Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dirahmati Allah, ketika kita melihat fenomena kemiskinan, kelaparan, atau kekeringan melanda suatu wilayah, sering kali tebersit bisikan keliru di dalam hati: "Apakah Allah tidak mampu memberi rezeki yang cukup bagi mereka?"
Secara ilmiah sains dan wahyu, pandangan itu sama sekali tidak benar. Cadangan energi, air, dan sumber daya rezeki yang Allah tebarkan di alam semesta ini sangat melimpah ruah tanpa batas.
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan di sisi Kamilah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu." (QS. Al-Hijr: 21)
Lantas, mengapa terjadi pembatasan rezeki? Itu bukanlah tanda kelemahan Allah, melainkan sebuah instrumen pendidikan, disiplin, dan manajemen Ilahi. Allah menakar rezeki hamba-Nya dengan sangat presisi agar manusia tidak menjadi sombong, melampaui batas, dan merusak bumi ini.
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
"Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 27)
Ingatlah, hidup di dunia ini adalah tentang ujian pilihan waktu. Saat kematian menjemput, tirai gaib akan dibuka paksa. Semua manusia, termasuk orang paling ingkar dan zalim seperti Firaun sekalipun, mendadak akan tersadar dan mampu melihat kebenaran akhirat dengan sangat tajam.
لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi matamu), maka penglihatanmu pada hari ini amat tajam." (QS. Qaf: 22)
Namun, keimanan di saat maut menjemput sudah tidak ada gunanya lagi. Orang yang beriman sejati adalah mereka yang memilih untuk percaya dan taat sebelum semuanya terlambat. Sebab, di akhirat nanti, setiap manusia harus memikul tanggung jawab pribadinya secara mutlak. Bahkan, setan yang dahulu rajin menggoda kita pun akan berlepas tangan dan menolak untuk disalahkan. Hal ini terekam jelas dalam khotbah setan yang paling memilukan:
وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ
"Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri...'" (QS. Ibrahim: 22)
Maka benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang mulia:
فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ
"...Maka barangsiapa yang mendapati kebaikan (pada hari kiamat), hendaklah ia memuji Allah; dan barangsiapa yang mendapati selain dari itu (keburukan), maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri." (HR. Muslim No. 2577)
2. Pelajaran dan Pesan
Ujian duniawi berupa kesempitan hidup bukanlah bentuk kebencian Allah, melainkan rem darurat agar jiwa kita tidak terseret ke dalam jurang kesombongan. Dunia adalah tempat menanam, bukan tempat memanen hasil. Belajarlah untuk mengambil tanggung jawab penuh atas setiap keputusan moral yang kita ambil hari ini, dan berhentilah mencari alasan atau menyalahkan makhluk lain atas dosa yang kita lakukan secara sadar.
Mari kita bayangkan suasana di padang mahsyar kelak, ketika jutaan manusia berdiri dengan penuh ketakutan menanti giliran sidang hisab. Di sudut kerumunan itu, tampak seorang manusia yang tertunduk lesu, menangis darah meratapi tumpukan dosa maksiatnya semasa di dunia. Tiba-tiba, ia melihat sosok makhluk hitam legam yang dahulu selalu membisikkan kemalasan dan syahwat di telinganya. Dengan amarah yang meluap, manusia ini berteriak, "Ini semua gara-gara kamu! Kamu yang menjerumuskan aku ke dalam neraka ini!" Namun, makhluk itu—sang setan—hanya menatapnya dengan dingin dan tertawa mengejek, lalu membacakan khotbahnya yang paling kejam: "Aku tidak punya remote kontrol untuk menggerakkan tubuhmu. Aku hanya membisikkan ajakan, dan kamu sendiri yang melangkah dengan sukarela. Sekarang, jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri!" Sungguh sebuah penyesalan yang terlambat dan menyayat hati, ketika manusia menyadari bahwa ia telah menukar surga yang abadi dengan kesenangan semu, dan kini tidak ada satu pun makhluk yang bisa dijadikan tempat bersandar atau berbagi beban dosa.
Mari kita buat sebuah tamsilan sederhana. Iman di dunia itu ibarat kita membeli tiket kereta api saat masih berada di dalam stasiun. Membeli tiket di loket resmi, membayar dengan tertib, lalu naik ke atas gerbong adalah sebuah pilihan yang sangat cerdas. Sekarang, bayangkan ada seseorang yang sombong. Dia menolak membeli tiket, menerobos palang pintu, lalu nekat melompat ke atas atap kereta yang sedang berjalan cepat. Ketika kereta sudah melaju kencang dan hampir sampai di stasiun tujuan, tiba-tiba petugas pemeriksa datang. Di saat moncong kereta sudah terlihat mau berhenti, orang ini dengan panik berteriak sambil menyodorkan uang, "Pak! Pak! Saya mau beli tiket sekarang, Pak! Saya percaya sekarang kereta ini ada petugasnya!" Kira-kira apa jawaban petugas? Tentu petugas akan menjawab dengan jenaka namun tegas, "Maaf Bos, loket penjualan tiket sudah tutup semenjak kereta ini berangkat tadi! Sekarang bukan waktunya beli tiket, sekarang waktunya Anda turun dan menerima denda!"
Hikmahnya: Firaun dahulu mencoba membeli "tiket keimanan" di saat-saat terakhir hidupnya, ketika ombak laut merah sudah menggulung lehernya. Kacamata batinnya dibuka paksa oleh maut, ia melihat kebenaran, lalu menyatakan beriman. Namun sayang, kereta kehidupan sudah sampai di stasiun akhir. Waktunya sudah habis dan tiketnya ditolak mentah-mentah! Maka, jadilah orang cerdas yang membeli tiket iman selagi loket umur kita masih dibuka oleh Allah hari ini.
3. Kesimpulan Dan Penutup
Saudara yang berbahagia, kesempitan rezeki di dunia adalah bentuk kasih sayang Allah sebagai instrumen disiplin agar hamba-Nya tidak melampaui batas. Ingatlah bahwa iman adalah masalah pilihan waktu; percaya sebelum melihat adalah kemuliaan, sedangkan percaya setelah tirai maut dibuka adalah kesia-siaan yang menghasilkan penyesalan abadi. Di akhirat kelak, tidak ada ruang untuk saling menyalahkan, karena setiap jiwa memikul rapornya masing-masing
Mari kita jadikan setiap ujian kekurangan di dunia ini sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan tunggu esok hari untuk bertaubat, karena kita tidak pernah tahu apakah esok hari kita masih memegang kemudi ikhtiar, ataukah mata kita sudah dibuka paksa oleh malaikat maut. Semoga Allah menjauhkan kita dari penyesalan di akhir masa.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie