Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dirahmati Allah, Di panggung sandiwara dunia ini, predikat "bijaksana" sering kali disematkan kepada mereka yang pandai merangkai kata atau memiliki kedudukan yang tinggi. Namun, di hadapan Allah SWT, kebijaksanaan sejati bukanlah tentang teori. Kebijaksanaan adalah sebuah keteguhan jiwa yang diikat oleh tiga regulasi ketat dalam berperilaku sehari-hari.
Jika kita ingin diakui sebagai orang yang bijaksana oleh Sang Pencipta, maka tiga syarat utama ini harus tertanam kuat dalam diri kita:
Jangan Mencintai Dunia: Pindahkan dunia dari hati ke telapak tangan, karena bumi ini hanyalah tempat singgah, bukan tempat tinggal abadi.
Jangan Menjadikan Ahli Dunia sebagai Sahabat Intim: Jaga jarak emosional dari orang-orang yang hatinya telah lalai dan diperbudak oleh hawa nafsu.
Jangan Pernah Menyakiti Sesama Mukmin: Berkomitmen untuk selalu bersabar dan menjaga kebersamaan dalam saf orang-orang yang tulus mencari rida-Nya.
Secara psikologis dan sosiologis, karakter seseorang sangat ditentukan oleh tiga hal: orientasi hidupnya, lingkungan sosial terdekatnya, dan bagaimana ia memperlakukan sesamanya. Seseorang yang dunianya berada di dalam hati akan selalu cemas, dan kecemasan itu akan memuncak jika ia dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang toksik (ahli dunia). Islam memberikan terapi ilmiah untuk menyejukkan jiwa kita, yaitu dengan mengalihkan pandangan kita ke negeri akhirat yang bersih dari kesombongan dan kerusakan.
Allah SWT menegaskan tentang hakikat negeri akhirat ini dalam Al-Qur'an:
تِلْكَ الأخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Qasas: 83)
Mengenai pentingnya memilih sahabat karib dan larangan menyakiti sesama mukmin, Allah SWT juga memberikan instruksi yang sangat jelas:
وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا
"Dan bersabarlah kamu bersama-masing dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalai-kan dari mengingati Kami, beserta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (QS. Al-Kahf: 28)
Keindahan akhlak orang yang bijaksana ini disempurnakan oleh sabda Rasulullah SAW yang mendefinisikan jati diri seorang muslim sejati:
ٱلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ ٱلْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Seorang muslim yang sejati adalah orang yang mana orang-orang muslim lainnya selamat dari bahaya lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim) (Perawi hadis di bawah samping kanan)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita merenungkan sebuah peristiwa mengharukan di masa salafus saleh. Ada seorang ulama yang difitnah, dicaci maki, dan dihina di depan umum oleh seseorang yang terpengaruh oleh para ahli dunia. Alih-alih membalas dengan kemarahan, ulama tersebut pulang ke rumahnya, lalu mengambil sekeranjang buah-buahan yang paling manis dan segar.
Beliau mendatangi rumah orang yang menghinanya tadi, mengetuk pintunya, dan menyerahkan hadiah tersebut sambil menangis lirik. Orang yang memfitnahnya terkejut dan bertanya malu, "Mengapa engkau membawakanku hadiah, padahal aku telah menyakitimu?"
Sang ulama menjawab dengan air mata menetes, "Aku menangis karena sedih memikirkan nasibmu di akhirat kelak. Dengan menghinaku, engkau telah mentransfer pahala amal salehmu kepadaku secara gratis. Aku membawakan buah ini sebagai bentuk terima kasih, sekaligus rasa kasihan karena engkau telah merugikan dirimu sendiri demi memuaskan hawa nafsumu." Menyedihkan melihat kebodohan orang yang memfitnah, namun sungguh mengharukan melihat samudra kebijaksanaan di dalam hati sang ulama.
Supaya kita bisa mengingat tiga syarat bijaksana ini dengan cara yang santai dan agak menggelitik, mari kita pakai tamsilan tentang "Aplikasi Smartphone".
Bayangkan jiwa kita ini adalah sebuah smartphone canggih yang memorinya terbatas. Orang yang tidak bijaksana adalah orang yang memenuhi hp-nya dengan aplikasi sampah (ibaratnya cinta dunia). Dia download game berat, aplikasi gosip, dan grup-grup penuh drama. Akibatnya? Hp-nya jadi lemot, cepat panas, baterainya boros, dan gampang nge-hang saat dipakai untuk hal penting.
Keadaan jadi makin parah karena dia berteman akrab dengan orang yang hobi mengirimkan file virus lewat Bluetooth (ibaratnya bersahabat intim dengan ahli dunia). Setiap hari hp-nya kemasukan virus kemandekan berpikir, sampai akhirnya merusak sistem internalnya dan membuat hp-nya otomatis mengirim pesan spam yang kasar ke kontak orang lain (ibaratnya menyakiti sesama mukmin).
Lucu sekaligus miris, bukan? Hidup kita jadi error bukan karena spek diri kita yang buruk, tapi karena kita salah menata "aplikasi batin" kita!
Orang yang bijaksana akan melakukan factory reset. Dia hapus aplikasi "cinta dunia" yang bikin lemot, dia uninstall pertemanan dengan "pembawa virus kelalaian", dan dia pasang sistem keamanan antivirus agar lisannya tidak menyemburkan spam makian kepada sesama mukmin. Dengan begitu, "sinyal" hubungan kita dengan Allah akan tetap berada di jaringan 5G yang lancar jaya!
3. Kesimpulan & Penutup
Sahabat sekalian, pesan moral tingkat tinggi dari tiga regulasi ini adalah sebuah undangan untuk membersihkan hati kita sebelum fajar akhirat terbit. Menjadi bijaksana tidak diukur dari seberapa pintar kita berdebat di kolom komentar media sosial, melainkan dari seberapa ketat kita menjaga hati kita dari racun dunia.
Mari kita praktikkan tiga syarat ini mulai hari ini: posisikan dunia hanya sebatas di tangan agar kita tidak buta, pilihlah lingkaran pertemanan yang selalu mendekatkan kita kepada Allah, dan jagalah lisan serta jari-jari kita agar jangan sampai menorehkan luka di hati sesama mukmin.
Semoga Allah SWT mengaruniakan kepada kita semua hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan mematangkan kita menjadi hamba-hamba-Nya yang bijaksana.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie