Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Secara psikologis, manusia diciptakan dengan dua kebutuhan dasar: keinginan untuk bebas (autonomy) dan kebutuhan akan batasan (structure). Lawan dari Wasathiyah dalam akhlak adalah hilangnya keseimbangan ini. Di satu sisi, ada Kebebasan Mutlak (liberalisme akhlak) yang menganggap aturan adalah penjara, padahal tanpa aturan, manusia kehilangan kemanusiaannya. Di sisi lain, ada Kekakuan Fatalistik (rigiditas) yang memandang kehidupan dengan kacamata hitam-putih tanpa ruang bagi rahmat dan kondisi kemanusiaan. Wasathiyah hadir sebagai cahaya yang memberikan ruang bagi kebebasan yang bertanggung jawab di bawah naungan wahyu.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا

"Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (pelit) dan janganlah pula engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah/boros) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal." (QS. Al-Isra': 29)

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak." (HR. Ahmad)

2. Pelajarn dan Pesan

Akhlak yang lurus adalah tentang Ketulusan. Kebebasan yang benar adalah ketika kita mampu membebaskan diri dari perbudakan hawa nafsu. Sementara ketegasan yang benar adalah teguh pada prinsip tanpa harus menjadi kasar dan keras hati. Jadilah pribadi yang lembut namun tidak bisa dipatahkan, dan jadilah pribadi yang kuat namun tetap bisa merangkul.

Teringat kisah seorang Badui yang kencing di pojok masjid Nabawi. Para sahabat yang melihatnya langsung marah dan ingin menghardiknya dengan keras (sikap kaku). Namun, Rasulullah SAW menahan mereka dengan penuh kasih dan berkata, "Biarkan dia, jangan putuskan kencingnya." Setelah selesai, beliau menyuruh menyiramnya dengan seember air dan menasihati si Badui dengan sangat lembut. Si Badui begitu tersentuh hingga ia berdoa, "Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad saja, jangan Engkau rahmatilah yang lain bersama kami." Rasulullah tersenyum mendengar doa "egois" itu sambil meluruskan bahwa rahmat Allah itu luas. Inilah akhlak wasathiyah: tetap menjaga aturan masjid, tapi tetap menjaga martabat manusia.

Akhlak itu ibarat Air Sungai. Jika air itu mengalir tanpa tanggul sama sekali (kebebasan mutlak), ia akan meluap menjadi banjir yang merusak apa saja yang dilewatinya. Namun, jika air itu dibendung total tanpa celah sedikitpun (kaku fatalistik), air itu akan menjadi tenang namun membusuk dan tidak memberi manfaat. Wasathiyah adalah membangun tanggul yang kokoh agar air mengalir dengan deras, jernih, dan bertenaga untuk menggerakkan kincir kehidupan.

Ada seseorang yang saking inginnya "kaku" dalam mengikuti sunnah berpakaian, dia memakai jubah panjang di tengah musim hujan saat melewati jalan berlumpur. Karena dia merasa "haram" mengangkat ujung jubahnya sedikit (karena takut dibilang tidak sesuai gaya klasik), akhirnya jubahnya menyapu lumpur dan menjadi sangat kotor. Temannya bertanya, "Kenapa tidak diangkat sedikit supaya bersih?" Dia menjawab dengan serius, "Saya menjaga prinsip!" Temannya tertawa, "Akhi, prinsip itu menjaga kebersihan, bukan menjaga lumpur agar ikut ke masjid!" Hikmahnya: Jangan saking kakunya kita malah melupakan tujuan utama dari agama itu sendiri.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia,jangan biarkan dirimu jatuh dalam kebebasan yang kebablasan yang hanya memperturutkan nafsu, dan jangan pula terjebak dalam kekakuan yang membuat wajah Islam terlihat seram dan tidak manusiawi. Ambillah jalan tengah, karena di sanalah letak keindahan dan keselamatan. Semoga Allah menghiasi batin kita dengan akhlak yang luhur dan seimbang.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie