Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir- Rahim

1. Mukaddimah

Sobat religius yang dicintai Allah, secara psikologis, keinginan seseorang untuk mencari-cari dan menyebarkan kesalahan orang lain sering kali berakar dari rasa rendah diri yang diproyeksikan keluar (projection). Secara ilmiah, jiwa yang sehat adalah jiwa yang memiliki empati tinggi. Ketika kita menutupi aib orang lain, otak kita membangun sirkuit ketenangan dan rasa aman. Jiwa yang tenang tidak butuh menjatuhkan orang lain untuk merasa tinggi. Sebaliknya, menyebarkan skandal hanya akan menciptakan lingkungan sosial yang penuh kecurigaan dan racun bagi kesehatan mental kolektif kita.

2. Uraian

Dalil Al-Qur’an & Hadis

A. Ayat Al-Qur'an (Larangan mencari kesalahan):

وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ

"Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Hujurat: 12)

B. Sabda Rasulullah SAW (Janji bagi penutup aib):

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Artinya: "Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat." (HR. Muslim)

3. Pelajaran dan Pesan

Orang beriman adalah Sattar (penyembunyi aib), sedangkan orang yang fasik adalah penyingkap skandal. Jangan menjadi "detektif" untuk kesalahan saudaramu. Bertanya "Di mana dia tinggal?" atau "Siapa namanya?" hanya untuk mempermalukannya adalah tindakan yang menjauhkanmu dari rahmat Allah. Ingatlah, kehormatan seorang mukmin lebih suci di mata Allah daripada Ka'bah. Jika Allah saja menutup aibmu yang begitu banyak, mengapa engkau begitu bersemangat membuka aib hamba-Nya yang lain?

Bayangkan seseorang yang baru saja terjatuh dalam kesalahan dan ia sangat menyesal. Ia bertaubat dengan air mata yang tulus di tengah malam. Lalu, di pagi hari, ada seseorang yang dengan sengaja menyebarkan beritanya ke media sosial atau ke telinga tetangga, hingga semua orang memandangnya dengan hina. Betapa hancurnya hati orang tersebut. Namun, bayangkan jika saat itu ia bertemu dengan seorang Mukmin sejati yang merangkulnya, menutup aibnya, dan berkata, "Urusanmu dengan Allah sudah selesai, marilah kita melangkah maju." Tindakan menutupi aib ini bisa menjadi sebab seseorang kembali ke jalan Allah, dan bagi pelakunya, itu adalah tabungan agar aibnya sendiri tidak dibongkar Allah di hadapan seluruh makhluk di Padang Mahsyar nanti.

Hidup kita ini ibarat sebuah rumah tua yang penuh dengan noda dan retakan di dinding bagian dalam. Allah, dengan kasih sayang-Nya, memberikan "cat keindahan" di dinding bagian luar sehingga orang lain melihat rumah kita tampak indah dan kokoh. Menyebarkan aib orang lain ibarat Anda pergi ke rumah tetangga untuk mengelupas cat dindingnya agar semua orang melihat retakannya, sementara Anda lupa bahwa cat di rumah Anda sendiri pun sangat tipis. Jika Allah ingin "mengelupas" sedikit saja cat penutup aibmu, niscaya engkau tidak akan sanggup mengangkat kepalamu di depan manus

Kita ini terkadang lucu. Kita bertindak seperti jurnalis "infotainment" gratisan untuk dosa orang lain. Kalau dengar kabar tetangga beli mobil baru, kita bilang "Ah, pamer!". Tapi kalau dengar tetangga jatuh dalam kesalahan, kita mendadak jadi ahli investigasi: "Rumahnya di mana? Nama lengkapnya siapa? Istrinya orang mana?". Kita merasa sedang menegakkan keadilan, padahal kita sedang menumpuk dosa ghibah. Ingat ya, malaikat pencatat amal tidak butuh bantuanmu untuk melaporkan kesalahan orang lain. Urus saja "sampah" di halaman sendiri sebelum sibuk mengomentari "debu" di teras orang lain!

4. Kesimpulan dan Penutup

Saudara-saudari terkasih, bersikaplah lembut. Jadilah orang yang memaafkan dan menutupi. Jangan sampai kita menimbulkan skandal, karena barangsiapa yang mengungkit kesalahan saudaranya, Allah akan mengungkit kesalahannya sendiri sampai ia terhina bahkan di dalam rumahnya sendiri. Mari kita jaga lisan dan jempol kita di media sosial.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kami Muhammad, yang benar dan dapat dipercaya.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie