Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dirahmati Allah, di era globalisasi hari ini, batas-batas negara seolah runtuh. Peluang untuk hijrah, bekerja, dan menetap di negara-negara maju dan sekuler semakin terbuka lebar. Banyak di antara kita yang matanya berbinar-binar ketika melihat tawaran kemewahan fasilitas di sana: vila yang megah, kolam renang yang jernih, jaminan sosial yang mapan, serta pundi-pundi gaji yang tinggi.
Namun, di balik gemerlapnya semua fasilitas fisik tersebut, sering kali kita lupa menghitung ongkos spiritualnya. Banyak orang tua yang tergiur dengan "surga dunia" di negeri asing, namun tanpa sadar mereka sedang menukar masa depan ideologi, akidah, dan keimanan anak-anak mereka. Mereka membiarkan mutiara hati mereka tumbuh dalam lingkungan yang rawan mengikis nilai-nilai Islam hingga terlepas dari iman.
Padahal, tugas utama seorang kepala keluarga di hadapan Allah SWT adalah membangun benteng perlindungan akidah bagi keluarganya. Mari kita tadaburi firman Allah SWT yang sangat tegas ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At-Tahrim: 6)
Tanggung jawab ini adalah amanah berat yang akan dipertanyakan di mahkamah akhirat kelak. Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadis yang sangat mendalam:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Dan seorang laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Pesan moral yang sangat tinggi dari sunnatullah ini adalah: Nilai iman anak tidak bisa ditukar dengan mata uang asing mana pun. Orang yang bijaksana (shahibul hikmah) akan selalu meletakkan keselamatan akidah anak-cucunya di atas kurva pertumbuhan ekonomi dan kariernya. Jika sebuah lingkungan—sehebat apa pun fasilitasnya—mengancam identitas keislaman generasi penerusnya, maka membatalkan perjalanan atau memilih pulang ke tanah air adalah sebuah kemenangan spiritual yang sejati.
Ada sebuah kisah nyata yang sangat menyentuh hati tentang seorang dokter spesialis asal dunia Islam yang sukses besar di Amerika Serikat. Ia memiliki karier yang cemerlang, rumah mewah yang dilengkapi kolam renang, dan lingkungan elite yang sangat nyaman. Kehidupan dunianya bisa dikatakan sempurna.
Suatu sore, ia pulang ke rumah dan mendapati anak laki-lakinya yang beranjak remaja sedang bersiap-siap menghadiri pesta sekolah. Sang anak berargumen dengan gaya hidup bebas khas barat, mempertanyakan mengapa ia harus terikat dengan aturan-aturan halal-haram yang menurutnya sudah "ketinggalan zaman". Malam itu, sang dokter tidak bisa memejamkan mata. Di dalam keheningan sepertiga malam, ia bersujud sambil menangis tersedu-sedu.
Ia menyadari sebuah kebenaran yang menampar jiwanya: "Aku berhasil menyembuhkan ribuan fisik orang asing di negeri ini, tapi aku sedang perlahan-lahan membunuh jiwa dan akidah anak kandungku sendiri."
Keesokan harinya, sebuah keputusan mengejutkan diambil. Ia mengundurkan diri dari rumah sakit, menjual rumah mewahnya dengan harga murah, membatalkan seluruh rencana jangka panjangnya di sana, dan memboyong keluarganya pulang ke tanah air yang fasilitasnya jauh lebih sederhana. Rekan-rekan sejawatnya menganggapnya gila dan merugi. Namun dengan air mata berlinang penuh kelegaan, ia memeluk anaknya di bandara dan berbisik, "Ayah rela kehilangan kemewahan Amerika, asal Ayah tidak kehilangan dirimu di akhirat kelak."
Bayangkan Anda adalah seekor induk ikan. Anda diberi pilihan untuk menempatkan anak-anak Anda di dalam sebuah akuarium kristal yang sangat mewah. Di akuarium itu ada lampu hias yang berkilau, gelembung air yang estetik, dan makanan instan yang bertaburan setiap jam. Namun, air di dalam akuarium itu perlahan-lahan dicampuri oleh zat kimia yang bisa merusak insang dan genetik ikan-ikan muda tersebut.
Di sisi lain, ada sebuah danau alami di tengah desa. Airnya agak keruh oleh lumpur, tidak ada lampu warna-warni, dan untuk mencari makan harus bersusah payah berenang di antara tanaman air. Tetapi, air danau itu murni, sehat, dan menjaga kehidupan ikan hingga tumbuh besar secara alami.
Induk ikan yang cerdas pasti akan membawa anak-anaknya ke danau alami, bukan membiarkan mereka sekarat di dalam akuarium kristal yang beracun. Begitulah analogi tempat tumbuh kembang anak; jangan penjarakan akidah mereka di dalam "akuarium mewah" negeri asing yang meracuni jiwa.
Kita ini kadang suka lucu dan gengsian. Banyak orang tua yang kalau arisan atau kumpul keluarga, bangganya setengah mati menceritakan anaknya: "Aduh jeng, anak saya sekarang sudah menetap di luar negeri. Fasilitas apartment-nya mewah, ada kolam renangnya, jalannya mulus, dan kalau bicara sudah cas-cis-cus pakai bahasa sana, sudah tidak cocok lagi tinggal di kampung!"
Tapi giliran ditanya: "Wah hebat ya jeng, lalu kalau subuh anak jeng bangun shalat tidak? Di sana makannya terjamin halal tidak? Masih ingat cara wudhu?"
Si ibu langsung batuk-batuk kering sambil mengalihkan pembicaraan, "Aduh... kalau soal itu, yang penting kan hatinya baik jeng, lagipula di sana kan modern."
Ini namanya pola pikir "sukses bungkus". Kita bangga anak kita bisa menyeberangi samudra dunia, tapi kita santai saja saat tahu anak kita tidak bisa menyeberangi jembatan shirat al-mustaqim karena akidahnya keropos. Buat apa anak kita fasih berbahasa asing dan punya view kolam renang di kamarnya, kalau di akhirat nanti dia menuntut kita di hadapan Allah karena membiarkannya tumbuh tanpa mengenal sujud? Jangan sampai demi gaya hidup "kebarat-baratan", pas kita mati nanti, anak kita malah bingung bagaimana cara menyhalatkan jenazah orang tuanya!
3. Kesimpulan dan Penutup
Sahabat sekalian,fasilitas dunia yang mewah adalah fatamorgana jika ia dibangun di atas runtuhnya tembok keimanan generasi kita. Rumah yang megah di negeri asing akan terasa seperti penjara yang membakar jika di dalamnya lahir anak-anak yang asing dari Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. Kepahlawanan kita sebagai orang tua diuji pada keberanian untuk berkata "tidak" pada kemewahan dunia demi berkata "ya" pada keselamatan iman keluarga.
Mari kita jaga mutiara-mutiara titipan Allah ini. Biarlah mereka hidup di tanah air yang sederhana, biarlah mereka mandi di sungai yang biasa, asalkan azan tetap menggema di telinga mereka dan sujud tetap menjadi pemandangan harian mereka. Karena aset terbesar seorang mukmin bukanlah tabungan dolar di bank asing, melainkan anak shaleh yang tangannya menengadah mendoakan kita saat kita sudah terbujur kaku di dalam kubur.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie