Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Dalam hukum alam (sunnatullah) yang berlaku pada dunia flora, fauna, maupun benda mati, nilai satu satuan makhluk selalu bersifat linier dan homogen. Satu liter air tidak akan pernah memiliki fungsi logistik setara satu juta liter air. Satu ekor domba atau sebatang pohon kelapa nilainya ya tetap satu, tidak bisa menggantikan peran satu juta domba atau satu juta pohon lainnya.

Namun, ada satu pengecualian hukum eksklusif yang hanya Allah berikan kepada spesies bernama manusia. Secara antropologis dan spiritual, manusia dibekali potensi ruhani, kedalaman akal, tekad (himmah), dan visi yang membuatnya tidak bisa dinilai secara kuantitas fisik belaka. Ketika seorang manusia berhasil mengoptimalkan potensi hikmah dan iman di dalam dirinya, bobot eksistensinya melonjak drastis. Satu orang manusia yang berkualitas, secara nilai, efektivitas, dan pengaruh, bisa melampaui atau setara dengan satu juta manusia atau makhluk lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan pemuliaan eksklusif terhadap penciptaan manusia ini di dalam Al-Qur'an:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. Al-Isra': 70)

Keistimewaan kuantitatif yang kalah oleh kualitas spiritual satu orang ini juga digambarkan secara gamblang oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadis sahih:

إِنَّمَا النَّاسُ كَالْإِبِلِ الْمِائَةِ لَا تَكَادُ تَجِدُ فِيهَا رَاحِلَةً

"Sesungguhnya manusia itu bagaikan seratus ekor unta, yang hampir saja engkau tidak mendapati di antaranya satu ekor pun yang layak menjadi kendaraan pilihan (yang kuat dan cerdas)." (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan moral yang sangat mendalam dari hukum eksklusif ini adalah panggilan untuk keluar dari zona medioker (biasa-biasa saja). Kita tidak diciptakan hanya untuk menjadi sekadar angka dalam statistik kependudukan dunia. Jangan biarkan diri kita hidup tanpa arah, karena setiap individu di antara kita memiliki peluang untuk menjadi "Manusia Pilihan" (Rahilah)—yaitu satu orang yang kehadirannya menjadi tumpuan harapan, pembawa solusi, dan penentu sejarah kebaikan bagi satu juta orang di sekelilingnya.

Mari kita tengok lembaran sejarah pasca-bencana atau konflik besar di berbagai belahan dunia. Sungguh menyedihkan melihat suatu kaum yang berjumlah ratusan ribu, bahkan jutaan orang, tiba-tiba menjadi layu, putus asa, dan kehilangan arah ketika mereka kehilangan sosok pemimpin atau guru yang menjadi ruh perjuangan mereka.

Sebaliknya, betapa mengharukan ketika kita melihat dalam sebuah peristiwa musibah, muncul satu orang saja yang memiliki keteguhan hati raksasa. Di saat semua orang menangis dan menyerah, satu orang ini berdiri tegak, menghapus air matanya, lalu mulai menggerakkan tangannya untuk membangun kembali puing-puing yang hancur. Satu orang yang memiliki visi dan ketulusan itu mampu menyuntikkan energi harapan ke dalam dada sejuta orang yang hampir mati kelaparan batin. Ketika satu orang itu wafat, getaran kesedihannya dirasakan oleh seisi bumi, seolah-olah sejuta manusia ikut berkabung bersamanya.

Mari kita umpamakan eksistensi manusia ini seperti angka nol (0) dan angka satu (1). Jika kita mengumpulkan satu juta angka nol, lalu kita berbaris sejajar di sebuah lapangan, maka nilai total dari sejuta angka nol tersebut tetaplah nol besar—tidak ada harganya, tidak memiliki daya tawar.

Tetapi, coba datangkan satu orang yang berkualitas, satu orang yang memiliki integritas, iman, dan keahlian nyata. Tempatkan angka "1" ini di depan barisan sejuta angka nol tadi. Seketika itu juga, keberadaan angka satu mengubah deretan nol yang tadinya tidak berharga menjadi angka jutaan, miliaran, bahkan tak terhingga nilainya. Menjadi manusia berkualitas berarti menjadi angka "1" yang memberi nilai dan martabat bagi lingkungan di sekelilingnya.

Terkait konsep "satu orang setara sejuta makhluk" ini, ada sebuah anekdot tentang seorang pemuda yang salah memahami teori ini karena terlampau percaya diri. Pemuda ini malas belajar, malas bekerja, dan kerjanya hanya melamun di gardu kampung.

Suatu hari, dia membaca quotes motivasi yang berbunyi: "Satu orang yang jenius bisa menggantikan pekerjaan sejuta orang bodoh."

Dengan dada membusung, dia mendatangi ketua RT dan berkata, "Pak RT, mulai besok jangan masukkan nama saya di jadwal ronda malam atau kerja bakti kampung. Saya ini termasuk tipe manusia langka yang satu orang setara dengan sejuta makhluk!"

Pak RT yang bijak dan humoris tersenyum lebar lalu menjawab, "Oh, begitu ya? Kebetulan sekali. Mulai bulan depan, dana bantuan sosial untukmu akan saya setarakan juga dengan hukum sejuta makhluk." Pemuda itu girang, "Wah, maksudnya saya dapat bantuan sejuta kali lipat, Pak?" Pak RT menggeleng, "Bukan. Maksudnya, jatah beras bantuanmu yang satu karung itu, mulai besok harus kamu bagi rata dengan satu juta semut di halaman rumahmu. Kan kamu setara!"

Hikmahnya: Menjadi manusia yang setara dengan sejuta makhluk itu diukur dari besarnya kontribusi dan manfaat yang kita berikan, bukan dari besarnya ego dan rasa malas kita!

3. Kesimpulan Dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, sebagai kesimpulan, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mendesain manusia dengan cetakan yang sangat mulia. Kita tidak dinilai dari kuantitas fisik, warna kulit, atau jumlah harta, melainkan dari bobot kualitas nilai yang ada di dalam dada dan amal nyata kita. Satu orang yang bertakwa, berilmu, dan ikhlas, bobotnya di timbangan Allah jauh lebih berat daripada bumi dan seisinya yang dipenuhi oleh manusia-manusia yang lalai.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengangkat derajat kita, menjauhkan kita dari menjadi bagian "angka nol" yang tak berarti, dan membentuk diri kita menjadi hamba-hamba pilihan (Al-Rahilah) yang mampu memancarkan hikmah serta menggerakkan sejuta kebaikan di alam semesta ini.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie