Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Mukaddimah

Secara sosiologis dan psikologis, rumah tangga adalah sebuah sistem yang membutuhkan keseimbangan antara kehadiran fisik dan kepuasan batin. Ketika gaya hidup "ikut-ikutan" (Taqlīd) merasuki rumah, terjadilah pergeseran nilai: rumah yang seharusnya menjadi tempat ibadah berubah menjadi etalase pamer. Ketimpangan antara tuntutan gaya hidup dan kapasitas ekonomi menciptakan stres kronis yang memicu perselisihan (Syikāq). Secara ilmiah, kebahagiaan keluarga tidak berkorelasi dengan jumlah perabot, melainkan dengan kualitas waktu dan kemandirian sikap untuk tidak membandingkan rezeki sendiri dengan milik orang lain.

Dalil Al-Qur'an dan Hadis :

Rasulullah ﷺ mengingatkan kita agar tidak silau oleh gemerlap harta orang-orang yang melalaikan Allah:

يَا عَائِشَةُ ، إِيَّاكِ وَمُجَالَسَةَ الأَغْنِيَاءِ

"Wahai Aisyah, jauhilah olehmu bergaul dengan orang-orang kaya (yang tidak beriman)." [HR. Tirmidzi]

Allah Swt. juga memberikan rambu-rambu tentang menjaga kemandirian hak harta:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan." [QS. An-Nisa: 32]

2. Pelajaran dan Pesan

Keluarga yang istiqamah adalah "potongan surga" di muka bumi. Jangan hancurkan kebahagiaanmu dengan membandingkan dapurmu dengan ruang tamu orang lain. Hak istrimu bukan sekadar nafkah materi, tapi kehadiran dirimu. Harta yang kau kumpulkan dengan mengabaikan kehadiranmu di rumah hanya akan membangun rumah yang mewah, tapi menyisakan hati yang hampa. Jadilah pribadi yang merdeka dari ketamakan terhadap harta pasanganmu.

Ada seorang suami yang bekerja siang malam demi membelikan istrinya perhiasan mahal dan rumah mewah. Suatu hari, sang istri menyerahkan kembali semua perhiasan itu dan berkata sambil menangis, "Bang, aku tidak butuh emas ini jika harganya adalah ketiadaanmu di rumah. Aku lebih memilih makan sederhana tapi kita duduk melingkar bersama anak-anak, daripada makan mewah tapi aku merasa janda padahal suamiku masih hidup." Kesadaran ini meruntuhkan ego sang suami, menyadari bahwa ia telah kehilangan peran ayah demi angka-angka di rekening.

Rumah tangga itu ibarat sebuah kebun. Tanaman tidak hanya butuh pupuk (materi), tapi ia sangat butuh sinar matahari dan air (kehadiran dan perhatian). Jika kebun hanya diberi pupuk terus-menerus tanpa pernah disinari matahari, tanaman itu akan busuk akarnya. Begitu pula istri; ia menikah untuk merasa tenang (Taskunū) bersamamu. Jangan biarkan "matahari" itu padam karena kesibukan yang tiada akhir.

Seorang istri merayu suaminya, "Bang , tetangga sebelah baru beli sofa kulit dari luar negeri, kita kapan?" Suaminya menjawab tenang, "Dinda, sofa mereka memang dari kulit impor, tapi setiap hari mereka 'perang mulut' di atasnya. Sofa kita memang cuma kain biasa, tapi kita bisa tertawa dan ngaji bersama di atasnya. Pilih mana, duduk di sofa mahal sambil pegang pisau, atau duduk di lantai sambil pegang tangan Dinda?" Istrinya tertawa, "Ya sudah Mas, pegang tangan saja, tapi tolong cicilan motornya tetap dibayar ya!"

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari , Metode Islam dalam menyelesaikan masalah keluarga adalah kembali kepada ketaatan. Jauhi gaya hidup ikut-ikutan yang menghancurkan ekonomi, luangkan waktu yang cukup untuk istri agar tidak tercipta celah bagi pihak ketiga, dan jangan sekali-kali tamak pada harta pasangan. Pernikahan bukan soal siapa mengambil apa, tapi soal siapa memberi apa demi meraih rida-Nya.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie