Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Secara sosiologis, manusia adalah makhluk yang saling terhubung (interconnected). Kita tidak bisa hidup dalam isolasi total. Lawan dari Wasathiyah dalam hubungan antarmanusia adalah dua kutub ekstrem yang merusak tatanan sosial. Di satu sisi, ada Fanatisme Buta yang menolak semua hubungan dengan non-muslim seolah-olah mereka bukan manusia yang punya hak. Di sisi lain, ada sikap Melebur Akidah atas nama toleransi, di mana seseorang menganggap semua agama sama hingga mengorbankan prinsip iman sendiri. Wasathiyah mengajarkan kita untuk memiliki "Tembok yang Kokoh" dalam akidah, namun memiliki "Pintu yang Terbuka Lebar" dalam urusan sosial dan kemanusiaan.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِي الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْ
"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari kampung halamanmu..." (QS. Al-Mumtahanah: 8)
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun: 6)
2. Pelajaran dan Pesan
Toleransi yang sejati bukan berarti menjadi sama, melainkan menghargai perbedaan tanpa harus kehilangan jati diri. Menjadi muslim yang baik berarti menjadi tetangga yang baik bagi siapa pun. Kita bisa berbagi makanan, berbagi tawa, dan bekerja sama dalam urusan dunia, tanpa harus menggadaikan satu sujud pun kepada selain Allah. Inilah martabat seorang mukmin.
Suatu ketika, sebuah iring-iringan jenazah lewat di depan Rasulullah SAW dan beliau pun berdiri sebagai bentuk penghormatan. Sahabat di sampingnya berbisik, "Wahai Rasulullah, itu adalah jenazah seorang Yahudi." Rasulullah SAW menjawab dengan kalimat yang sangat menyentuh hati, "Bukankah dia juga seorang manusia (alaisa nafsan)?" Di sini kita belajar bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh menghapus rasa kemanusiaan kita. Di mata Tuhan, setiap jiwa punya kehormatan dalam takdir penciptaan-Nya.
Hubungan sosial itu ibarat Bertamu ke Rumah Orang. Saat Anda bertamu, Anda harus sopan, menghargai tuan rumah, dan bisa makan bersama di meja yang sama. Namun, itu tidak berarti Anda harus mengganti nama Anda menjadi nama tuan rumah atau mengakui bahwa sertifikat rumah itu adalah milik Anda. Anda tetap "Anda", tapi Anda bisa bersahabat dengan "Dia". Itulah keindahan hidup berdampingan.
Ada seseorang yang saking "tolerannya", saat temannya yang berbeda agama merayakan hari raya di tempat ibadah mereka, dia ikut-ikutan melakukan ritualnya. Temannya bingung dan bertanya, "Lho, kok kamu ikut sembahyang cara kami?" Dia menjawab dengan bangga, "Ini namanya toleransi tanpa batas, Bro!" Temannya menjawab, "Bro, itu bukan toleransi, itu namanya kamu sedang bingung mau jadi siapa. Kalau kamu ikut kami, nanti pas jam makan siang saya mau minta jatah nasi kebuli kiriman dari masjidmu, masa kamu juga mau bagi ke saya?" Hikmahnya: Toleransi itu jangan sampai membuat kita "hilang arah", cukup hargai dengan senyuman, bukan dengan kehilangan iman.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , lawan dari Wasathiyah adalah kebencian yang fanatik atau pencampuran akidah yang fatal. Mari kita jadikan Islam sebagai agama yang ramah, bukan yang marah. Kita tetap teguh pada Laa ilaha illallah, namun tangan kita tetap ringan membantu sesama tanpa memandang warna kulit maupun agama. Semoga Allah menjaga lurusnya iman kita di tengah warna-warni dunia.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie