Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Secara psikologis, manusia memiliki apa yang disebut dengan "kelaparan eksistensial"—sebuah ruang kosong di dalam jiwa yang tidak bisa diisi sendirian. Pria secara natural memiliki struktur otak yang dominan pada pemecahan masalah dan logika, namun seringkali kering secara afektif. Sementara wanita memiliki kepekaan emosional yang meluap, namun membutuhkan rasa aman dan arah kepemimpinan yang stabil. Fenomena ini disebut Simbiosis Spiritual. Ketika keduanya bertemu, terjadi sinkronisasi hormon oksitosin yang menurunkan stres. Inilah desain Ilahi: kita diciptakan "kurang" agar kita merasa "cukup" saat bersama pasangan.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (Sakinah) kepadanya." (QS. Ar-Rum: 21)
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang saleha." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Sakinah bukanlah tidak adanya konflik, melainkan adanya tempat untuk pulang. Jangan menuntut pasanganmu sempurna, karena justru kekurangannyalah yang menjadi alasan mengapa engkau ada di sisinya. Pria hadir untuk memimpin dengan perlindungan, dan wanita hadir untuk melembutkan dengan kasih sayang. Jika keduanya saling merasa "lebih", maka yang lahir adalah persaingan. Namun jika keduanya merasa "kurang", maka yang lahir adalah persatuan.
Pernah diceritakan tentang seorang syekh yang istrinya sangat pemarah. Namun sang syekh selalu tersenyum. Seseorang bertanya, "Mengapa engkau begitu sabar?" Beliau menjawab, "Allah memberiku ilmu dan kepemimpinan, tapi Dia memberiku istri ini agar aku belajar kelembutan dan kesabaran. Tanpa amarahnya, aku mungkin menjadi pria yang sombong. Dia adalah 'sakinah' dalam bentuk ujian yang menyempurnakan akhlakku." Di sinilah kita sadar, ketenteraman seringkali hadir lewat proses saling memaafkan.
Hubungan suami istri ibarat sepasang sepatu. Keduanya tidak ada yang serupa; ada yang kiri dan ada yang kanan. Jika Anda mencoba memakai dua sepatu kanan, Anda tidak akan bisa berjalan jauh. Justru karena mereka "tidak sama" dan memiliki bentuk yang berbeda, mereka bisa melangkah seirama, melindungi kaki dari duri, dan mencapai tujuan bersama. Keberhasilan bukan pada "kesamaan", tapi pada "keserasian".
Ada suami yang bertanya pada istrinya, "Sayang, kenapa kamu kalau marah panjang sekali bicaranya?" Istrinya menjawab, "Itu karena aku sedang melengkapi kekurangan logikamu yang pendek dengan perasaanku yang panjang!" Suaminya tersenyum dan menyahut, "Oh, pantas saja aku jadi 'tenteram', soalnya kalau kamu bicara, aku jadi tidak punya kesempatan untuk salah!" Itulah indahnya rumah tangga, selama ada tawa, masalah berat akan terasa ringan.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari , Sakinah adalah desain Ilahi yang sangat teliti. Pria melengkapi dahaga emosionalnya pada wanita, dan wanita melengkapi kebutuhan kepemimpinannya pada pria. Kita adalah dua kepingan puzzle yang berbeda bentuk namun satu gambar. Mari kita jaga ketenteraman ini dengan saling cenderung, saling mencintai, dan saling menghargai peran masing-masing sesuai fitrah.
Semoga rumah tangga kita menjadi miniatur surga yang penuh dengan kedamaian.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie