para penuntut ilmu yang harus bersusah payah menghadapi pengap dan bisingnya lingkungan demi mengais warisan nabi, Rasulullah SAW memberikan jaminan kelapangan jalan menuju surga sebagai gantinya:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

"Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim))

2. Pelajaran dan Pesan

Kenyamanan fasilitas adalah bonus, namun kesungguhan hati adalah penentu. Kamar yang mewah dan ber-AC tidak ada gunanya jika hanya digunakan untuk tidur dan bermalas-malasan. Sebaliknya, ruang yang sempit dan panas akan menjadi saksi mulia di hadapan Allah bahwa ada seorang hamba yang menukar keringat fisiknya demi mahalnya cahaya iman.

Mari kita tengok kisah nyata anak-anak di daerah pedalaman atau wilayah yang dilanda musibah banjir dan bencana. Sekolah mereka hancur, menyisakan ruang kelas tanpa dinding dan tanpa atap yang layak. Di saat siang hari, matahari menyengat kulit mereka yang tanpa alas kaki. Di saat hujan, buku-buku tulis mereka yang sudah usang menjadi basah terkena tempias air.

Ada seorang anak yang menangis di pojokan kelas bukan karena lapar, melainkan karena tinta pulpennya habis dan kertas bukunya robek terkena air hujan, padahal ia sedang semangat-semangatnya menulis hadis Nabi. Di tengah kebisingan suara angin dan reruntuhan, anak itu memeluk bukunya yang basah sambil berbisik, "Ya Allah, jangan padamkan lampu hatiku saat lampu sekolahku telah padam." Sungguh pemandangan yang menyayat hati, sekaligus menampar kita yang sering mengeluh hanya karena koneksi internet lambat atau ruangan kurang dingin.

Menuntut ilmu di tengah fasilitas yang kurang nyaman itu ibarat kita sedang menanam pohon kurma di tengah padang pasir yang gersang dan panas. Pohon kurma itu, karena lingkungannya ekstrem, dia terpaksa menghujamkan akarnya sedalam mungkin ke dalam bumi untuk mencari air. Hasilnya? Ketika tumbuh, batangnya menjadi sangat kokoh, tidak gampang tumbang oleh badai, dan buahnya luar biasa manis!

Nah, bayangkan kalau ada "pohon manja" yang ditanam di dalam ruangan kaca ber-AC, disiram air steril tiap jam, dan dinyanyikan lagu pengantar tidur (ibarat anak belajar yang fasilitasnya serba mewah dan harus hening total). Begitu dipindah ke luar ruangan dan kena angin puting beliung sedikit saja, langsung tumbang dan akarnya copot! Begitulah mental penuntut ilmu. Orang yang terbiasa belajar di ruang bising dan panas, otaknya akan terlatih sekuat baja. Dipasang di tempat bising tetap fokus, mati lampu tetap jalan. Jadi, kekurangan fasilitas itu sebenarnya adalah tempat latihan mental "pasukan khusus", bukan alasan untuk mogok belajar!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia , jangan biarkan redupnya lampu kamar atau bisingnya suara di luar memadamkan gairah belajarmu. Jika ruang belajarmu panas, anggaplah itu sebagai pelebur dosa-dosamu. Jika ruang belajarmu bising, latih hatimu untuk berbisik mesra kepada Allah melalui baris-baris ilmu yang sedang kamu baca.

Fasilitas boleh terbatas, lingkungan boleh tidak mendukung, tetapi ruang di dalam hatimu untuk menerima hidayah Allah tidak boleh disempitkan oleh keadaan. Teruskan melangkah, karena tinta yang digoreskan di tengah keterbatasan memiliki nilai yang tak ternilai di mata penduduk langit.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie