Beliau lahir saat bumi Makkah gemetar oleh derap langkah pasukan Abrahah. Peristiwa ini adalah isyarat ilahi bahwa Ka'bah akan segera dibersihkan. Allah mengabadikannya dalam firman-Nya:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
"Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?" (QS. Al-Fil: 1)
Cahaya di Tengah Keheningan Mekkah
Mekkah kala itu bukan sekadar kota yang gersang, melainkan cermin dari jiwa-jiwa yang sedang kehausan akan makna. Di tengah pekatnya masa Jahiliyah, langit seolah menahan napas menanti sebuah janji lama yang akan segera tunai, sebagaimana doa Nabi Ibrahim AS ribuan tahun sebelumnya:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ
"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Baql) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka." (QS. Al-Baqarah: 129)
Lalu, tibalah fajar itu—Senin, 12 Rabiul Awal di Tahun Gajah. Lahirlah Muhammad bin Abdullah. Rasulullah ﷺ sendiri pernah bersabda mengenai hari kelahirannya:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
"Itu adalah hari (Senin) di mana aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku." (HR. Muslim)
Kegembiraan Abdul Muthalib: Fajar Kegembiraan di Pelataran Ka'bah
Ketika fajar menyingsing di sudut kota Mekkah, sebuah kabar menyelinap masuk ke relung hati Abdul Muthalib. Utusan Aminah datang membawa berita yang bukan sekadar kabar kelahiran cucu biasa, melainkan hembusan angin sejuk bagi jiwa sang pemimpin Quraisy yang telah lama merindu.
Detak Jantung Sang Kakek
Mendengar kabar itu, Abdul Muthalib bergegas dengan langkah yang ringan, seolah beban usianya luruh seketika. Di pelukannya, ia mendekap sang bayi yatim dengan kasih sayang yang meluap. Bayi itu adalah pelipur lara atas kepergian putranya, Abdullah, sekaligus cahaya baru bagi silsilah Bani Hasyim.
Ritual Syukur di Jantung Suci
Tanpa menunda, ia membawa sang bayi menuju Ka'bah. Di hadapan Baitullah yang sunyi namun agung, ia berdiri dengan penuh ketundukan:
- Doa yang Mengangkasa: Ia mengangkat tangannya, melangitkan syukur kepada Allah atas anugerah yang tak ternilai.
- Persembahan Jiwa: Di tempat paling suci itu, ia memohon perlindungan bagi sang cucu dari segala marabahaya zaman.
Sebuah Nama, Sebuah Visi: "Muhammad"
Di tengah adat bangsa Arab yang gemar mengulang nama-nama leluhur, Abdul Muthalib membuat keputusan yang menggetarkan lisan masyarakat saat itu. Ia menyematkan nama Muhammad. Nama ini terdengar asing dan penuh teka-teki. Ketika kerabatnya bertanya mengapa ia tidak memilih nama nenek moyang mereka, sang kakek menjawab dengan keyakinan yang tajam: "Aku ingin ia menjadi sosok yang terpuji—dipuji oleh penduduk bumi dan disanjung oleh penghuni langit."
Hal ini selaras dengan janji Allah dalam Al-Qur'an:
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
"Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu." (QS. Al-Insyirah: 4)
Keberkahan di Balik Kesederhanaan
Mekkah saat itu menjadi saksi sebuah kontradiksi yang indah. Secara materi, keluarga ini hidup dalam garis kesederhanaan. Namun, sejak tangisan pertama sang bayi membelah udara, aroma keberkahan mulai tercium. Kelak, Rasulullah ﷺ menggambarkan hakikat keberadaan dirinya:
أَنَا دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبُشْرَى عِيسَى
"Aku adalah doa ayahku Ibrahim dan kabar gembira yang disampaikan Isa." (HR. Ahmad)
Masa itu adalah pembuka tabir bagi sejarah besar manusia. Meski hanya beralaskan kesederhanaan, namun setiap sudut rumah mereka seolah disinari oleh cahaya yang kelak akan mengubah wajah dunia selamanya.
Abu Sultan Al-Qadrie