Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Secara epistemologi hukum, syariat Islam diturunkan dengan Maqashid (tujuan) untuk menjaga kemaslahatan manusia. Lawan dari Wasathiyah dalam syariat adalah dua kutub ekstrem. Pertama, Kaku Tekstual (Zhahiri), yaitu mereka yang memuja teks secara harfiah tanpa memahami ruh dan konteksnya, sehingga agama terasa menyesakkan dan puritan. Kedua, Bebas Liberal, yaitu mereka yang terlalu mendewakan akal hingga membuang nash-nash yang pasti (qath'i) atas nama modernitas. Wasathiyah adalah titik temu yang indah: kita patuh pada teks, namun cerdas dalam memahami konteks. Syariat adalah rahmat, bukan beban yang mematikan nalar.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu..." (QS. Al-Baqarah: 185)
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
"Apa yang aku larang bagimu maka jauhilah, dan apa yang aku perintahkan kepadamu maka kerjakanlah semampu kalian." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Syariat diturunkan untuk memanusiakan manusia. Jika cara kita beragama membuat kita kehilangan rasa empati atau justru membuat kita melanggar batas-batas kemanusiaan, maka ada yang perlu diperbaiki dalam pemahaman kita. Jadilah hamba yang taat pada aturan Tuhan tanpa harus kehilangan akal sehat dan kelembutan hati.
Di zaman Umar bin Khattab ra., terjadi tahun kelaparan yang sangat hebat (Aamur Ramadah). Secara tekstual, hukuman bagi pencuri adalah potong tangan. Namun, Umar melihat konteks: banyak orang mencuri karena terpaksa demi menyambung hidup. Umar tidak kaku tekstual; beliau menangguhkan hukuman tersebut karena memahami ruh syariat adalah keadilan dan perlindungan jiwa. Beliau mengajarkan kita bahwa hukum Tuhan bukan untuk menindas yang lemah, tapi untuk menjamin kesejahteraan universal.
Syariat itu ibarat Rel Kereta Api. Tanpa rel, kereta akan berjalan liar dan akhirnya hancur (liberal tanpa batas). Namun, rel juga harus dirawat dan disesuaikan dengan kontur tanah agar kereta bisa melaju dengan nyaman dan sampai ke tujuan. Jika rel itu dipasang secara kaku tanpa melihat kondisi jalan yang berbelok atau menanjak (kaku tekstual), kereta itu akan anjlok. Wasathiyah adalah memastikan kereta iman kita tetap di atas rel, namun tetap bisa melaju menyesuaikan zaman.
Ada seseorang yang saking kaku tekstualnya, dia membaca hadis bahwa "setiap bid'ah itu sesat". Suatu hari dia menolak naik pesawat untuk pergi haji. Dia berkata, "Zaman Nabi ke Mekkah naik unta, naik pesawat ini bid'ah!" Temannya menyahut, "Betul Akhi, tapi kalau begitu, jangan pakai mikrofon kalau adzan, jangan pakai kacamata kalau baca Quran, dan satu lagi: kalau mau ke Mekkah naik unta sekarang, jangan-jangan untanya yang stres lihat macetnya jalan raya!" Hikmahnya: Jangan campur adukkan antara cara beribadah dengan alat-alat kehidupan. Syariat itu memudahkan, bukan membuat kita kembali ke zaman batu.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , beragama dengan cerdas adalah dengan tidak menjadi ekstrem. Jangan mengabaikan teks syariat demi mengikuti hawa nafsu liberal, namun jangan pula membeku dalam tekstualisme yang menutup mata dari realitas kemanusiaan. Ambillah jalan tengah yang kokoh dalam prinsip, namun luwes dalam penerapan. Semoga Allah membimbing kita di atas shirathal mustaqim.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie