Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dicintai Allah, Di dunia modern ini, kita sering mengukur kecerdasan seseorang berdasarkan skor IQ, deretan gelar akademik, atau kelihaiannya dalam membaca peluang bisnis. Namun, pernahkah kita merenungkan bagaimana Islam mengukur definisi "orang cerdas" yang sesungguhnya? Secara ilmiah spiritual, kecerdasan hakiki (spiritual intelligence) adalah kemampuan manusia untuk mempersiapkan masa depan yang paling pasti: yaitu kematian dan kehidupan setelahnya.
Orang yang cerdas dan bijaksana adalah mereka yang menggunakan setiap detak jantungnya untuk mengumpulkan bekal secara konsisten. Mereka menanam takwa dan takut kepada Allah, sehingga saat malaikat maut datang menjemput, mereka tidak menyambutnya dengan histeria penyesalan, melainkan dengan senyuman kesiapan.
Mari kita simak sabda Rasulullah SAW ketika beliau ditanya tentang siapakah orang beriman yang paling utama dan paling cerdas:
أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلْمَوْتِ وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
"Orang yang paling banyak mengingat kematian dan orang yang paling baik persiapannya untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka itulah orang-orang yang cerdas." (HR. Ibnu Majah no. 4259)
Sebaliknya, alangkah ruginya orang-orang yang tertipu oleh fatamorgana dunia. Mereka menghabiskan waktu untuk menumpuk harta haram, melakukan kezaliman, dan merasa aman dari azab Allah, seolah-olah ajal tidak akan pernah mengetuk pintu rumah mereka. Allah SWT berfirman tentang orang-orang yang lengah ini:
فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّىٰ يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ
"Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang diancamkan kepada mereka." (QS. Az-Zukhruf: 83)
2. Pelajaran dan Pesan
Pernah ada sebuah kisah nyata yang menggetarkan hati tentang seorang pengusaha sukses yang sangat dikagumi karena kekayaannya. Ia baru saja menyelesaikan pembangunan rumah mewahnya yang bak istana, lengkap dengan sistem keamanan tercanggih. Pada malam peresmian rumah itu, saat para tamu undangan pulang, ia duduk di sofa ruang tamunya yang megah, tersenyum bangga memandangi asetnya. Namun, malam itu juga, serangan jantung tiba-tiba menyerang. Ia terjatuh ke lantai, merangkak sendirian tanpa ada yang mendengar, dan mengembuskan napas terakhir di atas lantai marmer yang mahal. Rumah mewah yang ia bangun bertahun-tahun bahkan belum sempat ia tiduri satu malam pun. Ia pergi menghadap Tuhannya dalam keadaan tangan kosong, meninggalkan semua kemewahan yang langsung menjadi rebutan ahli warisnya.
Mari kita ibaratkan hidup ini seperti seorang mahasiswa yang masuk ke dalam ruang ujian nasional. Waktu ujiannya hanya 60 menit. Mahasiswa yang cerdas akan langsung fokus memegang pena, membaca soal dengan teliti, dan menjawabnya satu per satu demi mengejar nilai kelulusan.
Sedangkan mahasiswa yang bodoh, ia justru sibuk mengagumi keindahan meja ujiannya, sibuk berfoto selfie dengan kertas soal, bahkan asyik mengobrol dan merundung temannya. Ketika pengawas berteriak, "Waktu habis, kumpulkan lembar jawaban!", mahasiswa bodoh ini baru tersadar bahwa kertas jawabannya masih kosong melompong. Kematian adalah teriakan "Waktu Habis!" dari malaikat maut.
Lucunya kelakuan kita sebagai manusia modern, tingkat persiapan kita sering kali terbalik. Kalau mau pergi liburan ke luar kota atau luar negeri seminggu saja, persiapannya bisa berbulan-bulan sebelumnya. Beli baju baru, bikin paspor, pesan hotel, bahkan sampai beli powerbank cadangan biar handphone tidak mati di jalan.
Tapi anehnya, untuk sebuah perjalanan panjang ke alam barzakh—yang durasinya bisa ribuan tahun dan tidak ada jalan untuk pulang—kita sering kali santai-santai saja. Tidak punya "bekal" apa-apa, tapi pede-nya minta ampun. Pas ditanya, "Sudah siap mati belum?", jawabannya, "Gampang, nunggu tua dulu." Memangnya ada jaminan dari malaikat maut kalau antrean cabut nyawa itu pakai nomor urut umur? Kan kocak, mengira malaikat maut kalau mau datang harus kirim pesan WhatsApp dulu!
3. Kesimpulan dan Penutup
Sahabat sekalian, marilah kita ubah standar kecerdasan kita mulai hari ini. Orang cerdas bukan lagi dia yang paling lihai menumpuk dunia, melainkan dia yang paling lihai memanfaatkan dunianya untuk membeli rida Allah di akhirat kelak. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari pembuktian apakah kita hidup sebagai orang yang bijaksana atau orang yang merugi.
Mari kita konsisten memperbaiki amalan harian kita, menjauhi kezaliman, dan selalu mengondisikan hati agar siap kapan pun waktu ujian kita dinyatakan habis oleh-Nya.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie