Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Dalam biologi, kesehatan kita bergantung pada kondisi Homeostasis, yaitu kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan kimiawi di tengah perubahan lingkungan. Di tingkat seluler, jika sel kita terlalu aktif (ekstrem kanan), ia bisa menjadi kanker. Jika sel terlalu lamban (ekstrem kiri), jaringan tubuh akan mati. Begitu pula dalam struktur otak kita; amigdala mengatur emosi (gas), sementara korteks prefrontal mengatur logika (rem). Keseimbangan mikroskopis inilah yang membuat kita tetap waras. Secara ilmiah, orang yang hidup moderat—tidak terlalu stres mengejar dunia namun tidak abai terhadap tanggung jawab—memiliki kadar hormon Kortisol yang stabil, sehingga jiwanya lebih tangguh menghadapi badai kehidupan.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Allah SWT menciptakan segala sesuatu dalam diri kita dengan takaran yang pas, dan Rasulullah mengingatkan agar kita tidak melampaui batas:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takaran yang tepat).” (QS. Al-Qamar: 49)

أَحِبَّ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا

“Cintailah orang yang kau cintai sewajarnya saja, bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang kau benci (begitu pula sebaliknya).” (HR. Tirmidzi)

2. Pelajaran dan Pesan

Moderasi dalam diri adalah kemampuan untuk mengendalikan ego. Jangan sampai ketaatanmu membuatmu sombong dan merasa lebih suci dari orang lain, namun jangan pula kesalahanmu membuatmu berputus asa dari rahmat Allah. Jadilah pribadi yang tegak di tengah: memiliki harga diri namun tetap rendah hati, memiliki ambisi namun tetap tahu diri. Kekuatan sejati manusia bukan pada kemampuannya menguasai orang lain, tapi pada kemampuannya menyeimbangkan gejolak di dalam dadanya sendiri

Ada seorang pemuda yang sangat keras dalam beribadah hingga ia mengabaikan kesehatan dan keluarganya. Ia merasa itulah jalan menuju Tuhan. Suatu hari, ia melihat seorang ayah yang bekerja kasar di bawah terik matahari demi menyuapi anaknya, namun sang ayah tetap menyempatkan tersenyum dan menyapa tetangganya dengan lembut. Pemuda itu tersadar; sang ayah tersebut melakukan ibadah yang jauh lebih "moderat" namun sangat dicintai Tuhan karena ia menyeimbangkan hak Allah (shalat) dan hak sesama (mencari nafkah & kasih sayang). Pemuda itu menangis menyadari bahwa keshalihan yang ekstrem justru menjauhkannya dari esensi kemanusiaan yang diajarkan Nabi.

Keseimbangan dalam diri itu ibarat Garam dalam Masakan. Jika terlalu sedikit, masakan menjadi hambar tak berjiwa. Jika terlalu banyak, masakan menjadi pahit dan merusak rasa. Namun, ketika garam diletakkan dalam takaran yang "moderat", ia tidak menonjolkan dirinya sendiri, melainkan ia berhasil memunculkan cita rasa terbaik dari semua bumbu lainnya. Jadilah "garam" bagi dirimu sendiri; pas dalam porsi, indah dalam hasil.

Ada orang yang saking inginnya "moderat" dalam segala hal, dia memutuskan untuk shalat menghadap ke samping. Ketika ditegur, dia menjawab, "Kalau ke Barat itu ekstrem kanan, kalau ke Timur itu ekstrem kiri, jadi saya ambil jalan tengah saja menghadap Utara!" Tentu saja jemaah lain tertawa. Hikmahnya: Moderasi itu mengikuti kompas syariat, bukan asal ambil tengah-tengah menurut perasaan sendiri. Jangan sampai saking semangatnya mau moderat, kita malah bikin "mazhab" baru yang bikin malaikat geleng-geleng kepala!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari , Moderasi adalah desain dasar Tuhan bagi setiap sel di tubuh kita. Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk hidup secara ekstrem. Mari kita jaga keseimbangan mikroskopis ini dengan cara mensyukuri nikmat tanpa berlebihan, dan menghadapi ujian tanpa meratapi. Jalan tengah adalah jalan keselamatan, di dunia maupun di akhirat.

"Ya Allah, tetapkanlah hati kami pada agama-Mu yang lurus, dan jadikanlah kami umat yang pertengahan, yang tidak melampaui batas dan tidak pula melalaikan kewajiban."

Amin ya Rabbal 'Alamin.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie