Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Dalam ilmu psikologi sosial, terdapat konsep Social Exchange Theory (Teori Pertukaran Sosial). Secara alamiah, otak manusia akan merasa stres dan cemas jika terjadi ketimpangan antara apa yang ia berikan dan apa yang ia terima. Namun, secara neurosains, melakukan kewajiban atau memberi bantuan kepada orang lain justru melepaskan hormon Oksitosin dan Endorfin yang menciptakan perasaan tenang dan bahagia. Moderasi dalam hubungan sosial adalah upaya menjaga "Homeostasis Sosial"—titik keseimbangan di mana kita tidak menjadi egois yang hanya menuntut hak, namun juga tidak menjadi pribadi yang dieksploitasi karena abai menjaga hak diri sendiri. Jiwa yang sehat adalah jiwa yang merasa bermakna karena telah menunaikan kewajiban, dan merasa dihargai karena haknya terpenuhi.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan panduan agar kita tegak di atas timbangan keadilan sosial:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ‘
“Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang sepatutnya.” (QS. Al-Baqarah: 228)
أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah)
2. Pelajaran dan Pesan
Karakter moderat (Wasathiyah) dalam sosial berarti Anda harus menjadi orang pertama yang menunaikan kewajiban sebelum menjadi orang yang paling keras menuntut hak. Orang yang mulia tidak akan membiarkan orang lain menderita karena kewajibannya yang terbengkalai. Ingatlah, hak kita seringkali merupakan kewajiban orang lain, dan hak orang lain adalah kewajiban kita. Jika semua orang hanya sibuk menuntut hak tanpa mau menoleh pada kewajiban, maka struktur sosial kita akan runtuh dalam egoisme.
Teringat kisah Khalifah Umar bin Khattab yang memikul sendiri karung gandum untuk seorang janda miskin yang kelaparan. Ketika pengawalnya ingin membantu, Umar menolak sambil menangis dan berkata, "Apakah kamu mau memikul dosaku di hari kiamat kelak?" Umar menyadari bahwa memberikan bantuan itu bukan sekadar "kebaikan tambahan", melainkan kewajiban seorang pemimpin yang jika abai, maka ia telah merampas hak rakyatnya. Keindahan hubungan sosial lahir ketika pemimpin merasa sebagai pelayan, dan rakyat merasa terlindungi haknya.
Keseimbangan hak dan kewajiban itu ibarat Dua Roda Sepeda. Roda belakang adalah kewajiban (yang mendorong maju), dan roda depan adalah hak (yang mengarahkan kenyamanan). Jika Anda hanya punya roda depan (menuntut hak terus), sepeda tidak akan pernah jalan. Jika roda belakang berputar terlalu kencang tanpa roda depan yang benar, Anda akan terjatuh. Hanya dengan kedua roda yang berputar seimbang, perjalanan hidup Anda akan sampai ke tujuan dengan selamat dan nyaman.
Ada seorang suami yang sangat vokal menuntut haknya. "Istriku, ingat dalilnya, kamu harus taat dan melayaniku!" teriaknya. Istrinya tersenyum manis sambil menyodorkan kertas belanja dan tagihan listrik, "Benar suamiku sayang, itu kewajibanku. Tapi ingat juga dalilnya, suami wajib memberi nafkah yang cukup dan memperlakukan istri dengan makruf. Ini daftar kewajibanmu, sudah ditunggu Pak RT dan tukang sayur di depan!" Si suami langsung pura-pura pingsan. Hikmahnya: Jangan fasih menghafal hak sendiri tapi mendadak "amnesia" kalau bicara soal kewajiban. Agama itu seimbang, bukan hanya milih yang enak-enak saja!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, Moderasi dalam hubungan sosial adalah kunci ketenangan hidup bermasyarakat. Mari kita jadikan menunaikan kewajiban sebagai hobi, dan menerima hak sebagai rezeki yang disyukuri. Dengan begitu, tidak akan ada kebencian yang tumbuh, karena setiap orang merasa dihargai dan setiap beban merasa dipikul bersama.
"Ya Allah, bimbinglah kami agar menjadi pribadi yang ringan dalam menunaikan kewajiban, dan jadikanlah kami pribadi yang qana'ah dalam menerima hak-hak kami."Amin ya Rabbal 'Alamin.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie