Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Secara neurobiologis, kemampuan seseorang untuk bersabar saat disakiti oleh orang yang dicintai adalah bentuk tertinggi dari regulasi emosi. Ketika kita membalas luka dengan luka, otak kita terjebak dalam mode fight or flight yang merusak sel-sel kedamaian. Namun, saat kita memilih bersabar atas perilaku pasangan demi Allah, otak justru melepaskan oksitosin dan endorfin yang menenangkan jiwa. Kesabaran ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa "poros kebahagiaan" kita tidak digantungkan pada perilaku manusia, melainkan pada rida Sang Pencipta.
Dalil Al-Qur'an dan Hadis:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً
"Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa [4]: 19)
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
"Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu perangainya, niscaya ia akan rida (suka) dengan perangainya yang lain." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita itu biasa. Namun, tetap berbuat baik dan menanggung sabar saat disakiti oleh pasangan adalah puncak kemuliaan. Definisi Mu'asyarah bil Ma'ruf bukan sekadar "tidak menyakiti", tapi "kuat menahan sakit". Itulah cinta yang dewasa; cinta yang mengerti bahwa pasangan kita adalah manusia yang tak luput dari salah, dan tugas kita adalah menjadi pelabuhan bagi kekurangannya.
Dikisahkan seorang istri yang memiliki suami dengan lisan yang tajam. Suatu malam, setelah dimarahi tanpa sebab yang jelas, sang istri justru datang membawakan segelas air hangat dan menyelimuti suaminya yang tertidur di kursi. Temannya bertanya, "Mengapa kau begitu sabar?" Istri itu menjawab dengan tenang, "Sebab di hari akhir nanti, aku tidak akan ditanya mengapa dia marah, tapi aku akan ditanya bagaimana caraku memperlakukannya sebagai suamiku. Aku ingin Allah melihatku sebagai hamba yang tetap mencintai-Nya melalui sabarku padanya."
Pernikahan itu ibarat sepasang tangan yang mencuci. Tangan kiri terkadang kotor, dan tangan kanan harus menggosoknya dengan sabun. Menggosok itu mungkin terasa perih bagi kulit yang luka, tapi itulah satu-satunya cara agar keduanya kembali bersih. Jika tangan kanan melepaskan tangan kiri hanya karena perih, maka keduanya akan tetap kotor selamanya. Sabar adalah sabun yang membersihkan noda-noda ego dalam rumah tangga.
Ada seorang suami yang sangat sabar menghadapi istrinya yang sangat cerewet. Temannya bertanya, "Apa rahasiamu bisa sesabar itu?" Suami itu menjawab, "Setiap kali dia mulai mengomel, aku langsung membayangkan sedang mendengarkan siaran radio yang frekuensinya belum pas. Suaranya berisik, tapi aku tahu di baliknya ada lagu indah yang sedang berusaha diputar. Jadi, aku kecilkan saja volumenya di kepalaku, lalu aku tersenyum dan bilang: 'Iya Sayang, kamu benar sekali'." Hikmahnya: Sabar itu kadang butuh kreativitas agar hati tidak lekas panas!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , Kesimpulannya, Mawaddah dan Rahmah adalah hadiah dari Allah bagi mereka yang berjuang di jalan istiqamah. Jangan menunggu pasangan menjadi sempurna baru kita berbuat baik. Mulailah dengan ketaatan pribadi kepada Allah, lalu tanggunglah kekurangan pasanganmu dengan sabar. Di situlah Allah akan menurunkan keajaiban cinta yang tidak bisa dibuat-buat oleh logika manusia. Semoga rumah tangga kita senantiasa dalam lindungan-Nya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie