Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Dalam psikologi spiritual, jiwa manusia membutuhkan ritme yang stabil. Jika jiwa dipaksa untuk terus-menerus melakukan beban ibadah di luar batas kemampuannya (Ghuluw), ia akan mengalami kelelahan mental (spiritual burnout) yang berujung pada kebosanan atau bahkan kebencian terhadap ibadah tersebut. Sebaliknya, jika jiwa dibiarkan terlalu longgar dan meremehkan kewajiban (Taqsir), ia akan kehilangan kompas moral dan menjadi gersang. Wasathiyah dalam ibadah adalah ilmu tentang "dosis" yang tepat; seperti obat, jika berlebihan menjadi racun, jika kurang tidak akan menyembuhkan.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Ma'idah: 87)
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
"Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah seseorang memperberat agama (melampaui batas) melainkan agama itu akan mengalahkannya (ia akan lelah sendiri)." (HR. Bukhari)
2. Pelajaran dan Pesan
Ketulusan dalam beragama tidak dilihat dari seberapa "ekstrem" kita bertindak, melainkan seberapa konsisten (istiqamah) kita dalam kesederhanaan. Jangan sampai karena ingin terlihat sangat suci, kita justru menyiksa diri dan mengabaikan hak-hak kemanusiaan. Namun, jangan pula karena alasan "kemudahan agama", kita justru menggadaikan kewajiban demi kesenangan duniawi yang semu.
Pernah suatu ketika Rasulullah SAW masuk ke dalam masjid dan melihat seutas tali terbentang di antara dua tiang. Beliau bertanya, "Tali apa ini?" Para sahabat menjawab, "Ini tali milik Zainab. Jika ia merasa lelah atau lemas dalam shalatnya, ia bergantung pada tali itu." Rasulullah SAW pun memerintahkan, "Lepaskan tali itu! Hendaklah kalian shalat di saat segar. Jika merasa lelah, maka tidurlah." Betapa indahnya Islam; Tuhan tidak menginginkan kita tersiksa, Dia hanya menginginkan kita mencintai-Nya dengan cara yang wajar dan penuh kesadaran.
Ibadah itu ibarat Menanam Pohon. Jika Anda memberi air terlalu banyak (berlebihan/Ghuluw), akar pohon itu akan membusuk dan mati. Namun, jika Anda jarang menyiramnya (meremehkan/Taqsir), pohon itu akan layu dan kering. Menjadi Wasath berarti menyiram secukupnya setiap hari agar pohon iman itu tumbuh rindang dan berbuah manis.
Ada seseorang yang saking inginnya "khusyuk" dan menghindari "bid'ah" secara berlebihan, dia tidak mau memakai jam tangan saat shalat karena zaman Nabi tidak ada jam tangan. Akhirnya, dia selalu terlambat berjamaah karena hanya mengandalkan perasaan melihat matahari. Temannya menegur, "Lho, kenapa telat terus?" Dia menjawab, "Saya ingin murni mengikuti sunnah tanpa alat modern." Temannya tertawa, "Akhi, Nabi itu menyuruh kita tepat waktu, bukan menyuruh kita jadi ahli astronomi dadakan setiap mau shalat! Pakai jamnya, jemput pahalanya!"
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, beribadahlah dengan penuh semangat, namun jangan melampaui batas (Ghuluw) hingga menciptakan aturan baru yang memberatkan. Dan jangan pula menjadi hamba yang lalai (Taqsir) hingga merobohkan tiang-tiang agama. Jalan tengah adalah jalan keselamatan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang proporsional dalam mengabdi kepada-Nya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie