Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, ketika sebuah lembaga pendidikan atau komunitas dihadapkan pada keterbatasan jumlah guru atau ustadz, kita tidak boleh membiarkan proses belajar mandek. Secara ilmiah, khususnya dalam psikologi perkembangan dan teori kognitif sosial, ada sebuah metode yang sangat efektif bernama peer-to-peer learning atau sistem mentorship. Ketika siswa yang lebih senior atau sudah menguasai materi mendampingi adik kelasnya untuk belajar bersama, transfer ilmu justru berjalan lebih organik dan cepat. Mengapa? Karena hambatan psikologis berupa rasa takut atau canggung biasanya sirna ketika seseorang belajar dengan teman sebaya.

Islam telah mempraktikkan konsep mentorship ini sejak masa awal dakwah di kota Madinah melalui sistem Mu'akhah (mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar) untuk saling membimbing dalam kehidupan dan syariat. Solusi dari keterbatasan SDM pengajar adalah dengan menghidupkan ekosistem mentorship: biarkan yang paham menuntun yang belum paham, dan biarkan antar-lembaga saling bertukar santri atau pengalaman untuk maju bersama.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai indahnya persaudaraan kaum mukmin yang saling menguatkan satu sama lain:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damatikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga menegaskan bahwa seorang mukmin sejati harus menjadi cerminan sekaligus pemandu kebaikan bagi saudaranya yang lain:

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ

"Seorang mukmin adalah cerminan bagi mukmin lainnya. Dan seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya; ia menjaga saudaranya dari kerugian dan melindunginya dari belakang." (HR. Abu Dawud)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita bayangkan sebuah madrasah darurat yang hanya memiliki satu orang ustadz untuk mengajar puluhan santri dari berbagai tingkatan. Di sudut ruangan, tampak seorang anak yatim kecil yang baru kehilangan keluarganya akibat ujian hidup yang berat. Ia duduk termenung, kesulitan mengeja huruf-huruf di buku pelajarannya, sementara sang ustadz sedang sibuk mengajar kelompok lain di depan. Anak kecil itu mulai meneteskan air mata, merasa terabaikan dan putus asa karena tidak ada yang membimbingnya.

Namun, pemandangan berubah menjadi sangat mengharukan ketika seorang santri senior—seorang kakak kelas yang usianya hanya terpaut beberapa tahun—mendekat dengan senyuman tulus. Ia duduk di samping anak kecil itu, mengusap pundaknya, lalu berkata, "Adikku, jangan menangis lagi. Mulai hari ini, aku adalah kakakmu, dan aku yang akan menemanimu belajar membaca sampai kamu bisa."

Melihat dua anak itu duduk berdampingan, saling menyimak dan memberi semangat di tengah keterbatasan fasilitas, air mata sang ustadz pun ikut meleleh di depan kelas. Sistem mentorship bukan sekadar memindahkan ilmu, melainkan sedang menjahit kembali hati yang sempat patah melalui kasih sayang.

Sahabat, analoginya seperti sebuah formasi burung belibis atau angsa yang sedang terbang bermigrasi melintasi samudra. Mengapa mereka bisa menempuh jarak ribuan kilometer tanpa jatuh kelelahan, padahal mereka tidak memiliki mesin penumpas angin? Kuncinya adalah formasi huruf V.

Burung yang paling kuat dan berpengalaman akan terbang di posisi paling depan untuk memecah angin. Hambatan udara di belakangnya menjadi jauh lebih ringan. Burung-burung muda atau yang sedang lelah akan terbang di barisan belakang, memanfaatkan aliran udara dari kepakan sayap kakak-kakaknya di depan. Jika burung yang di depan kelelahan, ia akan mundur ke belakang, dan burung lain akan menggantikannya memimpin di depan.

Sistem mentorship antar-siswa atau antar-lembaga adalah "formasi terbang" tersebut. Kita tidak perlu menunggu satu orang guru menjadi pahlawan yang kelelahan sendirian di depan. Kepakkan sayap ilmu yang kita miliki sekecil apa pun untuk membantu meringankan beban saudara di belakang kita, agar kita semua bisa sampai ke tujuan dengan selamat.

Ada cerita unik di sebuah pondok pesantren yang kekurangan guru bahasa. Sang ustadz menerapkan sistem mentor, di mana santri kamar atas wajib mengajari santri kamar bawah bahasa Arab praktis setiap malam sebelum tidur.

Suatu malam, seorang santri mentor yang sudah sangat mengantuk mengajari adik kelasnya dengan asal-asalan karena ingin cepat tidur. Ia berkata, "Pokoknya rumus cepatnya begini: kalau kata benda kemasukan kata depan 'fi', harakat akhirnya harus kasrah (berbunyi 'i'). Contohnya: fil masjidi."

Sang adik kelas yang kritis bertanya, "Kak, kalau kalimatnya 'Singa itu masuk ke dalam sungai', jadinya bagaimana?" Karena matanya sudah terpejam setengah, sang mentor menjawab, "Jadinya... 'fil sungaii'! Sudah, jangan banyak tanya, singanya juga sudah mengantuk dan mau tidur di dalam sungai!"

Kita tersenyum mendengar kepolosan itu. Namun, hikmah di baliknya sangat dalam: di dalam proses mentorship, baik sang mentor maupun yang dimentori sama-sama dipaksa untuk terus berpikir, belajar, dan mengevaluasi diri. Melalui kedekatan inilah kualitas keilmuan sebuah komunitas akan tumbuh matang bersama tanpa harus merasa digurui.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, keterbatasan Sumber Daya Manusia formal bukanlah dinding mati yang menghentikan laju pendidikan umat. Solusi paling berkah dan mandiri adalah dengan menghidupkan gerakan mentorship dan budaya belajar bersama (peer-learning). Mari didik anak-anak kita yang memiliki kemampuan lebih untuk menjadi kakak asuh bagi adik-adik kelasnya. Mari buka pintu kolaborasi antar-lembaga untuk saling melengkapi kekurangan. Ketika kita saling bergandengan tangan dan menjadi cerminan kebaikan bagi sesama, maka keterbatasan jumlah pengajar akan berubah menjadi ledakan energi persaudaraan yang melahirkan generasi emas yang tangguh.

Mari kita saling menguatkan barisan, terbang bersama menuju rida Allah Subhanahu wa Ta'ala.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie