Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang dirahmati Allah, sering kali tanpa sadar kita merasa bahwa ibadah, salat, dan sedekah yang kita lakukan adalah untuk "membantu" Allah, atau menganggap bahwa ketaatan kita memberikan keuntungan bagi-Nya. Sungguh, itu adalah cara pandang yang keliru. Allah SWT adalah Al-Ghani—Zat Yang Maha Kaya dan Maha Mandiri, yang sama sekali tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya.

Secara ilmiah keimanan, ketaatan seluruh penduduk bumi tidak akan pernah menguntungkan Allah, dan maksiat sejagat raya pun tidak akan pernah merugikan-Nya sedikit pun. Allah menciptakan makhluk murni bukan karena kesepian atau butuh pelayanan, melainkan bersumber dari sifat kasih sayang-Nya untuk mengalirkan kebahagiaan kepada makhluk tersebut. Hal ini digambarkan dengan sangat bergetar dalam sebuah hadis qudsi yang panjang:

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا

"Wahai hamba-Ku, kalau seandainya orang-orang pertama di antara kalian sampai orang-orang terakhir, baik manusia maupun jin, semuanya berada pada tingkat ketakwaan yang paling tinggi dari salah seorang di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-Ku, kalau seandainya orang-orang pertama di antara kalian sampai orang-orang terakhir, baik manusia maupun jin, semuanya berada pada tingkat kedurhakaan yang paling buruk dari salah seorang di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun." (HR. Muslim No. 2577)

Lebih dari itu, kekayaan Allah itu mutlak tanpa batas. Bayangkan, jika seluruh makhluk dari awal penciptaan hingga hari kiamat berdiri di satu tempat lapang, lalu semuanya meminta apa saja yang mereka inginkan, dan Allah mengabulkan seluruh permintaan itu saat itu juga, kekayaan Allah tidak berkurang. Rasulullah SAW melanjutkan dalam hadis qudsi yang sama:

مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

"...hal itu tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Ku, melainkan seperti sebatang jarum yang dimasukkan ke dalam lautan (lalu diangkat kembali)." (HR. Muslim )

2. Pelajaran dan Pesan

Kesadaran akan sifat Al-Ghani menuntut kita untuk mengikis habis sifat sombong dan merasa berjasa dalam beragama. Ketika kita beribadah, sadarilah bahwa kita sedang menolong diri kita sendiri, bukan sedang menolong Allah. Hiduplah dengan penuh ketundukan dan rasa butuh (faqir) yang mutlak hanya kepada-Nya, karena sejatinya kita tidak memiliki apa-apa tanpa pemberian-Nya.

Mari kita renungkan kisah menyayat hati tentang seorang anak yang tega membentak dan mengusir ibunya karena sang anak merasa sudah sukses, kaya raya, dan merasa mampu membiayai kebutuhan hidup ibunya sendiri. Sang anak dengan congkak berkata, "Ibu tidak usah mengatur hidupku lagi! Aku sudah dewasa, aku sudah mandiri, uangku sudah banyak untuk hidup!" Mendengar itu, sang ibu menangis tersedu-sedu, bukan karena takut kehilangan uang anaknya, melainkan karena perih melihat kesombongan anaknya yang lupa bahwa dulu ia terlahir telanjang, lemah, dan menyusu dari tubuh ibunya. Begitulah analogi manusia kepada Allah SWT. Betapa menyedihkan saat seorang hamba yang baru diberi harta melimpah atau jabatan tinggi, tiba-tiba menjadi malas salat, enggan sujud, dan merasa bisa mengatur hidupnya sendiri tanpa melibatkan aturan Allah. Kita lupa, bahwa detak jantung dan embusan napas kita setiap detiknya adalah "subsidi gratis" dari Allah yang Maha Kaya.

Mari kita buat tamsilan yang jenaka namun penuh hikmah. Ada seekor semut kecil yang tinggal di sudut gudang beras milik seorang saudagar terkaya di sebuah kota. Suatu hari, dengan gaya yang sangat formal dan penuh percaya diri, si semut ini menghadap ke pengelola gudang dan berkata, "Pak, tolong dicatat ya. Mulai hari ini, saya akan makan dua butir beras dari gudang ini setiap hari. Saya harap konsumsi saya yang sangat besar ini tidak sampai membuat perusahaan bapak bangkrut dan gulung tikar!" Kira-kira apa reaksi pengelola gudang? Tentu dia akan tertawa terpingkal-pingkal. Jangankan dua butir beras, seandainya si semut membawa jutaan koloninya untuk makan sepuasnya di gudang itu selama sepuluh tahun, pemilik gudang tidak akan melarat, bahkan tidak akan menyadari kalau berasnya berkurang!

Hikmahnya: Kita ini jauh lebih kecil di hadapan Allah daripada semut itu di hadapan gudang beras. Jadi, jika Anda punya masalah besar, butuh biaya besar, atau memiliki impian yang sangat tinggi, jangan pernah ragu untuk meminta kepada Allah. Bagi kita itu urusan raksasa, tapi bagi Allah yang Maha Kaya, mengabulkan seluruh doa kita itu jauh lebih ringan daripada saudagar beras yang kehilangan dua butir beras akibat dimakan semut!

3. Kesimpulan Dan Penutup

Allah adalah Al-Ghani, Zat yang Maha Mandiri dan tidak butuh pada ketaatan kita. Ibadah yang kita lakukan adalah sarana yang Allah sediakan agar kita bisa hidup bahagia dan selamat di dunia maupun akhirat. Di sisi lain, kekayaan Allah begitu samudra tanpa tepi, maka mintalah apa saja kepada-Nya dengan penuh keyakinan dan ketawadhuan.

Mari kita perbaiki niat ibadah kita hari ini. Kita melangkah ke masjid, bersedekah, dan membaca Al-Qur'an karena kita miskin pahala dan sangat butuh pada rahmat-Nya. Semoga Allah SWT senantiasa mengaruniakan kekayaan hati kepada kita agar selalu merasa cukup dengan apa yang Dia berikan.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie