Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Secara eksistensial, manusia adalah entitas ganda: makhluk tanah yang butuh materi (jasad) dan makhluk langit yang butuh energi suci (ruh). Lawan dari Wasathiyah dalam hal ini adalah ketidakseimbangan kronis. Di satu sisi ada Rahbaniyah, yaitu sikap antipati terhadap dunia yang menganggap kemiskinan dan isolasi sebagai satu-satunya jalan menuju Tuhan. Di sisi lain ada Materialisme, yang memuja benda hingga menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Secara psikologis, mengabaikan dunia akan membuat kita menjadi beban bagi orang lain, sedangkan memuja dunia akan membuat kita merasa haus yang tak pernah usai. Wasathiyah adalah seni meletakkan dunia di tangan sebagai alat, bukan di hati sebagai tujuan.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

رَبَّنَآ اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201)

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

"Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau menjadi lemah (malas)." (HR. Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Jadilah orang kaya yang hatinya tetap bersujud, atau jadilah orang sederhana yang jiwanya tetap mulia. Moralitas Wasathiyah mengajarkan bahwa harta yang paling berkah adalah harta di tangan orang saleh yang digunakan untuk kemaslahatan. Jangan tinggalkan dunia ini dalam keadaan tangan kosong dari amal, tapi jangan pula tinggalkan akhiratmu demi mengejar angka-angka di saldo rekening yang tak akan dibawa mati.

Teringat kisah Abdurrahman bin Auf ra., sahabat Nabi yang sangat kaya raya. Suatu hari ia menangis saat hendak berbuka puasa dengan hidangan yang lezat. Beliau teringat Mush'ab bin Umair ra. yang gugur dalam keadaan hanya memiliki satu helai kain; jika kepalanya ditutup kakinya terlihat, jika kakinya ditutup kepalanya terlihat. Abdurrahman menangis karena takut "jatah" nikmat akhiratnya sudah diberikan semua di dunia. Meski kaya, hatinya tidak terikat pada dunia. Beliau menggunakan hartanya untuk membiayai dakwah dan menyantuni ribuan orang. Itulah puncak keseimbangan: kaya secara materi, namun tetap miskin (merasa butuh) di hadapan Allah.

Kehidupan ini ibarat Seseorang yang Menyeberangi Lautan dengan Perahu. Perahu itu adalah dunia (materi), dan tujuannya adalah daratan seberang (akhirat). Jika Anda tidak punya perahu (Rahbaniyah), Anda akan tenggelam kelelahan berenang. Namun, jika perahu itu bocor dan air laut masuk ke dalam perahu (Materialisme merasuk ke hati), perahu itu akan tenggelam juga. Wasathiyah adalah memastikan perahu Anda kuat dan melaju cepat di atas air, tanpa membiarkan airnya masuk ke dalam ruang kemudi Anda.

Ada seseorang yang saking "zuhud" dan anti-dunia, dia tidak mau bekerja dan hanya berdoa di masjid. Saat anaknya menangis minta susu, dia bilang, "Sabar nak, dunia ini fana, susu itu hanya titipan." Istrinya yang cerdas menyahut, "Bang, susu memang titipan, tapi malaikat maut tidak akan menitipkan susu di depan pintu kalau abang tidak bergerak ke pasar! Abang ini mau jadi wali atau mau jadi pengangguran syariah?" Hikmahnya: Tawakal itu adalah kaki yang melangkah dan tangan yang bekerja, dibarengi dengan hati yang berserah.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia , jangan jadi "biarawan" yang memutus hubungan dengan dunia, dan jangan jadi "pemuja materi" yang buta akan akhirat. Jadilah hamba yang profesional di kantornya, namun syahdu di atas sajadahnya. Gunakan duniamu untuk membeli akhiratmu. Itulah Wasathiyah yang sesungguhnya.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie