Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, sering kali semangat seorang anak atau sebuah lembaga untuk maju terbentur oleh dinding tebal bernama ketidakpedulian sosial. Lingkungan sekitar yang tidak mendukung, budaya yang menganggap sekolah tidak penting, atau tradisi yang menjauhkan generasi muda dari majelis ilmu adalah hambatan eksternal yang nyata. Secara ilmiah dalam sosiologi perubahan sosial (social change theory), sebuah lingkungan tidak akan berubah budayanya secara drastis dari atas ke bawah, melainkan harus disentuh dari bawah melalui gerakan edukasi berbasis komunitas. Solusi dari hambatan ini adalah mengedukasi masyarakat melalui ceramah-ceramah pendek dan kajian kecil yang konsisten. Ketika para tokoh, pemuda, dan orang tua dikumpulkan dalam kajian santai untuk disadarkan tentang pentingnya ilmu bagi masa depan dunia dan akhirat mereka, perlahan-lahan persepsi kolektif masyarakat akan bergeser dari acuh tak acuh menjadi pelindung bagi para penuntut ilmu.
Islam mengajarkan bahwa kewajiban berdakwah dan mengedukasi umat harus dimulai dari lingkungan terdekat, melalui pendekatan yang menyentuh hati dan bertahap.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang perintah untuk memberikan peringatan dan edukasi yang bermanfaat bagi jiwa manusia:
وَذَكِّرْ فَإِنَّ ٱلذِّكْرَىٰ تَنفَعُ ٱلْمُؤْمِنِينَ
"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Az-Zariyat: 55)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga menegaskan bahwa usaha mengedukasi satu orang saja di tengah masyarakat agar mendapatkan hidayah ilmu, nilainya jauh lebih berharga daripada kekayaan duniawi:
فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
"Demi Allah, demi sesungguhnya jika Allah memberi petunjuk kepada seorang pria dengan perantaraanmu, itu jauh lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta-unta merah (kekayaan yang paling mewah)." (HR. Bukhari)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita bayangkan sebuah kampung kecil pasca-ujian ekonomi dan bencana yang berat. Di sana, anak-anak mudanya setiap malam hanya duduk berkumpul di tepi jalan, merokok, dan larut dalam gawai tanpa arah. Orang tua mereka pun membiarkannya, seraya berkata, "Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya jadi pengangguran juga." Suasana kampung itu terasa mati rasa, gelap dari pancaran ilmu, dan masa depannya tampak suram. Ada rasa sedih yang mendalam melihat hilangnya harapan dari wajah-wajah generasi muda itu.
Namun, keadaan mulai berubah haru ketika seorang ustadz atau penggerak pemuda setempat menolak untuk menyerah. Beliau tidak memarahi mereka, melainkan menggelar tikar sederhana di teras masjid, menyeduh beberapa gelas kopi hangat, lalu mengundang para orang tua dan pemuda dalam sebuah kajian kecil yang santai.
Dengan suara yang bergetar penuh kasih sayang, beliau menyampaikan, "Bapak-bapak, anak-anak kita ini adalah mutiara. Jika kita tidak mengajari mereka ilmu hari ini, siapa yang akan mendoakan kita di alam kubur nanti? Siapa yang akan membangun kembali desa kita ini?" Mendengar kalimat yang tulus itu, seorang bapak tua yang hadir di pojok tikar tertunduk dan mulai terisak menangis. Ia tersadar bahwa selama ini telah menelantarkan jiwa anaknya. Sejak malam itu, kajian kecil tersebut menjadi titik balik; masyarakat sepakat bergotong-royong mendukung anak-anak mereka kembali mengaji dan belajar.
Sahabat, analoginya seperti tanah semenanjung yang kering kerontang, keras, dan pecah-pecah karena lama tidak diguyur hujan. Jika kita langsung menyiramkan air satu ember besar sekaligus ke atas tanah keras itu, airnya tidak akan meresap. Air itu hanya akan mengalir lewat begitu saja di permukaan, atau bahkan menciptakan lumpur yang kotor, sementara bagian dalam tanah tetap kering.
Bagaimana cara melembutkannya? Tanah yang keras itu harus didekati dengan tetesan air hujan gerimis yang rintik-rintik, namun turun secara terus-menerus tanpa henti. Tetesan demi tetesan yang lembut itu perlahan-lahan akan melunakkan pori-pori tanah yang keras, hingga akhirnya tanah tersebut menjadi gembur, subur, dan siap menumbuhkan benih-benih pohon yang baru.
Edukasi melalui ceramah dan kajian kecil di tengah masyarakat adalah "hujan gerimis yang rintik-rintik" tersebut. Jangan berharap masyarakat langsung berubah total dalam satu malam dengan khutbah yang meledak-ledak. Ketuk hati mereka dengan kelembutan kajian kecil yang konsisten, hingga kekerasan hati dan kaku budayanya meleleh oleh sejuknya siraman ilmu.
Ada kisah jenaka tentang seorang ustadz yang baru pertama kali mengadakan kajian kecil di pos ronda sebuah kampung yang masyarakatnya hobi main domino hingga larut malam. Agar mereka mau mendengarkan, sang ustadz membawa sekotak kue dan ikut duduk di samping papan domino.
Saat jeda permainan, sang ustadz berkata, "Bapak-bapak, tahu tidak, di dalam hadis disebutkan bahwa orang yang menuntut ilmu itu jalannya akan dimudahkan menuju surga. Nah, kalau orang yang setiap malam begadang tanpa ilmu, kira-kira jalannya dimudahkan ke mana?"
Seorang warga yang sedang memegang kartu domino menjawab sambil terkekeh, "Kalau kami sepertinya jalannya dimudahkan menuju ke dapur rumah orang, Ustadz, buat minta kopi gratis!"
Seluruh warga di pos ronda tertawa terpingkal-pingkal. Sang ustadz ikut tersenyum lalu menimpali, "Boleh minta kopi, tapi besok malam kopinya kita pindahkan ke teras masjid ya, sambil kita belajar cara menghitung warisan agar harta kita berkah." Warga pun mengangguk setuju sambil tersenyum malu. Hikmahnya sangat dalam: mengedukasi masyarakat tidak harus selalu kaku di atas mimbar tinggi. Pendidik yang bijak tahu kapan harus turun ke level masyarakat, berbicara dengan bahasa mereka, dan menyelipkan mutiara ilmu di sela-sela tawa mereka.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, hambatan eksternal berupa dinginnya dukungan budaya masyarakat tidak akan pernah selesai jika kita hanya merutuk dan mengeluh. Solusi nyatanya adalah dengan mengambil langkah aktif: turun ke bawah dan edukasi masyarakat melalui ceramah serta kajian-kajian kecil yang menyentuh hati. Mari hidupkan kembali majelis-majelis ilmu di tingkat RT, di pos warga, atau di teras-teras rumah. Ketika masyarakat memahami bahwa ilmu adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat bagi keluarga mereka, maka lingkungan yang tadinya dingin akan berubah menjadi benteng pendukung utama yang melahirkan generasi-generasi beradab dan cerdas.
Mari kita nyalakan lilin-lilin kajian kecil di setiap sudut kampung kita, sampai kegelapan kebodohan sirna berganti cahaya iman.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie