Setelah wafatnya Aminah di Al-Abwa, Muhammad kecil dibawa kembali ke Mekah oleh Ummu Aiman. Di sana, beliau disambut oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dengan kasih sayang yang melampaui kecintaannya kepada anak-anaknya sendiri.
1.Kasih Sayang yang Istimewa
Abdul Muthalib menyadari ada keagungan pada diri cucunya. Salah satu bukti penghormatannya adalah ketika beliau mendudukkan Muhammad di atas dipannya di naungan Ka'bah, seraya berkata kepada anak-anaknya yang lain:
"Biarkan cucuku ini, demi Allah, sesungguhnya ia akan memiliki kedudukan yang besar."
2. Wafatnya Sang Pelindung (Abdul Muthalib)
Kebahagiaan di bawah naungan sang kakek hanya berlangsung selama dua tahun. Saat Nabi Muhammad ﷺ menginjak usia 8 tahun, Abdul Muthalib wafat dalam usia sekitar 82 tahun. Kepergian ini menjadi pukulan berat ketiga bagi Nabi setelah kehilangan ayah dan ibunya.
Wasiat Pengasuhan
Sesaat sebelum wafat, Abdul Muthalib menyerahkan amanah pengasuhan Muhammad kepada putranya, Abu Thalib. Pilihan ini didasari karena Abu Thalib adalah saudara kandung sekandung (seayah dan seibu) dengan Abdullah, ayahanda Nabi.
3. Landasan Tekstual: Al-Qur'an, Hadis, dan Syair
Untuk memperdalam pemahaman spiritual dan historis atas peristiwa ini, berikut adalah rujukan teks aslinya:
A. Isyarat dalam Al-Qur'an
Allah SWT mengingatkan kembali fase yatim piatu ini dalam Surah Ad-Duha untuk menunjukkan bahwa Allah-lah yang menjaga beliau secara langsung:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ
"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?"( QS – Adh-Dhuha:8)
B. Hadis Nabi Mengenai Kasih Sayang kepada Anak Yatim
Pengalaman pribadi beliau sebagai yatim piatu membentuk empati yang luar biasa, sebagaimana disabdakan dalam hadis riwayat Al-Bukhari:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَىٰ وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
"Aku dan orang yang mengasuh anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini," kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya serta agak merenggangkan keduanya.
C. Syair Kedukaan atas Wafatnya Abdul Muthalib
Ibnu Hisyam mencatat bahwa putri-putri Abdul Muthalib meratapi kematian ayah mereka. Salah satunya adalah Atikah binti Abdul Muthalib yang menggubah syair menyentuh:
أَعَيْنِيَّ جُودَا وَلَا تَبْخَلَا ... بِدَمْعٍ حَثِيثٍ مَنِ النَّائِلِ عَلَى مَنْ هُوَ الْغَيْثُ فِي الْمُحْوِجِيـنَ ... وَلَيْسَ بِغُمْرٍ وَلَا مَائِلِ
"Wahai mataku, meneteslah dengan dermawan dan janganlah bakhil, dengan air mata yang deras mengalir... demi dia (Abdul Muthalib) yang bagaikan hujan bagi orang-orang yang membutuhkan, dia bukanlah orang bodoh dan tidak pula menyimpang."
4. Analisis Hikmah: Tarbiyah Ilahiyah
Kehilangan bertubi-tubi figur pelindung manusia (Ayah, Ibu, lalu Kakek) merupakan skenario langit untuk membentuk pribadi Rasulullah ﷺ.
|
Aspek |
Penjelasan Mendalam |
|
Kemandirian Jiwa |
Memutus ketergantungan pada sebab-sebab duniawi, sehingga sandaran utama hanyalah Allah. |
|
Kemurnian Tauhid |
Mencegah tuduhan bahwa ajaran beliau adalah hasil didikan atau doktrinasi orang tua/kakek. |
|
Empati Sosial |
Menjadikan beliau pemimpin yang memiliki kepekaan rasa terhadap penderitaan strata sosial terendah. |
Abu Sultan Al-Qadrie