Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1 . Pembukaan

Pernahkah Anda melihat orang yang benar-benar kuat, berwibawa, dan kaya raya, tetapi dia sibuk menjegal, memfitnah, atau mencuri sepotong roti milik pengemis di pinggir jalan? Tentu tidak. Mengapa? Karena orang yang benar-benar di atas, tidak butuh menginjak yang di bawah.

Mari kita perbaiki cara pandang kita tentang kehidupan. Sering kali ketika ujian datang bertubi-tubi, bisikan setan membuat kita merasa tertindas oleh takdir. Padahal, dalam landasan tauhid yang murni, sifat menindas dan berbuat zalim itu hanyalah milik makhluk yang lemah. Allah Maha Kuasa, dan mustahil bagi-Nya berbuat zalim kepada kita.

Secara psikologis dan ilmiah, perilaku menindas (oppressive behavior), konspirasi, kecurangan, dan pukulan yang kejam sebenarnya tidak pernah lahir dari kekuatan nyata. Justru sebaliknya, perilaku tersebut adalah kompensasi dari sifat-sifat negatif seperti kelemahan, ketakutan, dan kepengecutan.

Lihat saja dalam panggung geopolitik dunia: negara yang merasa terancam atau takut kehilangan pengaruhnya akan menjatuhkan bom secara pengecut, lalu melarikan diri di balik tameng diplomasinya. Makhluk berbuat zalim karena mereka butuh mempertahankan sesuatu, takut kekurangan, atau ingin merebut hak orang lain demi menutupi kelemahan mereka sendiri.

Bagaimana dengan Allah? Allah SWT berada di puncak kemahakuasaan, Maha Kaya (Al-Ghaniy), dan sama sekali tidak membutuhkan apa pun dari alam semesta beserta isinya. Karena Allah tidak memiliki ketakutan akan kehilangan apa pun, maka secara rasional dan logika murni, mustahil bagi Allah untuk berbuat zalim atau merugikan hamba-Nya sedikit pun.

Mari sejukkan jiwa kita dengan merenungi ayat tentang betapa Allah sama sekali tidak untung dengan menyiksa makhluk-Nya:

مَّا يَفْعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَءَامَنتُمْ وَكَان ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

"Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nisa': 147)

Jika suatu kaum atau seorang manusia dihancurkan atau ditimpa malapetaka, itu murni karena akumulasi dosa dan kezaliman mereka sendiri yang telah melampaui batas, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

"Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya bertindak melakukan perbaikan." (QS. Hud: 117)

Rasulullah SAW juga menegaskan kesucian Allah dari sifat zalim ini melalui sebuah hadis qudsi yang sangat masyhur:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi." (HR. Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita renungkan kisah tentang sebuah kota kuno yang subur dan makmur. Penduduknya hidup bergelimang harta, namun hati mereka membatu. Mereka menindas kaum dhuafa, mencurangi timbangan, dan mengusir para janda miskin dari tanah-tanah mereka. Selama bertahun-tahun, kaum tertindas menangis di sudut-sudut gelap kota, meratapi nasib di bawah bayang-bayang kesombongan para penguasa kota tersebut.

Hingga suatu malam, ketika kota itu sedang berpesta pora dalam kemaksiatan, tanah di bawah mereka mendadak berguncang hebat, diikuti suara gemuruh dari langit yang meruntuhkan istana-istana megah mereka dalam hitungan detik. Esok paginya, kota yang sombong itu berubah menjadi kuburan massal yang sunyi dan menyedihkan.

Dunia luar mungkin melihatnya sebagai "bencana alam yang kejam". Namun, bagi jiwa yang bertauhid, itu adalah kuitansi keadilan yang telah jatuh tempo. Allah tidak menzalimi mereka; Allah hanya menghentikan tangan-tangan zalim mereka agar tidak terus-menerus memproduksi air mata bagi orang-orang lemah.

Mari kita buat tamsilan yang agak menggelitik logika kita. Bayangkan ada seorang raja diraja yang menguasai seluruh cadangan emas di dunia, memiliki ribuan pabrik mobil mewah, dan menguasai seluruh pasokan makanan di bumi.

Suatu hari, sang raja turun ke jalan, lalu dengan sengaja menjegal kaki seorang anak kecil yang sedang memegang es krim murah seharga lima ribu rupiah sampai es krimnya jatuh ke tanah. Setelah itu sang raja tertawa puas dan lari ketakutan.

Kalau Anda melihat kejadian itu, apa yang Anda katakan? Anda pasti akan tertawa dan berkata, "Raja gila! Kurang kerjaan! Masa raja sekaya itu masih sirik dan takut sama es krim anak kecil?"

Begitulah tamsilannya. Allah adalah Pemilik langit, bumi, dan seluruh perbendaharaan alam semesta. Logika dari mana yang mengatakan Allah sengaja "menzalimi" dan mempersulit hidupmu karena Dia ingin merebut kebahagiaanmu? Allah tidak butuh es krimmu! Jika hari ini hidup kita terasa sempit, jangan-jangan kita sendiri yang sedang menyempitkannya dengan dosa-dosa kita, lalu dengan ringannya kita menuduh takdir Allah yang kejam.

3. Kesimpulan dan Penutup

Sahabat sekalian, landasan tauhid mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah SWT. Ketahuilah bahwa setiap ketetapan-Nya, baik berupa nikmat maupun ujian yang berat, tidak pernah didasari oleh motif ingin menindas atau menyakiti hamba-Nya. Sifat menindas hanya lahir dari makhluk yang kerdil, lemah, dan takut kehilangan.

Mulai hari ini, mari berhenti mengutuk nasib atau merasa menjadi korban ketidakadilan Tuhan. Ketika ujian menyapa, katakan pada diri sendiri: "Allah Maha Kaya, Allah Maha Kuasa, mustahil Dia menyakitiku tanpa ada hikmah besar di baliknya. Ini pasti karena dosaku, atau karena Allah sedang membersihkan jalanku." Kembalilah bersujud, perbaiki hubungan dengan-Nya, dan biarkan kemahakuasaan-Nya menuntun hidupmu menuju akhir cerita yang penuh berkah.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie